Berdasarkan Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) yang dirilis Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN, mayoritas kabupaten dan kota di Jawa Tengah masuk kategori daerah paling maju di Indonesia. Temuan ini menempatkan Jateng di atas rerata nasional dan memperlihatkan bahwa sejumlah wilayah di provinsi tersebut punya daya saing ekonomi dan sosial yang kuat.
Data yang disampaikan Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah Jateng, Mohamad Arief Irwanto, menunjukkan indeks daya saing nasional berada di angka 3,50, sedangkan Jawa Tengah mencapai 3,87. Angka itu menandakan banyak daerah di Jateng sudah melampaui standar capaian nasional, terutama pada aspek pasar, tenaga kerja, dan penyerapan kesempatan kerja.
Kota di Jateng yang Masuk Kelompok Paling Maju
Arief menyebut beberapa kota di Jawa Tengah mencatat skor tinggi dan masuk kategori kota paling maju di Indonesia. Surakarta memimpin dengan skor 4,43, disusul Semarang dengan 4,37, lalu Magelang dengan 4,29.
Tingginya skor tiga kota tersebut menggambarkan kemampuan daerah dalam menjaga daya saing, mendorong aktivitas ekonomi, dan menyediakan ekosistem yang mendukung mobilitas tenaga kerja. Kondisi itu juga memperlihatkan bahwa kekuatan pembangunan di Jateng tidak hanya terkonsentrasi di satu wilayah, tetapi menyebar ke beberapa pusat pertumbuhan.
Berikut daftar kota yang disebut memiliki skor tinggi dalam IDSD BRIN:
- Surakarta: 4,43
- Semarang: 4,37
- Magelang: 4,29
Kabupaten Juga Tunjukkan Kinerja Tinggi
Selain kota, sejumlah kabupaten di Jawa Tengah juga menunjukkan performa yang kuat dalam indeks tersebut. Kabupaten Semarang mencatat skor 4,03, Klaten meraih 3,86, sementara Karanganyar dan Jepara sama-sama berada di angka 3,85.
Capaian itu memperkuat gambaran bahwa daya saing Jateng tidak hanya tumbuh di kawasan perkotaan, tetapi juga di daerah kabupaten yang memiliki basis industri, perdagangan, dan tenaga kerja aktif. BRIDA Jateng menilai kontribusi pasar dan ketersediaan tenaga kerja menjadi faktor penting yang mengangkat posisi provinsi ini.
Faktor yang Mendorong Daya Saing Jateng
Mohamad Arief Irwanto menyebut pasar dan tenaga kerja sebagai dua faktor yang paling berpengaruh terhadap tingginya daya saing daerah di Jawa Tengah. Ia menilai Jateng unggul karena mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan menjaga tingkat pengangguran tetap relatif rendah.
Kondisi tersebut memberi keuntungan bagi banyak daerah yang memiliki aktivitas industri, jasa, dan perdagangan yang tumbuh stabil. Dalam konteks pembangunan daerah, capaian ini juga menjadi sinyal bahwa ekosistem ekonomi di Jateng cukup sehat dan terus bergerak ke arah yang lebih kompetitif.
Beberapa poin utama yang mendorong posisi Jateng dapat dirangkum sebagai berikut:
| Faktor | Dampak terhadap daya saing |
|---|---|
| Pasar | Mendorong aktivitas ekonomi daerah |
| Tenaga kerja | Menopang produktivitas dan penyerapan kerja |
| Pengangguran relatif rendah | Menunjukkan stabilitas ekonomi daerah |
| Skor IDSD di atas nasional | Menandakan kinerja daerah lebih kuat dari rata-rata Indonesia |
Makna Posisi Jateng di Atas Rerata Nasional
Capaian indeks 3,87 membuat Jawa Tengah berada di atas rerata nasional sebesar 3,50. Selisih ini menjadi indikator bahwa banyak daerah di provinsi tersebut berhasil menguatkan fondasi ekonomi dan sosial secara konsisten.
Dalam skala nasional, posisi itu penting karena menunjukkan Jawa Tengah memiliki banyak wilayah yang siap bersaing dalam investasi, industri, maupun pengembangan sumber daya manusia. Dengan skor yang mendekati empat poin, sejumlah kota dan kabupaten di Jateng kini masuk pantauan sebagai daerah yang punya daya tarik tinggi untuk pertumbuhan ekonomi lanjutan.
Kinerja tersebut juga menegaskan bahwa Jawa Tengah tetap menjadi salah satu pusat kekuatan pembangunan di Pulau Jawa, dengan Surakarta, Semarang, dan Magelang sebagai kota unggulan, serta Kabupaten Semarang, Klaten, Karanganyar, dan Jepara sebagai daerah penopang daya saing yang menonjol.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: radioidola.com