Inflasi Jatim Meroket 4,88 Persen Tekan Daya Beli, Kunjungan Wisman Turun Tajam Mengancam Pemulihan Ekonomi

Tekanan Harga di Jatim Tembus 4,88 Persen, Kunjungan Wisman Turun Signifikan

Inflasi tahunan di Jawa Timur mencapai 4,88 persen pada Februari, menandai kenaikan tekanan harga yang luas di hampir seluruh sektor pengeluaran masyarakat. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,07, mengindikasikan biaya hidup yang semakin mahal.

Pelaksana Tugas Kepala BPS Jatim, Herum Fajarwati, menyebutkan kenaikan harga terjadi merata di hampir semua kelompok pengeluaran. Hal ini menjadi peringatan dini bahwa daya beli masyarakat bisa makin tertekan jika tren ini berlanjut.

Inflasi Tertinggi dan Terendah Berdasarkan Wilayah

Secara geografis, inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Sumenep dengan angka mencapai 6,37 persen dan IHK 115,44. Sementara Gresik mengalami inflasi paling rendah sebesar 3,96 persen dengan IHK 108,65. Perbedaan ini menunjukkan variasi tekanan harga di dalam wilayah Jawa Timur yang perlu pengawasan lebih detail.

Kelompok Produk dengan Kenaikan Harga Paling Tajam

Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami lonjakan harga sebesar 20,71 persen, jauh melebihi rata-rata inflasi umum. Kenaikan ini berdampak besar pada pengeluaran rumah tangga karena sifatnya kebutuhan pokok.

Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga naik signifikan dengan inflasi mencapai 18,59 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang menjadi kebutuhan utama masyarakat naik 3,84 persen, memberikan tekanan tambahan pada belanja konsumsi.

Kelompok Pengeluaran Lain yang Meningkat dan Turun

Beberapa kelompok lainnya juga menunjukkan kenaikan harga sebagai berikut:

  1. Kesehatan naik 2,20 persen
  2. Pendidikan meningkat 1,88 persen
  3. Transportasi naik 0,87 persen
  4. Restoran meningkat 1,35 persen
  5. Rekreasi dan budaya naik 0,89 persen

Sementara itu, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami penurunan indeks sebesar 0,28 persen, satu-satunya kelompok yang deflasi dalam periode ini.

Menurut Herum, jika lonjakan harga pada sektor perumahan dan jasa tidak dikendalikan, ada risiko penurunan daya beli masyarakat secara signifikan. Ini juga berdampak pada stabilitas ekonomi regional ke depan.

Penurunan Kunjungan Wisatawan Mancanegara Menambah Imbas

Sektor pariwisata di Jawa Timur juga menghadapi tantangan di awal tahun ini. Data BPS menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara melalui Bandara Juanda hanya mencapai 20.548 pada Januari. Jumlah ini menurun jika dibandingkan dengan Desember sebelumnya dan juga lebih rendah daripada periode yang sama tahun lalu.

Penurunan jumlah wisatawan asing ini bisa memperlemah kontribusi sektor pariwisata dalam perekonomian lokal. Diketahui, sektor pariwisata memiliki peran penting dalam menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan daerah.

Kondisi ini diperparah dengan naiknya harga-harga, sehingga pengeluaran masyarakat menjadi lebih berat dan potensi pertumbuhan ekonomi mulai melambat. Pemerintah daerah perlu mengambil langkah cepat dan efektif untuk mengendalikan inflasi serta menggenjot sektor pariwisata agar bisa kembali memberikan dampak positif.

Dengan tekanan inflasi yang makin meningkat dan menurunnya kunjungan wisatawan, Jawa Timur menghadapi tantangan serius dalam menjaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di tengah dinamika global dan regional saat ini.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: memorandum.disway.id

Berita Terkait

Back to top button