Wamen PU Perintahkan Darurat Bendung Kedungrejo, 1.554 Hektare Sawah Madiun Terancam

Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti menginstruksikan penanganan darurat terhadap tanggul Bendung Kedungrejo di Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, yang jebol dan rusak berat. Langkah awal difokuskan pada pembersihan sedimentasi serta pembongkaran bagian bangunan yang ambrol agar aliran air sungai bisa kembali diarahkan dengan aman.

Penanganan darurat itu ditargetkan berlangsung sekitar dua minggu. Pemerintah pusat bersama Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo sudah menurunkan puluhan personel, alat berat, dan material ke lokasi untuk mempercepat pekerjaan di bendung yang menjadi andalan irigasi sawah di wilayah setempat.

Langkah darurat difokuskan pada aliran air

Diana menjelaskan, pekerjaan awal harus dilakukan cepat karena kondisi bendung sudah tidak lagi mampu mengendalikan aliran sungai. Sedimentasi yang menumpuk akan dibersihkan terlebih dahulu, lalu bagian bangunan yang rusak akan dihancurkan agar air dapat kembali mengalir sesuai jalur semula.

“Penanganan darurat kita lakukan lebih dulu. Sedimentasi akan dibersihkan, kemudian bagian bangunan yang roboh akan kita hancurkan agar aliran sungai bisa diarahkan kembali. Proses ini diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua minggu,” ujar Diana saat meninjau langsung lokasi bendung yang ambrol.

Kerusakan terjadi bertahap sejak akhir Maret

Bendung Kedungrejo mengalami kerusakan parah setelah tanggul pengendali aliran air ambrol pada Jumat, 27 Maret, lalu disusul longsornya tebing di sekitar bendung pada Selasa, 31 Maret, dini hari. Rangkaian kejadian itu membuat bangunan air tersebut tak lagi optimal menjalankan fungsi pengendalian irigasi.

Diana menyebut Bendung Kedungrejo sebagai bangunan lama yang berdiri sejak 1936 dan baru sekali direnovasi sekitar era 1970-an. Kondisi usia bangunan yang sangat tua dinilai ikut berkontribusi terhadap kerusakan yang terjadi saat ini.

Pasok air untuk lebih dari 1.500 hektare sawah

Kerusakan bendung ini berdampak besar pada sektor pertanian di Madiun. Bendung Kedungrejo selama ini mengairi sekitar 1.554 hektare lahan sawah di Kecamatan Pilangkenceng dan wilayah sekitarnya.

Berikut gambaran dampak dan kebutuhan penanganan yang disorot pemerintah:

  1. Mengamankan aliran sungai agar tidak meluap ke area tak terkendali.
  2. Mengembalikan fungsi irigasi untuk sawah yang bergantung pada bendung.
  3. Menyiapkan pembangunan permanen setelah penanganan darurat selesai.
  4. Menjaga dukungan terhadap produktivitas pertanian dan ketahanan pangan daerah.

Pembangunan permanen disiapkan lewat skema Inpres

Setelah tahap darurat selesai, pemerintah akan mengusulkan pembangunan kembali bendung secara permanen melalui skema Inpres Nomor 2 tahun 2025. Skema itu mengatur percepatan pembangunan, rehabilitasi, serta operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi untuk mendukung swasembada pangan.

Estimasi kebutuhan anggaran sementara untuk pembangunan permanen disebut mencapai sekitar Rp20 miliar. Pemerintah provinsi akan menyiapkan detail engineering design atau DED sebagai dasar teknis pengerjaan lanjutan.

Diana menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten dalam penanganan bendung tersebut. Sinergi itu diperlukan agar aliran air tetap terkendali dan kembali dimanfaatkan untuk irigasi, bukan menimbulkan luapan ke wilayah lain.

Respons cepat pemerintah daerah

Wakil Bupati Madiun Purnomo Hadi mengapresiasi respons cepat pemerintah pusat setelah kerusakan bendung dilaporkan. Pemerintah daerah disebut langsung menyurati BBWS dan kementerian terkait begitu kejadian jebol terjadi karena fungsi bendung dinilai sangat krusial bagi petani.

“Begitu kejadian jebol, kami melalui dinas terkait langsung menyurati BBWS dan kementerian. Alhamdulillah responsnya sangat cepat. Dari tanggal 27 Maret, hari ini 1 April dilakukan peninjauan dengan Bu Wamen PU turun langsung ke lokasi,” kata Purnomo.

Ia menilai perbaikan Bendung Kedungrejo bersifat mendesak karena bendung itu menopang lebih dari 1.500 hektare sawah dan menjadi bagian penting dalam upaya menjaga ketahanan pangan daerah. Saat ini, fokus utama pemerintah adalah memulihkan fungsi bendung secepat mungkin sebelum masuk ke tahap pembangunan permanen.

Dalam peninjauan tersebut, Wamen PU didampingi Wakil Bupati Madiun, jajaran Dinas PU Sumber Daya Air Jawa Timur, serta Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo. Puluhan personel juga terus bekerja di lapangan dengan dukungan peralatan dan material untuk mempercepat penanganan darurat di Bendung Kedungrejo.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: jatim.antaranews.com
Exit mobile version