Sebanyak 815 desa di Jawa Timur berpotensi mengalami krisis air bersih saat musim kemarau ekstrem melanda wilayah tersebut. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Timur menyebutkan desa-desa itu tersebar di 222 kecamatan pada 26 kabupaten, sehingga risiko gangguan pasokan air tidak hanya terpusat di satu wilayah.
Ancaman itu menguat seiring prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika bahwa musim kemarau berlangsung dari April hingga September, dengan puncak pada Mei hingga Agustus. Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto mengatakan fenomena El Nino diperkirakan lebih kuat dan ekstrem, sehingga suhu menjadi lebih panas dan periode kemarau lebih panjang.
Wilayah rentan dan dampaknya
BPBD Jawa Timur menjelaskan bahwa desa yang paling rentan biasanya bergantung pada tadahan air hujan. Kondisi itu diperparah oleh terbatasnya infrastruktur air bersih, sehingga warga lebih cepat terdampak saat curah hujan menurun.
Risiko krisis air bukan hanya mengganggu kebutuhan rumah tangga, tetapi juga sektor pertanian. Saat suplai air berkurang, lahan pertanian bisa mengalami penurunan produktivitas dan biaya produksi warga ikut meningkat.
Langkah antisipasi yang disiapkan
BPBD Jawa Timur mulai menyiapkan koordinasi lintas sektor untuk mempercepat penanganan kekeringan. Rapat bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa juga dijadwalkan untuk menyusun langkah konkret agar distribusi bantuan lebih tepat sasaran.
Berikut sejumlah langkah yang disiapkan BPBD untuk mengurangi dampak kekeringan:
- Memprioritaskan distribusi air bersih ke wilayah berisiko tinggi.
- Mengoptimalkan sumber air yang masih tersedia di desa terdampak.
- Membangun tandon air di lokasi yang rawan kekeringan.
- Mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air sejak awal kemarau.
El Nino dan kerentanan pasokan air
El Nino terjadi saat suhu permukaan laut di Samudra Pasifik memanas dan memicu berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah, termasuk Indonesia. Dalam kondisi seperti ini, daerah yang sejak awal memiliki cadangan air terbatas cenderung lebih cepat mengalami tekanan pasokan.
Gatot Soebroto menegaskan kesadaran warga ikut menentukan tingkat keparahan dampak kekeringan. Menurut dia, pengelolaan air yang baik sejak dini dapat membantu menekan risiko krisis air bersih di ratusan desa yang kini masuk kategori rawan.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: surabaya.kompas.com