Momentum Hari Kartini menjadi pengingat bahwa peran perempuan kini bergerak ke ruang yang lebih luas, termasuk dunia digital. Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menegaskan perempuan masa kini tidak cukup hanya hadir di media sosial, tetapi juga perlu menguasai teknologi agar mampu mengambil peran strategis.
Pernyataan itu disampaikan dalam dialog aspirasi bertema “Kartini Digital: Menguasai Ruang Bukan Sekadar Bersuara” yang digelar di Surabaya. Lia melihat semangat Kartini perlu diterjemahkan ke dalam keberanian perempuan untuk memimpin, mencipta solusi, dan terlibat aktif di berbagai sektor.
Perempuan dan ruang digital
Lia Istifhama menilai ruang digital kini menjadi medan baru bagi perjuangan perempuan. Di ruang ini, perempuan memiliki peluang untuk mengembangkan usaha, membangun jejaring, memperluas edukasi, dan menyampaikan aspirasi masyarakat dengan jangkauan yang lebih luas.
Ia menekankan bahwa kehadiran perempuan di dunia digital harus melampaui aktivitas biasa. “Perempuan hari ini tidak cukup hanya aktif di media sosial. Lebih dari itu, perempuan harus menjadi penggerak, pembuat solusi, dan pengambil keputusan di ruang digital,” ujarnya.
Literasi digital jadi kebutuhan penting
Di balik besarnya peluang, Lia juga mengingatkan adanya risiko yang ikut muncul di ruang digital. Hoaks, kekerasan verbal, dan eksploitasi di dunia maya menjadi ancaman yang perlu diwaspadai, sehingga literasi digital menjadi bekal penting bagi perempuan.
Menurutnya, penguasaan teknologi harus berjalan bersama kecerdasan, etika, dan keberanian. Dengan bekal itu, perempuan Indonesia dapat tampil sebagai Kartini masa kini yang memberi dampak nyata di tengah perubahan zaman.
Dorongan akses pelatihan untuk perempuan
Lia juga mendorong pemerintah memperluas akses pendidikan dan pelatihan digital bagi perempuan, terutama di daerah. Pemerataan kemampuan digital dinilai penting agar perempuan memiliki kesempatan lebih besar untuk mandiri secara ekonomi dan terlibat lebih aktif dalam pembangunan.
Peringatan Hari Kartini kali ini menegaskan bahwa perjuangan emansipasi belum selesai. Tantangan perempuan tidak lagi hanya soal membuka akses pendidikan, tetapi juga memastikan mereka mampu memimpin dan berdaya di era transformasi digital.
