
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal resmi dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan di Istana Negara, Jakarta, Senin (8/6/2026). Jabatan itu memiliki kedudukan setingkat menteri sesuai Peraturan Presiden Nomor 137 Tahun 2024 tentang Penasihat Khusus Presiden, Utusan Khusus Presiden, Staf Khusus Presiden, dan Staf Khusus Wakil Presiden.
Sebelum pelantikan, Said Iqbal tiba di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, sekitar pukul 15.45 WIB. Ia mengenakan songkok hitam, jas lengkap, dan dasi biru muda, lalu menjelaskan secara singkat posisi yang diterimanya sebagai penasihat khusus presiden di bidang ketenagakerjaan.
Jejak panjang di dunia buruh
Nama Said Iqbal lama dikenal dalam gerakan pekerja Indonesia. Ia aktif membangun karier dari bawah dan kemudian tampil sebagai salah satu tokoh buruh paling berpengaruh di tingkat nasional maupun internasional.
Said Iqbal lahir di Jakarta pada 5 Juli 1968. Ia pernah tercatat sebagai juara umum saat lulus dari SMAN 51 Jakarta pada 1987 sebelum melanjutkan pendidikan ke Politeknik Teknik Mesin Universitas Indonesia.
Setelah itu, ia meraih gelar sarjana teknik mesin dari Universitas Jaya Baya. Pendidikan lanjutannya berakhir dengan gelar magister ekonomi dari Universitas Indonesia, yang menunjukkan latar akademik yang cukup kuat di balik kiprahnya sebagai aktivis buruh.
Perjalanan organisasinya mulai terlihat pada 1992 ketika ia bekerja sebagai staf di sebuah perusahaan elektronika di Kabupaten Bekasi. Dari lingkungan kerja itu, ia masuk ke gerakan buruh dan mulai memahami persoalan yang dihadapi pekerja secara langsung.
Bersama sejumlah tokoh buruh, ia ikut mendirikan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI). Di organisasi tersebut, Said Iqbal menapaki jenjang kepemimpinan dari sekretaris jenderal hingga dipercaya menjadi presiden FSPMI.
Dari serikat pekerja ke panggung nasional
Peran Said Iqbal semakin besar setelah memimpin Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), salah satu organisasi buruh terbesar di Indonesia. Dari posisi itu, ia tampil sebagai wajah gerakan pekerja yang sering menyuarakan isu upah, kontrak kerja, dan perlindungan buruh.
Di tingkat internasional, keterlibatannya juga cukup luas. Berdasarkan laman resmi Partai Buruh, ia pernah aktif di PC SP LEM SPSI, PC FSPMI, sekretaris DPP FSPMI, central committee Serikat Buruh Metal Sedunia atau IMF, wakil presiden Serikat Pekerja ASEAN atau ATUC, general council Konfederasi Serikat Buruh Sedunia atau ITUC, serta presiden DPP FSPMI.
Pengakuan internasional terhadap kiprahnya datang pada 2013. Saat itu, ia menerima penghargaan Tokoh Buruh Terbaik Dunia atau The Febe Elisabeth Velasquez Award dari serikat pekerja Belanda, FNV.
Penghargaan tersebut diraih setelah ia menyisihkan sekitar 200 kandidat dari berbagai negara. Pemberian penghargaan itu didasarkan pada perjuangannya membela hak-hak buruh dan kebebasan berserikat di Indonesia.
Gerakan, negosiasi, dan aksi
Dalam gerakan buruh, Said Iqbal dikenal dengan pendekatan KLA, yakni konsep, lobi, dan aksi. Pola itu membuatnya tidak hanya identik dengan demonstrasi, tetapi juga dengan kerja negosiasi dan penyampaian argumentasi berbasis data.
Salah satu gerakan yang paling dikenal dari kiprahnya adalah Hostum, singkatan dari hapus outsourcing dan tolak upah murah. Gerakan ini memicu mogok nasional besar pada periode 2012 hingga 2013 dan menjadi salah satu gelombang aksi buruh terbesar di Indonesia saat itu.
Di sisi lain, ia juga terlibat dalam Komite Aksi Jaminan Sosial atau KAJS. Lewat jalur itu, Said Iqbal ikut mendorong lahirnya sistem jaminan sosial yang lebih luas bagi pekerja.
Perjuangan tersebut berkontribusi pada hadirnya Jaminan Kesehatan Nasional melalui BPJS Kesehatan dan program Jaminan Pensiun bagi buruh. Isu perlindungan sosial ini menjadi salah satu garis perjuangan yang konsisten ia bawa dalam aktivitas organisasi.
Mengaktifkan kembali Partai Buruh
Selain memimpin serikat pekerja, Said Iqbal juga memegang peran penting dalam kebangkitan Partai Buruh. Partai itu pertama kali berdiri pada 1998, tetapi kemudian vakum cukup lama sebelum diaktifkan kembali pada 2021.
Dalam proses reaktivasi itu, ia menghimpun sejumlah organisasi serikat pekerja sebagai basis dukungan politik. Di antaranya KSBSI, FSPMI, KSPSI, dan KSPI.
Pada kongres 2021, Said Iqbal menjadi calon ketua umum tunggal dan terpilih memimpin partai tersebut. Sejak saat itu, Partai Buruh tampil lebih aktif dalam menyuarakan isu ketenagakerjaan di ruang politik nasional.
Partai Buruh kemudian dikenal sebagai salah satu pihak yang keras mengkritisi Undang-Undang Cipta Kerja atau UU Nomor 11 Tahun 2020. Said Iqbal kerap memimpin aksi unjuk rasa untuk menuntut pembatalan sejumlah pasal, dan partai itu juga menggugat undang-undang tersebut ke Mahkamah Konstitusi pada 2024.
Sebelum aktif melalui Partai Buruh, ia sempat mencoba masuk ke parlemen lewat Pemilu Legislatif 2009 sebagai calon anggota DPR dari Partai Keadilan Sejahtera. Upaya itu tidak membawanya ke kursi legislatif, tetapi tidak menghentikan perannya di gerakan buruh.
Dalam peta politik nasional, Said Iqbal dikenal sebagai salah satu pendukung Prabowo Subianto. Ia menyatakan dukungan kepada Prabowo pada Pilpres 2019 dan mempertahankan posisi politik itu pada Pilpres 2024.
Partai Buruh yang dipimpinnya juga menjadi mitra Partai Gerindra dalam sejumlah kontestasi pemilihan kepala daerah di berbagai wilayah. Di beberapa daerah, partai itu mendukung pasangan calon yang diusung Gerindra, meski pada wilayah lain konfigurasi politiknya berbeda.
Kehadiran Said Iqbal di lingkaran istana sebagai penasihat khusus presiden bidang ketenagakerjaan menempatkan tokoh buruh berpengaruh ini pada jalur yang lebih dekat dengan pengambilan kebijakan. Pada peringatan May Day 2026, Partai Buruh juga masih aktif menyuarakan tuntutan ketenagakerjaan sambil merayakan Hari Buruh Sedunia bersama Presiden Prabowo di Monas.
Source: www.beritasatu.com








