Bekas Stasiun Pangandaran masih berdiri di Jalan Stasiun, Dusun Karangsalam, Desa Pananjung, Kecamatan Pangandaran. Bangunan tua itu kini tampak memudar, rusak, dan dikepung permukiman warga yang perlahan menutup jejak rel lama.
Di tengah ramainya wisata Pangandaran, sisa stasiun itu mengingatkan pada masa ketika kereta menjadi urat nadi wilayah selatan Jawa Barat. Stasiun Pangandaran dulu berada di jalur Banjar–Cijulang, atau jalur BanCi, yang kini tinggal sejarah.
Sisa fisik stasiun yang masih terbaca
Menurut catatan Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten, bangunan bekas Stasiun Pangandaran memiliki denah persegi dengan ukuran 20,80 meter x 5,44 meter. Atapnya memakai model pelana dengan penutup genteng tanah liat dan ditopang sejumlah konsol di setiap sisi.
Pada bagian selatan bangunan terdapat pintu selebar 253 sentimeter. Pintu itu diapit dua pilaster stone masonry yang berfungsi sebagai penguat struktur sekaligus unsur estetis.
Di sisi barat pintu utama, berjajar tiga jendela panel kayu. Namun kondisi bangunan kini nyaris tak terawat, dan hampir semua bagian terlihat mengalami kerusakan.
Jalur Banjar–Cijulang yang pernah penting
Jalur Banjar–Cijulang membentang sekitar 82 kilometer. Jalur ini pernah menjadi penghubung penting kawasan selatan Priangan Timur, terutama untuk kepentingan ekonomi dan distribusi hasil perkebunan.
Pembangunan jalur tersebut dilatarbelakangi kebutuhan ekonomi pada masanya. Karena itu, rel kereta bukan sekadar sarana angkutan, tetapi bagian dari arus distribusi yang menopang aktivitas wilayah.
Bekas jalur yang dulu menghubungkan Banjar hingga Cijulang kini makin sulit dikenali. Rumah-rumah warga berdiri di sekeliling area stasiun dan membuat jejak keberadaan rel lama semakin samar.
Jejak sejarah yang tersisa di tengah kawasan wisata
Bangunan bekas stasiun itu masih menjadi penanda sejarah transportasi di selatan Jawa Barat. Meski berada di tengah kawasan wisata yang terus ramai, sisa bangunan dan kondisi fisiknya menunjukkan bahwa peran lamanya sudah lama berhenti.
Plang informasi di area stasiun juga menunjukkan bangunan tersebut sudah tidak terawat sejak 1984. Dari sana, bekas Stasiun Pangandaran menyisakan gambaran tentang satu jalur kereta yang dulu berperan besar, lalu perlahan hilang bersama perubahan lanskap dan perkembangan permukiman.
