
Kasus penikaman yang menewaskan Ketua DPD Partai Golkar Maluku Tenggara, Agrapinus Rumatora alias Nus Kei, memunculkan pengakuan mengejutkan dari para pelaku. Polisi menyebut motif utama penyerangan itu adalah balas dendam karena korban diduga dianggap sebagai otak pembunuhan saudara kedua pelaku.
Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol Rositah Umasugi, mengatakan kedua pelaku menyimpan dendam kepada Nus Kei. Ia menjelaskan, pelaku mengaitkan aksi itu dengan kematian Fenansius Wadanubun alias Dani Holat, yang diyakini menjadi saudara mereka.
Pengakuan pelaku terungkap
Rositah menyampaikan bahwa motif tersebut diakui langsung oleh para pelaku saat pemeriksaan. “Motif pelaku adalah balas dendam. Kedua pelaku dendam karena korban Nus Kei adalah otak dibalik pembunuhan saudara kedua pelaku,” ujarnya.
Dalam keterangan itu, pelaku juga mengaku peristiwa yang mereka jadikan dasar dendam terjadi di Jakarta pada 2020. Lokasi yang disebut berada di samping Apartemen Metro Galaxi Kalimalang, Bekasi.
Pengakuan itu membuat penyidik menelusuri kembali rangkaian peristiwa yang diduga melatarbelakangi aksi penusukan. Polisi belum mengungkap seluruh detail proses pendalaman kasus, tetapi keterangan awal pelaku memberi gambaran tentang kuatnya motif pribadi di balik serangan tersebut.
Penyerangan terjadi sesaat setelah korban tiba
Insiden bermula ketika Nus Kei tiba di Bandara Karel Sadsuitubun, Maluku Tenggara, usai bepergian dari Jakarta. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 11.25 WIT dan langsung mengubah suasana bandara yang semula normal menjadi tegang.
Menurut keterangan polisi, korban diserang orang tak dikenal menggunakan senjata tajam. “Tiba-tiba korban ditikam oleh orang tidak dikenal menggunakan sebilah pisau. Terduga pelaku langsung melarikan diri usai kejadian,” kata Rositah.
Serangan itu berlangsung cepat dan membuat petugas serta orang di sekitar lokasi bereaksi. Korban kemudian dinyatakan meninggal dunia setelah penikaman tersebut.
Reaksi dan konteks kasus
Peristiwa itu menyita perhatian karena korban dikenal sebagai tokoh politik daerah sekaligus Ketua DPD Partai Golkar Maluku Tenggara. Insiden tersebut juga terjadi di area bandara yang biasanya ramai dan diawasi ketat, sehingga penyerangan mendadak itu menambah sorotan terhadap keamanan di lokasi publik.
Sebelumnya, kasus ini juga memicu perhatian internal Partai Golkar. Sejumlah pihak di partai meminta kader tetap waspada dan tidak terpancing situasi setelah kabar penikaman Nus Kei beredar.
Di sisi lain, pengakuan pelaku soal dendam lama memberi arah baru dalam pengusutan perkara ini. Polisi masih berupaya mengurai hubungan antara dugaan peristiwa lama di Bekasi dan penyerangan yang menewaskan Nus Kei di Maluku Tenggara.
Fakta bahwa pelaku mengaku memiliki kaitan personal dengan korban membuat kasus ini tidak hanya dilihat sebagai tindak kekerasan biasa. Penyelidikan lanjutan akan menentukan sejauh mana pengakuan itu selaras dengan bukti dan keterangan lain yang sudah dikumpulkan aparat.
Source: www.viva.co.id








