Batik Bukan Sekadar Karya, Muhammadiyah Jawa Barat Menjaganya Sebagai Warisan Peradaban

Batik di mata Muhammadiyah Jawa Barat bukan sekadar kain bermotif. Di Universitas Muhammadiyah Bandung, batik diposisikan sebagai warisan peradaban yang memuat nilai budaya, filosofi, dan identitas bangsa.

Penegasan itu disampaikan Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto saat memberi sambutan dalam pameran Kain & Kebaya IBU #3. Kegiatan yang digelar prodi Kriya Tekstil dan Fashion itu menempatkan wastra Nusantara bukan hanya sebagai objek apresiasi, tetapi juga sebagai ruang pelestarian budaya dan penguatan ekonomi kreatif.

Batik sebagai penanda identitas

Herry menilai batik memiliki makna yang jauh melampaui fungsi visual. Setiap karya batik, menurut dia, membawa pesan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Pandangan itu juga terlihat dari sorotannya terhadap motif Mega Mendung karya Komarudin Kudiya, dosen prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung. Motif tersebut dinilai memiliki kekuatan estetika sekaligus merepresentasikan kekayaan budaya khas Jawa Barat.

Peran kampus dalam menjaga warisan

Rektor menilai prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung punya peran strategis dalam menjaga warisan batik. Program studi itu tidak hanya mengkaji sisi kreatif seni batik, tetapi juga berupaya menghidupkan nilai filosofisnya agar bisa dipahami lebih luas oleh masyarakat.

Pendekatan itu membuat batik tetap hadir sebagai pengetahuan budaya, bukan hanya produk fesyen. Di sisi lain, kampus juga didorong menjadi ruang yang menjaga kesinambungan nilai tradisi di tengah perubahan zaman.

Budaya dan ekonomi kreatif berjalan bersama

Herry juga menyoroti peluang ekonomi kreatif yang lahir dari budaya. Ia membedakan ekonomi kreatif dari industri konvensional yang bertumpu pada sumber daya alam, karena sektor ini berkembang melalui ide, kreativitas, dan inovasi.

Dari sudut pandang itu, seni dan budaya dinilai bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Batik pun mendapat tempat sebagai bagian dari ekosistem ekonomi yang tetap berpijak pada nilai kultural.

Pesan untuk generasi muda

Dalam sambutannya, Herry mengingatkan generasi muda agar tidak melihat pelestarian budaya sebagai beban. Budaya justru disebut bisa menjadi ruang ekspresi, penguatan identitas, dan sarana aktualisasi diri di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat.

Ia juga mendorong mahasiswa dan dosen untuk terus berinovasi agar budaya tetap relevan. Kreativitas dinilai penting supaya nilai-nilai tradisi tetap hidup tanpa kehilangan akar yang membentuknya.

Pameran Kain & Kebaya IBU #3 sendiri berlangsung selama tiga hari dan digelar Program Studi Kriya Tekstil dan Fashion Universitas Muhammadiyah Bandung bersama Yayasan Batik Jawa Barat serta Pusat Studi Wastra Nusantara. Kegiatan itu mempertemukan apresiasi karya, pelestarian budaya, dan gagasan tentang masa depan batik di Jawa Barat.

Source: muhammadiyah-jabar.id

Berita Terkait

Back to top button