Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG Kelas I Bandung memprediksi sejumlah wilayah di Jawa Barat mulai memasuki musim kemarau pada April. Prediksi ini muncul dari analisis dinamika atmosfer dan model iklim periode normal 1991-2020 yang menunjukkan awal kemarau bergeser lebih cepat dari kondisi biasa.
BMKG juga menyebut puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus, dengan durasi kemarau yang berkisar 13 hingga 15 dasarian. Kondisi cuaca pada periode ini diperkirakan lebih kering, sehingga pemerintah daerah dan masyarakat diminta menyiapkan langkah antisipatif sejak awal.
Wilayah Jawa Barat yang Masuk Kemarau pada April
Berdasarkan data BMKG yang dikutip dari jabarprov.go.id, ada beberapa wilayah di Jawa Barat yang diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada April. Daftar wilayah tersebut meliputi Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, Indramayu, dan sebagian wilayah Cirebon.
Sebelumnya, sebagian kecil wilayah Bekasi dan Karawang sudah lebih dulu mengalami awal musim kemarau pada Maret. Pola ini menunjukkan bahwa pergeseran musim kering di Jawa Barat terjadi bertahap dari utara ke wilayah lain di provinsi tersebut.
Perluasan Kemarau hingga Wilayah Lain
Memasuki Mei hingga Juni, musim kemarau diprediksi meluas ke sebagian besar wilayah Jawa Barat. Wilayah yang masuk fase ini antara lain Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung Raya, Garut, Sumedang, Tasikmalaya, Pangandaran, Majalengka, Kuningan, Ciamis, hingga Banjar.
BMKG mencatat sekitar 56 persen wilayah Jawa Barat mulai memasuki musim kemarau pada Mei. Artinya, lebih dari separuh wilayah di provinsi ini akan merasakan masa peralihan cuaca kering pada periode tersebut.
Daftar Wilayah dan Perkiraan Awal Kemarau
- Maret: sebagian kecil Bekasi dan Karawang
- April: Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, Indramayu, sebagian Cirebon
- Mei hingga Juni: Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung Raya, Garut, Sumedang, Tasikmalaya, Pangandaran, Majalengka, Kuningan, Ciamis, Banjar
Data itu memperlihatkan bahwa awal musim kemarau di Jawa Barat tidak terjadi serentak. Perbedaan waktu masuk musim ini penting untuk diperhatikan, terutama oleh sektor pertanian dan pengelolaan air daerah.
Prediksi Lebih Kering dari Normal
BMKG memperkirakan sekitar 66 persen wilayah Jawa Barat mengalami awal musim kemarau yang lebih cepat dibandingkan rata-rata klimatologis. Selain itu, sekitar 93 persen wilayah diprediksi menerima curah hujan di bawah normal sepanjang periode ini.
Kondisi tersebut juga diikuti potensi durasi kemarau yang lebih panjang di sekitar 81 persen wilayah Jawa Barat. Durasi yang diperkirakan berkisar 13 hingga 15 dasarian itu dapat menambah tekanan pada ketersediaan air dan aktivitas pertanian.
Dampak yang Perlu Diantisipasi
BMKG mengingatkan adanya sejumlah risiko yang bisa muncul selama musim kemarau berlangsung. Dampaknya antara lain kekeringan meteorologis, berkurangnya pasokan air bersih, gangguan pada sistem irigasi pertanian, dan meningkatnya risiko kebakaran hutan serta lahan.
Untuk menghadapi kondisi ini, BMKG meminta pemerintah daerah memperkuat pengelolaan sumber daya air. Masyarakat, khususnya petani, juga diminta menyesuaikan kalender tanam agar kegiatan produksi tidak terdampak kekeringan berkepanjangan.
Prediksi awal musim kemarau ini dapat menjadi rujukan penting bagi pemda, sektor pertanian, dan warga Jawa Barat dalam menyiapkan langkah mitigasi sejak dini. Dengan pola kemarau yang cenderung lebih cepat dan lebih kering, kesiapsiagaan menjadi kunci untuk menekan dampak cuaca ekstrem di wilayah tersebut.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.kompas.tv