Harga Bahan Pangan Kian Menekan, Wiwin Sumrambah Sorot Faktor Global Hingga Cuaca Ekstrem

Kenaikan harga bahan pangan di Jawa Timur kini tidak hanya dilihat sebagai persoalan pasar semata. Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim, Wiwin Sumrambah, menyebut lonjakan dalam beberapa pekan terakhir dipicu gabungan faktor global, tingginya permintaan pangan, dan cuaca ekstrem yang menekan hasil panen.

Wiwin menilai kondisi geopolitik dunia ikut mendorong naiknya harga bahan bakar minyak. Dampaknya merembet ke biaya distribusi dan produksi pangan, lalu ikut mengerek harga sejumlah kebutuhan pokok di pasaran.

Permintaan tinggi dan panen terganggu

Selain faktor global, permintaan bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan program Makan Bergizi Gratis melalui Dapur SPPG juga disebut memberi tekanan tambahan pada pasar. Menurut Wiwin, kebutuhan yang meningkat membuat pergerakan harga semakin sensitif terhadap pasokan yang tersedia.

Ia juga menyoroti perubahan cuaca dalam beberapa bulan terakhir. Cuaca yang tidak menentu dinilai berdampak langsung pada produksi pertanian dan hasil panen petani.

Data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok atau Siskaperbapo Jawa Timur menunjukkan sejumlah komoditas masih mengalami kenaikan harga selama Mei 2026. Beras premium tercatat berada di kisaran Rp14.870 per kilogram, sedangkan minyak goreng kemasan premium mencapai Rp21.714 per liter.

Harga daging sapi paha belakang juga berada di level Rp124.156 per kilogram. Sementara itu, cabai dan minyak goreng menjadi komoditas yang mengalami fluktuasi cukup tinggi dalam beberapa pekan terakhir.

Inflasi pangan masih dominan

Badan Pusat Statistik Jawa Timur mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang utama inflasi tahunan di provinsi itu. Pada April 2026, inflasi tahunan Jawa Timur tercatat 2,85 persen, dengan beras, minyak goreng, tahu, tempe, dan tomat masih mengalami kenaikan harga.

Sebelumnya, BPS Jawa Timur juga mencatat inflasi Maret 2026 sebesar 0,39 persen. Saat itu, kenaikan harga cabai dan daging menjadi pemicu utama.

Melihat kondisi tersebut, Fraksi PDI Perjuangan mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Timur bergerak cepat menjaga stabilitas harga. Wiwin meminta Pemprov Jatim menyiapkan operasi pasar agar gejolak harga tidak semakin meluas.

Dorongan ketahanan pangan dari rumah tangga

Selain operasi pasar, Wiwin juga mendorong pemerintah daerah memperluas bantuan bibit tanaman pangan kepada masyarakat. Menurut dia, bantuan seperti itu tidak boleh hanya menyasar petani, tetapi juga warga umum agar bisa menanam kebutuhan pangan sendiri.

Sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan, PDI Perjuangan mengembangkan program Posko Pangan di Kabupaten Jombang. Melalui program itu, kader partai dan masyarakat menanam berbagai tanaman pangan alternatif pengganti beras di lahan yang disiapkan.

Wiwin menilai penguatan ketahanan pangan harus dimulai dari tingkat keluarga dan masyarakat agar tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan pasar. Dalam situasi ekonomi yang masih menantang, program tersebut juga diharapkan bisa membantu rumah tangga menekan pengeluaran.

Source: pdiperjuangan-jatim.com
Exit mobile version