Cuaca buruk di perairan Arafura menjadi hambatan utama bagi Tim SAR Merauke dalam proses evakuasi anak buah kapal (ABK) KM Bintang Laut. Kapal pencari cumi-cumi tersebut tenggelam pada Selasa (20/1) di kawasan perairan Torasi, Merauke, yang berada dekat perbatasan Indonesia-Papua Nugini (PNG).
Sebanyak 13 ABK berhasil diselamatkan oleh kapal nelayan KM Purbalingga yang pertama kali menemukan korban terapung tersebut. Namun, satu dari mereka dilaporkan meninggal dunia dalam proses penyelamatan.
Upaya Penyelamatan dan Evakuasi Korban
Tim SAR Merauke tengah bergerak menuju titik lokasi kejadian untuk melakukan evakuasi lanjutan terhadap 13 ABK yang kini berada di atas KM Purbalingga. Kepala Kantor SAR Merauke, Rudi, menyatakan bahwa pencarian juga tetap dilanjutkan untuk enam ABK lain yang hingga kini belum ditemukan.
Operasi SAR memanfaatkan Rescue Boat 223 Merauke, dilengkapi dengan perahu karet dan peralatan pendukung lain guna memaksimalkan proses pencarian dan evakuasi. KM Purbalingga dijadwalkan tiba di Kumbe pada Kamis (22/1), sebagai titik pemindahan korban ke darat untuk penanganan medis lebih lanjut.
Kondisi Geografis dan Cuaca di Lokasi Kejadian
KM Bintang Laut berasal dari Jakarta dan tenggelam di wilayah perairan laut Torasi, yang dikenal rawan karena berdekatan dengan perbatasan RI dan PNG. Jarak kapal penolong dari Dermaga Merauke ke lokasi kejadian kurang lebih 115 kilometer ke arah tenggara, dalam perairan terbuka yang memiliki karakteristik cuaca dan gelombang cukup sulit.
Menurut laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Merauke, gelombang di Laut Arafura bagian timur saat ini berkisar antara 1,5 hingga 2,75 meter, dengan kecepatan angin mencapai 10 sampai 45 kilometer per jam. Kondisi cuaca yang disertai hujan lebat ini membuat risiko pelayaran menjadi sangat tinggi, terutama untuk kapal nelayan dan kapal penangkap ikan kecil.
Imbauan Keselamatan untuk Operator Kapal
Rudi mengingatkan agar seluruh operator kapal di perairan tersebut selalu waspada dan rutin memperbarui informasi tentang kondisi cuaca. Tindakan preventif ini penting untuk menghindari kejadian serupa di masa mendatang, apalagi di perairan yang dikenal sulit dan berisiko tinggi.
Berbagai langkah telah dilakukan oleh Tim SAR Merauke yang terus berupaya mengoptimalkan proses pencarian korban hilang sambil tetap memperhatikan keselamatan personel lapangan. Cuaca buruk menjadi tantangan utama sekaligus alasan utama mengapa evakuasi tidak berjalan secepat yang diharapkan.
Tim SAR juga berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait agar penanganan medis terhadap korban yang berhasil diselamatkan berjalan maksimal sesaat setelah mereka tiba di daratan. Proses evakuasi yang tertunda karena kondisi cuaca ini menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan dan kesiapan tanggap darurat di wilayah perbatasan yang memiliki karakteristik geografis dan cuaca ekstrim.
