Popok sekali pakai menjadi sampah yang paling banyak ditemukan di Pantai Sidem, Kabupaten Tulungagung. Dalam audit sampah yang dilakukan WALHI Jawa Timur, berat limbah popok mencapai 52 kilogram.
Jumlah itu menjadi bagian terbesar dari 153,63 kilogram sampah anorganik yang berhasil diidentifikasi. Temuan tersebut menegaskan besarnya tekanan sampah sekali pakai yang berakhir di kawasan pesisir.
Pantai Sidem dipilih karena berada di muara Sungai Niyama. Aliran sungai ini diduga membawa sampah dari wilayah hulu sebelum material tersebut terdampar di pantai.
Tim mengumpulkan total 252,15 kilogram sampah dalam kegiatan bersih pantai. Sebanyak 22 karung sampah kemudian dikumpulkan, dipilah, dan sebagian diaudit berdasarkan jenis serta mereknya.
Popok, kantong plastik, hingga kemasan bermerek
Selain popok, kantong plastik sekali pakai tanpa merek juga menjadi temuan besar dengan berat sekitar 34 kilogram. Sampah kemasan lain yang tercatat meliputi sachet, gelas air minum dalam kemasan, dan kemasan kertas.
WALHI Jawa Timur mendata merek pada sejumlah kemasan untuk melihat produsen yang produknya paling banyak muncul dalam sampah pesisir. Pendataan itu diposisikan sebagai dasar advokasi agar pengurangan kemasan sekali pakai tidak hanya dibebankan kepada konsumen.
| Jenis sampah | Temuan audit | Rincian yang tercatat |
|---|---|---|
| Popok sekali pakai | 52 kilogram | Jenis sampah terbanyak |
| Kantong plastik tanpa merek | Sekitar 34 kilogram | Plastik sekali pakai |
| Kemasan sachet bermerek | Sekitar 10 kilogram | Didominasi Mie Sedaap dan Luwak White Coffee |
| Gelas AMDK | 101 kemasan Club | Merek terbanyak pada kategori ini |
| Kemasan kertas | 54 kemasan Pop Mie | Temuan terbanyak pada kategori kertas |
Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye WALHI Jawa Timur Lucky Wahyu Wardana menyatakan hasil audit itu penting untuk mendorong tanggung jawab produsen. “Temuan ini menjadi dasar untuk mendorong produsen bertanggung jawab terhadap sampah kemasan yang mereka hasilkan,” katanya.
Audit merek tidak hanya menghitung berat sampah, tetapi juga menunjukkan produk apa yang paling sering muncul di antara limbah yang berhasil dipilah. Pada kategori sachet, kemasan Mie Sedaap dan Luwak White Coffee disebut mendominasi temuan sekitar 10 kilogram tersebut.
Sementara itu, Club tercatat sebagai merek gelas air minum dalam kemasan yang paling banyak ditemukan, yakni 101 kemasan. Pada kelompok kemasan kertas, Pop Mie menjadi produk yang paling banyak tercatat dengan 54 kemasan.
Tanggung jawab produsen jadi sorotan
Manajer Kebijakan Publik WALHI Jawa Timur Siti Mutmainnah menilai masalah sampah tidak semata menjadi urusan pemerintah dan masyarakat sebagai konsumen. Produsen juga dinilai memiliki kewajiban untuk ikut mengurangi sampah dari kemasan produknya.
Ia merujuk pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 75 Tahun 2019. Aturan tersebut memuat kewajiban produsen untuk menyusun peta jalan pengurangan sampah.
“Hasil audit ini akan menjadi bahan advokasi agar produsen mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai dan beralih pada sistem yang lebih ramah lingkungan,” kata Siti. Arah advokasi itu mencakup pengurangan kemasan yang berpotensi menjadi sampah di sungai dan pesisir.
Kegiatan bersih pantai dan audit merek ini digelar dalam rangka kampanye Plastic Free July. WALHI Jawa Timur melaksanakannya bersama Aliansi Lingkar Wilis Indonesia, Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup Mangkubumi, Mapala Himalaya, serta Lembaga Pers Mahasiswa Aksara.
Temuan di Pantai Sidem memperlihatkan bahwa persoalan sampah pesisir berkaitan dengan aliran limbah dari kawasan hulu. Sampah yang masuk ke sungai dapat terbawa arus hingga muara, lalu menetap di garis pantai ketika arus laut mendorongnya ke daratan.
Karena itu, audit ini tidak berhenti pada kegiatan memungut sampah di pantai. Data jenis, berat, dan merek kemasan digunakan untuk menyoroti kebutuhan pengurangan sampah sekali pakai dari sumbernya.
