
DPP PDI Perjuangan menyoroti kembali relevansi ajaran Bung Karno dalam menghadapi situasi dunia yang dinilai makin kompleks. Dalam seminar nasional peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Ahmad Basarah mempertanyakan posisi Indonesia ketika bangsa lain dinilai mampu mempraktikkan gagasan Trisakti.
Forum itu mengangkat tema “Relevansi Gerakan Asia Afrika dalam Krisis Geopolitik Saat Ini” dan menghadirkan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri sebagai keynote speech. Hadir pula Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto serta jajaran partai, sementara pembahasan utama menekankan ancaman kolonialisme modern yang dianggap belum benar-benar hilang.
Basarah soroti neo-kolonialisme yang berganti wajah
Dalam pidato pembuka, Ahmad Basarah menegaskan bahwa Konferensi Asia Afrika merupakan warisan besar Bung Karno bagi bangsa-bangsa yang pernah dijajah. Ia menyebut semangat Bandung tetap penting karena kolonialisme tidak lenyap, melainkan berubah dalam bentuk baru.
Basarah mengatakan, dominasi ekonomi, ketergantungan teknologi, dan tekanan geopolitik global menunjukkan keberlanjutan neo-kolonialisme. Ia juga mengutip pesan Bung Karno agar lahir “Asia Baru dan Afrika Baru” sebagai simbol bangkitnya kedaulatan bangsa-bangsa terjajah.
Menurut Basarah, pemikiran Bung Karno sejak dekade 1920-an tetap relevan untuk membaca krisis dunia saat ini. Ia menyebut rivalitas kekuatan besar, agresi militer, dan blokade ekonomi sebagai bagian dari situasi global yang masih menekan banyak negara.
Kritik pada imperialisme dan pesan perdamaian
Basarah mengulang pandangan Bung Karno bahwa imperialisme adalah bentuk paling agresif dari kapitalisme. Ia menegaskan bahwa berakhirnya kolonialisme lama tidak otomatis menghentikan imperialisme, karena praktik itu dapat berganti strategi dan instrumen.
Ia juga menyoroti krisis geopolitik di Timur Tengah, termasuk ketegangan antara Iran dan Israel. Dalam konteks itu, Basarah menegaskan bahwa perdamaian dunia tidak akan terwujud tanpa kemerdekaan yang sesungguhnya dari segala bentuk penjajahan.
“Perdamaian adalah prasyarat bagi kemerdekaan,” kata Basarah dalam forum tersebut. Ia menilai tanpa perdamaian, kemerdekaan akan kehilangan makna dan nilai strategisnya bagi bangsa-bangsa.
Iran dan pertanyaan soal Trisakti
Di bagian lain, Basarah mengaitkan semangat kemandirian bangsa lain dengan ajaran yang pernah digagas Bung Karno. Ia menyebut pengaruh pemikiran Presiden pertama RI itu juga terasa hingga Iran, lalu melontarkan pertanyaan reflektif kepada Indonesia sendiri.
“Jika bangsa Iran saja mampu mempraktikkan ajaran Trisakti Bung Karno, bagaimana dengan pemerintah dan bangsa Indonesia saat ini?” ujar Basarah. Pernyataan itu menjadi penekanan politik PDIP bahwa ajaran kemandirian, berdikari, dan berdaulat masih perlu diwujudkan secara nyata.
Basarah juga mengajak seluruh elemen bangsa memperkuat komitmen ideologis dalam menghadapi penjajahan modern. Ia menilai kedaulatan sejati hanya dapat dijaga jika Indonesia konsisten terhadap prinsip yang diwariskan Bung Karno.
Peran Megawati dan diplomasi peradaban
Basarah turut menyinggung peran Megawati Soekarnoputri dalam menjaga napas anti-imperialisme. Menurut dia, Megawati konsisten mengaktualisasikan semangat itu melalui diplomasi peradaban dan penolakan terhadap kekerasan antarnegara.
Ia menyebut Megawati teguh pada prinsip penyelesaian konflik lewat dialog dan hukum internasional. Sikap tersebut dinilai penting untuk menolak penindasan, menahan eskalasi konflik, dan menjaga ruang damai di tingkat global.
Di akhir forum, Basarah mendorong lahirnya kembali energi solidaritas Asia-Afrika yang pernah dibangun Bung Karno. Ia menekankan bahwa Trisakti dan Semangat Bandung perlu terus dihidupkan sebagai pedoman menghadapi dominasi global yang masih berubah bentuk hingga kini.
Source: www.suara.com








