TNI AL dan FKS Group Turun ke Pesisir, Mengolah Laut Jadi Kemandirian Ekonomi

TNI Angkatan Laut melalui Pusat Teritorial Angkatan Laut atau Pusteral memperkuat kemandirian masyarakat pesisir lewat kolaborasi dengan FKS Group. Program ini fokus pada pelatihan pengolahan hasil laut dan kedelai agar warga pesisir tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi mampu menghasilkan produk bernilai tambah.

Langkah ini menyasar dua tantangan sekaligus, yakni rendahnya nilai jual produk perikanan dan terbatasnya inovasi pada olahan kedelai. Dengan pelatihan yang langsung menyentuh kebutuhan UMKM, program tersebut diharapkan membuka peluang usaha yang lebih stabil dan berkelanjutan di wilayah pesisir.

Kolaborasi TNI AL dan FKS Group di jalur pemberdayaan

Komandan Pusteral Laksma A. Agung Pryo Suseno menyebut TNI AL tidak hanya bertugas menjaga pertahanan wilayah maritim, tetapi juga ikut mendorong kesejahteraan masyarakat pesisir. Ia menegaskan bahwa penguatan kapasitas warga pesisir menjadi bagian penting dari ketahanan ekonomi dan ketahanan wilayah.

“Melalui kolaborasi ini, kami mendorong masyarakat agar mampu mengolah potensi hasil laut dan kedelai secara mandiri dan berkelanjutan, sehingga dapat memperkuat ketahanan ekonomi sekaligus ketahanan wilayah,” ujar Laksma A. Agung dalam keterangannya.

Di sisi lain, FKS Group menempatkan program ini sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan perusahaan melalui inisiatif ESG. VP of ESG FKS Group Beatrice Susanto mengatakan program FKS Empower dirancang untuk memperkuat kapasitas UMKM agar mampu menciptakan produk yang bernilai tambah dan berdaya saing.

“Kolaborasi dengan TNI AL memungkinkan kami menjangkau masyarakat pesisir secara lebih luas dengan pelatihan yang aplikatif dan berdampak langsung,” kata Beatrice.

Pelatihan menyentuh kebutuhan UMKM pesisir

Program ini masuk dalam Sosialisasi Pengolahan Hasil Laut TA 2026 sebagai implementasi pembinaan potensi maritim atau Binpotmar. Pelatihan digelar di Lanal Cilacap pada 7 April 2026 dan berlanjut di Lanal Tegal pada 9 April 2026.

Lebih dari 300 pelaku UMKM dan masyarakat pesisir ikut dalam kegiatan tersebut. Materi yang diberikan tidak hanya teori, tetapi juga praktik langsung seperti demo masak, teknik pengolahan hasil laut, dan pengembangan produk turunan kedelai.

Pelatihan semacam ini penting karena banyak komoditas pesisir masih dipasarkan dalam bentuk segar atau mentah. Kondisi itu membuat margin keuntungan warga menjadi terbatas, padahal peluang pasar untuk produk olahan terus tumbuh di banyak daerah.

Kenapa pengolahan hasil laut dan kedelai jadi penting

Indonesia punya sumber daya laut yang besar, tetapi belum semua hasilnya diolah menjadi produk dengan nilai jual tinggi. Dalam banyak kasus, rantai nilai masih pendek karena keterbatasan pengetahuan teknologi, kemasan, higienitas, dan pemasaran.

Kedelai juga punya posisi strategis sebagai sumber protein nabati yang dekat dengan konsumsi harian masyarakat. Jika diolah lebih variatif, bahan ini bisa membuka ruang usaha baru, sekaligus mendukung kebutuhan pangan bergizi berbasis bahan lokal.

Secara praktis, program ini juga dikaitkan dengan upaya penanganan stunting. Edukasi pangan bergizi berbasis bahan lokal dinilai relevan karena masyarakat bisa memanfaatkan komoditas yang tersedia di daerah masing-masing tanpa bergantung pada bahan yang mahal.

Dampak yang ditargetkan untuk masyarakat pesisir

Program kolaborasi ini diarahkan agar warga pesisir mendapat manfaat yang lebih konkret dalam kegiatan ekonomi sehari-hari. Selain skill teknis, peserta juga diajak memahami pentingnya konsistensi kualitas produk, rasa, nilai gizi, dan penyesuaian dengan kebutuhan pasar.

Berikut sejumlah dampak yang ingin diperkuat melalui program tersebut:

  1. Meningkatkan keterampilan pengolahan hasil laut dan kedelai.
  2. Mendorong lahirnya produk bernilai tambah dari bahan lokal.
  3. Membuka peluang usaha baru bagi UMKM pesisir.
  4. Memperluas pasar produk olahan yang lebih kompetitif.
  5. Mendukung ketahanan pangan dan perbaikan gizi masyarakat.

Seorang pelaku UMKM di Tegal mengaku pelatihan ini memberi sudut pandang baru dalam mengembangkan usaha. Ia mengatakan selama ini hasil laut dijual secara sederhana dan tempe hanya dibuat dalam bentuk biasa.

“Dari pelatihan ini, kami jadi tahu cara membuat produk yang lebih variatif dan memiliki nilai jual lebih tinggi. Ini sangat membantu kami untuk meningkatkan penghasilan,” ujarnya.

Sinergi pemerintah dan swasta untuk ekonomi pesisir yang lebih kuat

Kolaborasi TNI AL dan FKS Group menunjukkan bahwa pemberdayaan pesisir tidak harus berhenti pada bantuan sesaat. Pendekatan yang memberikan pengetahuan, keterampilan, dan akses ke praktik pengolahan dinilai lebih berkelanjutan karena memberi modal usaha yang bisa dipakai jangka panjang.

Program seperti ini juga relevan dengan kebutuhan daerah pesisir yang sering bergantung pada musim dan harga komoditas mentah. Jika masyarakat bisa mengolah hasil tangkapan dan bahan pangan lokal menjadi produk siap jual, mereka punya peluang lebih besar untuk menjaga pendapatan tetap stabil.

Laksma A. Agung menyampaikan apresiasi atas kerja sama tersebut dan menilai sinergi ini bisa diperluas ke wilayah lain. Menurut dia, kolaborasi semacam ini dapat menjadi langkah nyata dalam memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus kemandirian ekonomi masyarakat pesisir.

Berita Terkait

Back to top button