
Pemerintah Provinsi Jawa Timur menempatkan dua langkah utama untuk memperkuat posisi daerah ini sebagai wilayah kedaulatan energi di Indonesia. Fokusnya ada pada pengembangan bahan bakar alternatif berbasis sumber daya lokal dan penguatan infrastruktur energi yang bisa mendukung kebutuhan industri maupun masyarakat.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak menyebut Pemprov mendorong produksi bioetanol dan metanol dengan memanfaatkan pasokan gas yang melimpah di Bojonegoro. Emil juga menyinggung potensi bioetanol di Banyuwangi, yang dikaitkan dengan program hilirisasi yang didorong Danantara sebagai bagian dari arah besar Jawa Timur menjadi sentra kedaulatan energi.
Dorong bahan bakar alternatif dari sumber lokal
Bioetanol dan metanol menjadi dua komponen penting dalam strategi itu karena keduanya dikenal sebagai bahan bakar alkohol alternatif dengan angka oktan tinggi. Keduanya dipandang bisa membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus memberi ruang bagi pemanfaatan sumber daya yang tersedia di daerah.
Dalam referensi yang disampaikan, bioetanol dihasilkan dari fermentasi biomassa. Sementara itu, metanol dapat diproduksi dari gasifikasi biomassa atau CO2, sehingga memiliki peluang besar sebagai bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Pemprov Jatim tidak hanya mengejar produksi energi, tetapi juga mendorong rantai nilai yang lebih panjang. Jika pemanfaatan gas dan biomassa berjalan optimal, Jawa Timur berpeluang memperkuat pasokan energi sekaligus memberi nilai tambah bagi sektor hilir.
Grass Root Refinery Tuban jadi bagian penting
Langkah kedua yang disebut Emil adalah Grass Root Refinery atau GRR di Tuban. Pemprov Jatim, kata dia, sudah membahas dan bernegosiasi untuk kerja sama dengan Rusia terkait pelaksanaannya.
“Saat ini sedang dibahas kelanjutannya,” ujar Emil saat menjelaskan perkembangan rencana tersebut. GRR Tuban dipandang sebagai salah satu penopang penting yang dapat memperkuat posisi Jawa Timur dalam penyediaan sumber daya BBM dan kebutuhan petrokimia nasional.
Dari sudut pandang pemerintah daerah, keberadaan GRR juga tidak berdiri sendiri. Proyek ini ditempatkan dalam kerangka yang lebih besar, yakni kemampuan Jawa Timur menyuplai kebutuhan energi dan bahan baku industri bagi Indonesia di masa mendatang.
Dampak jangka panjang ke transportasi publik
Emil menilai, penguatan kedaulatan energi juga membawa tarikan jangka panjang bagi pengembangan transportasi umum massal di Jawa Timur. Karena itu, Pemprov tetap melanjutkan pengembangan Transjatim, kereta, dan moda lain yang dinilai penting sebagai investasi jangka panjang.
Pemerintah daerah melihat transportasi publik sebagai bagian dari ekosistem energi yang lebih efisien dan berkelanjutan. Ketika produksi energi lokal menguat dan mobilitas masyarakat makin terintegrasi, Jawa Timur mendapat peluang lebih besar untuk membangun sistem transportasi yang lebih tertata.
Arah ini memperlihatkan bahwa strategi energi di Jawa Timur tidak hanya berhenti pada produksi dan hilirisasi, tetapi juga menyentuh kebutuhan mobilitas warga. Dengan dorongan pada bioetanol, metanol, GRR Tuban, dan transportasi massal, Pemprov Jatim sedang menyiapkan fondasi energi yang lebih kuat untuk kebutuhan daerah dan nasional.
Source: harianbhirawa.co.id








