Ribuan Jemaat Padati Efata Liliba, Pawai Obor Hingga Paskah Menggema Khidmat

Ribuan jemaat memadati Gereja Efata Liliba, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada Minggu (5/4) untuk mengikuti ibadah Hari Raya Paskah yang berlangsung khidmat. Ibadah dipimpin Pendeta Oksi Pandie dan dimulai sejak pagi dengan suasana penuh sukacita, kebersamaan, serta nuansa perayaan kebangkitan Yesus Kristus.

Sejumlah rangkaian kegiatan mengiringi ibadah utama, mulai dari pawai obor, pencarian telur Paskah, hingga teatrikal kisah kebangkitan yang melibatkan jemaat dari berbagai usia. Perayaan ini tidak hanya menjadi agenda rohani, tetapi juga ruang kebersamaan yang menegaskan kuatnya partisipasi keluarga besar jemaat Gereja Efata Liliba.

Ribuan jemaat hadir sejak pagi

Kehadiran ribuan umat membuat area gereja dan sekitarnya tampak penuh sejak pagi hari. Jemaat datang dari berbagai kelompok usia, termasuk orang tua, pemuda, dan anak-anak, untuk mengikuti ibadah Paskah yang menjadi salah satu momen penting dalam kalender gerejawi.

Kondisi itu menunjukkan tingginya antusiasme jemaat dalam menyambut Paskah di tengah perayaan iman yang berlangsung tertib dan khidmat. Suasana ibadah juga memperlihatkan keterikatan sosial yang kuat di antara jemaat, yang tetap menjaga tradisi perayaan secara bersama-sama.

Pawai obor jadi simbol sukacita

Sebelum ibadah dimulai, jemaat terlebih dahulu mengikuti pawai obor mengelilingi rayon. Kegiatan ini melibatkan berbagai lapisan usia dan menjadi salah satu penanda sukacita dalam menyambut Paskah di Gereja Efata Liliba.

Obor yang dibawa para peserta menciptakan suasana hangat dan simbolik, seolah menegaskan makna terang kehidupan dalam kebangkitan Kristus. Partisipasi aktif orang tua, pemuda, dan anak-anak juga memperlihatkan bahwa perayaan Paskah tidak hanya berpusat pada ibadah liturgis, tetapi juga pada kebersamaan komunitas gereja.

Anak muda ikut dalam pencarian telur Paskah

Selain pawai obor, panitia juga menggelar pencarian telur Paskah yang diikuti pemuda dan anak remaja atau PAR. Kegiatan ini menjadi bagian dari cara gereja menghadirkan makna Paskah dengan pendekatan yang lebih akrab bagi generasi muda.

Melalui kegiatan tersebut, jemaat muda diajak memahami sukacita kebangkitan Kristus secara sederhana namun bermakna. Tradisi ini sekaligus mempererat hubungan antargenerasi di lingkungan gereja dan menjaga keterlibatan remaja dalam kegiatan rohani.

Teatrikal menampilkan kisah kebangkitan

Perayaan Paskah di Gereja Efata Liliba juga diisi dengan teatrikal yang menggambarkan kisah Maria Magdalena dan Maria yang datang ke kubur Yesus pada hari Sabat. Dalam kisah itu, keduanya tidak menemukan Yesus di kubur dan menerima kabar dari malaikat bahwa Ia telah bangkit.

Pementasan ini memberi dimensi visual pada pesan utama Paskah dan membantu jemaat, terutama anak-anak dan remaja, memahami inti perayaan secara lebih langsung. Penggambaran itu juga menegaskan bahwa kebangkitan Kristus menjadi pusat iman yang dirayakan dalam ibadah hari itu.

Pesan khotbah soal pembaruan hidup

Dalam khotbahnya, Pendeta Oksi Pandie menekankan bahwa Paskah bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momentum pembaruan hidup bagi orang percaya. Ia merujuk pada ajaran Rasul Paulus di surat kepada jemaat di Korintus yang menegaskan bahwa pembaruan hidup manusia terjadi karena kasih Allah melalui Yesus Kristus yang wafat dan bangkit untuk menyelamatkan manusia.

“Kasih Kristus itulah yang seharusnya menguasai hidup kita. Apa yang kita lakukan, baik dalam pekerjaan, pelayanan, maupun kehidupan sehari-hari, harus didorong oleh kasih Kristus, bukan untuk kepentingan diri sendiri,” kata Pendeta Oksi.

Ia juga menegaskan bahwa kebangkitan Kristus membawa perubahan nyata pada hati dan karakter manusia. Menurut dia, orang yang telah diperbarui tidak lagi hidup untuk diri sendiri, melainkan untuk Tuhan dan sesama.

Paskah sebagai panggilan hidup baru

Pendeta Oksi menilai banyak persoalan dalam keluarga, gereja, dan masyarakat berakar dari sikap mementingkan diri sendiri. Karena itu, ia menyebut Paskah sebagai panggilan untuk meninggalkan kehidupan lama dan hidup dalam kasih yang memulihkan relasi dengan orang lain.

Ia mengingatkan bahwa orang yang telah diperbarui oleh Kristus tidak seharusnya hanya mencari Tuhan pada momen tertentu seperti Natal atau Paskah. Kehadiran Tuhan, menurut dia, harus nyata dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa di dalam Kristus, manusia menjadi ciptaan baru. Artinya, masa lalu tidak lagi menjadi penghalang karena melalui kematian dan kebangkitan Kristus, manusia diperdamaikan dengan Allah dan dipanggil untuk menjalani hidup yang baru.

Jemaat diajak jadi pembawa damai

Pesan lain yang ditekankan dalam ibadah Paskah itu adalah panggilan untuk menjadi pembawa damai. Pendeta Oksi mengingatkan bahwa jemaat yang telah menerima kasih serta pendamaian dari Kristus harus menghadirkan damai di keluarga, gereja, tempat kerja, dan masyarakat luas.

“Tidak masuk akal jika kita merayakan Paskah tetapi masih menyimpan kebencian. Kebangkitan Kristus memanggil kita untuk hidup dalam kasih dan menjadi pembawa damai di mana pun kita berada,” ujarnya.

Ia juga mengajak jemaat merenungkan bagian hidup yang perlu diperbarui, mulai dari motivasi, pikiran, hingga tindakan. Menurutnya, Paskah menjadi bukti bahwa Allah memberi pembaruan total bagi kehidupan manusia melalui Yesus Kristus.

Rangkaian perayaan Paskah di Gereja Efata Liliba

  1. Pawai obor mengelilingi rayon bersama orang tua, pemuda, dan anak-anak.
  2. Ibadah Hari Raya Paskah dipimpin Pendeta Oksi Pandie.
  3. Pencarian telur Paskah untuk pemuda dan anak remaja.
  4. Teatrikal kisah Maria Magdalena dan Maria di kubur Yesus.
  5. Khotbah tentang pembaruan hidup, kasih Kristus, dan panggilan menjadi pembawa damai.

Perayaan Paskah di Gereja Efata Liliba pada Minggu (5/4) menempatkan kebangkitan Kristus sebagai pusat ibadah sekaligus pengingat bahwa iman juga harus hadir dalam tindakan sehari-hari. Di tengah ribuan jemaat yang memadati gereja, pesan pembaruan hidup dan panggilan untuk hidup dalam kasih menjadi penegasan utama dari seluruh rangkaian ibadah hari itu.

Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com
Exit mobile version