5 Curhatan RA Kartini kepada Stella yang Mengguncang Cara Pandang tentang Nasib Perempuan

Menjelang Hari Kartini, perhatian publik kembali tertuju pada surat-surat Raden Adjeng Kartini kepada sahabat penanya di Eropa, terutama Stella Zeehandelaar. Korespondensi itu penting karena memuat kegelisahan Kartini tentang nasib perempuan pribumi di Hindia Belanda, sekaligus gagasan awal tentang emansipasi yang kelak sangat berpengaruh di Indonesia.

Stella menjadi lawan bicara intelektual yang membantu Kartini menyalurkan pikiran dan kritiknya secara lebih bebas. Melalui surat-surat itu, tersimpan bukan sekadar curahan hati, melainkan catatan tajam tentang ketidakadilan gender, tradisi yang mengekang, dan keyakinan bahwa pendidikan bisa menjadi jalan perubahan.

Siapa Stella Zeehandelaar

Stella Zeehandelaar adalah perempuan Belanda yang aktif sebagai penulis, feminis, dan bagian dari gerakan sosial progresif di Eropa pada akhir abad ke-19. Ia memiliki akses luas ke pendidikan tinggi, literatur progresif, dan diskusi sosial-politik yang berkembang di Amsterdam.

Hubungan Kartini dan Stella mulai terjalin sekitar 1899 ketika Kartini mencari sahabat pena dari Eropa melalui iklan korespondensi. Dari sana, komunikasi keduanya berkembang menjadi ruang pertukaran gagasan yang intens dan berpengaruh bagi pemikiran Kartini.

Keluhan tentang perempuan yang tidak bebas menentukan hidup

Dalam surat-suratnya, Kartini berkali-kali menyoroti posisi perempuan Jawa yang ia anggap tidak bebas. Ia menulis bahwa perempuan tidak memiliki kuasa atas hidupnya sendiri dan tidak leluasa menentukan masa depannya.

Kartini menggambarkan situasi itu sebagai bentuk ketidakadilan yang nyata. Ia melihat perempuan kerap dipaksa menerima pilihan keluarga dan adat, termasuk dalam urusan pernikahan.

Salah satu pernyataannya yang paling dikenal berbunyi, “Kami tidak memiliki hak untuk menjalani hidup kami sendiri.” Ia juga menegaskan, “Kami gadis-gadis Jawa tidak bebas, tidak boleh menentukan nasib kami sendiri.”

Pendidikan sebagai jalan keluar dari ketertinggalan

Dari surat-surat itu, terlihat jelas bahwa Kartini menempatkan pendidikan sebagai inti perjuangan. Ia percaya perempuan yang berpendidikan dapat keluar dari ketertindasan dan memiliki daya untuk memperbaiki nasibnya sendiri.

Kartini memahami bahwa keterbatasan akses belajar membuat perempuan terus berada dalam posisi yang lemah. Karena itu, ia mendorong pendidikan sebagai hak dasar, bukan sebagai keistimewaan.

Ia juga melihat manfaat yang lebih luas dari pendidikan perempuan. Menurut Kartini, perempuan terdidik tidak hanya mengubah hidupnya sendiri, tetapi juga ikut membentuk generasi berikutnya dan membawa kemajuan bagi masyarakat.

Penolakan pada adat yang menekan perempuan

Kartini tidak menolak budaya Jawa secara keseluruhan. Ia justru menghargai tradisi, tetapi mengkritik praktik yang merugikan perempuan, terutama pingitan, poligami, dan perkawinan paksa.

Dalam salah satu suratnya, Kartini menggambarkan bagaimana tubuh dan perilaku perempuan diatur begitu ketat oleh lingkungan sosial. Ia menulis bahwa gerak perempuan dibatasi, bahkan cara berjalan pun diperhatikan dan dinilai oleh orang lain.

Ia juga menolak kenyataan bahwa perempuan tidak bisa menolak pernikahan yang ditentukan keluarga. Kartini menegaskan bahwa perempuan seolah tidak boleh punya cita-cita sendiri, karena masa depannya bisa diputuskan orang lain.

Keinginan untuk bebas berpikir dan belajar

Selain menuntut kebebasan dalam hidup sehari-hari, Kartini juga menekankan pentingnya kebebasan berpikir. Ia ingin perempuan memiliki kesempatan belajar, berpendapat, dan memilih jalan hidupnya sendiri.

Ungkapan Kartini tentang hasrat untuk bebas, belajar, dan berkembang menunjukkan betapa kuat perasaan terkungkung yang ia alami. Bagi Kartini, kebebasan tidak hanya soal ruang gerak, tetapi juga soal hak untuk menggunakan pikiran secara merdeka.

Pemikiran itu kemudian tercermin dalam judul asli kumpulan suratnya dalam bahasa Belanda, “Door Duisternis tot Licht”, yang berarti “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Judul tersebut menggambarkan harapan Kartini bahwa pengetahuan dapat membawa perubahan.

Solidaritas perempuan yang melampaui Jawa

Pandangan Kartini tidak berhenti pada persoalan perempuan Jawa saja. Ia melihat persoalan perempuan sebagai isu yang lebih luas dan universal, karena ketimpangan dapat muncul dalam bentuk yang berbeda di berbagai tempat.

Hubungannya dengan Stella memperlihatkan bahwa Kartini memahami pentingnya solidaritas lintas budaya. Ia merasa terhubung dengan perempuan di mana pun dan melihat pengalaman mereka sebagai bagian dari perjuangan yang saling berkaitan.

Kartini juga menaruh perhatian pada nilai kesetaraan dalam pengasuhan. Ia menyatakan keinginannya untuk mendidik anak laki-laki dan perempuan agar saling menghormati sebagai sesama manusia dan dibesarkan dengan perlakuan yang setara.

Isi surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar kemudian dihimpun dalam buku “Door Duisternis tot Licht”, yang dikenal luas dalam bahasa Indonesia sebagai “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Dari surat-surat itulah tampak bahwa gagasan Kartini bukan hanya keluhan pribadi, melainkan fondasi penting bagi pemikiran emansipasi perempuan di Indonesia yang hingga kini tetap relevan dalam pembahasan tentang pendidikan, kesetaraan, dan kebebasan berpendapat.

Source: www.beritasatu.com

Terkait