Cantik Itu Luka Di Panggung UPGRIS, Menyibak Luka Kolonialisme Lewat Tugas Akhir Teater

Author: Qoo Media

Teater Shankara mengangkat “Cantik Itu Luka” sebagai sajian tugas akhir pragelar teater mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang. Pementasan ini digelar di SMA Negeri 1 Mranggen, Kabupaten Demak, dan langsung membawa penonton masuk ke kisah yang sarat sejarah.

Adaptasi karya Eka Kurniawan itu tidak hanya menampilkan drama keluarga, tetapi juga potret kelam masa kolonialisme, pendudukan Jepang, hingga pergolakan setelah kemerdekaan. Lewat tokoh Dewi Ayu dan anak-anaknya, para aktor mahasiswa mencoba menghidupkan kembali lapisan-lapisan sejarah yang membentuk cerita tersebut.

Sajikan cerita yang dekat dengan pelajar

Sutradara Cantik Itu Luka, Nur Hidayah, mengatakan pementasan itu dipilih agar siswa SMAN 1 Mranggen mendapat suguhan yang berbeda. Ia ingin pertunjukan tersebut terasa segar sekaligus memberi pengalaman menonton yang lebih dekat dengan dunia pelajar.

Cerita yang dibawakan juga menekankan bahwa kecantikan dalam kisah itu berubah menjadi kutukan dan tragedi. Alurnya bergerak pada dampak keserakahan manusia yang membuat kisah Dewi Ayu terasa gelap dan menyakitkan.

Bukan sekadar drama panggung

Nur Hidayah menegaskan bahwa Cantik Itu Luka bukan hanya pertunjukan drama biasa. Menurut dia, karya itu juga menjadi refleksi sejarah dan kritik sosial yang kuat.

Ia berharap pementasan ini dapat memicu minat baca pelajar terhadap karya-karya sastra besar Indonesia. Dengan cara itu, panggung teater tidak berhenti sebagai hiburan, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk mengenal karya sastra lebih dalam.

Dukungan sekolah dan nilai edukasi

Kepala SMAN 1 Mranggen, Puji Ningrum, menilai kehadiran pentas drama mahasiswa UPGRIS memberi warna baru dalam pembelajaran seni dan sastra di sekolah. Ia melihat pertunjukan itu sebagai media apresiasi sastra yang langsung, interaktif, dan menghibur.

Puji juga menyebut kegiatan itu mempererat hubungan kemitraan dengan perguruan tinggi, khususnya UPGRIS, dalam pengembangan literasi dan seni budaya. Dari sisi sekolah, pementasan seperti ini memberi ruang belajar yang tidak hanya teoritis, tetapi juga hadir lewat pengalaman menonton yang nyata.

Source: jateng.jpnn.com
Terbaru