AS-Iran Sepakat Damai, Golkar Desak Pemerintah Cepat Benahi Fiskal RI

Author: Qoo Media

Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI M. Sarmuji menyambut baik pengumuman tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Ia menilai kabar itu menjadi sinyal positif yang lama dinanti karena berpotensi meredakan ketegangan geopolitik yang selama ini menekan ekonomi global.

Sarmuji menyebut perdamaian tersebut bukan hanya penting bagi dua negara yang bertikai, tetapi juga bagi tatanan multilateral dan diplomasi negara-negara berkembang. Ia menegaskan bahwa jalur diplomasi tetap lebih bermartabat dibanding perang, meski prosesnya panjang dan penuh hambatan.

Peran negara mediator dalam perundingan

Dalam keterangannya, Sarmuji menyoroti peran Pakistan, Turki, Qatar, dan Arab Saudi yang ikut memfasilitasi proses perundingan. Menurut dia, keberhasilan mencapai kesepakatan menunjukkan bahwa diplomasi kolektif masih punya ruang besar dalam menyelesaikan konflik internasional.

Ia menilai hasil itu memberi pesan penting bagi dunia bahwa penyelesaian damai tetap mungkin ditempuh meski situasi awal sangat rumit. Pandangan itu, menurutnya, juga sejalan dengan harapan banyak pihak agar ketegangan kawasan tidak lagi berujung pada eskalasi terbuka.

Dampak langsung ke ekonomi Indonesia

Sarmuji meminta pemerintah Indonesia segera membaca peluang dari meredanya konflik tersebut. Ia menekankan bahwa perang AS-Iran telah menimbulkan dampak ekonomi yang luas, termasuk bagi Indonesia yang ikut merasakan tekanan melalui harga energi, inflasi, dan biaya logistik.

Ia menyebut harga minyak dunia perlu turun seiring normalisasi situasi di kawasan. Sarmuji menilai harga energi yang tinggi selama konflik telah membebani APBN lewat subsidi BBM yang membengkak dan ikut menekan daya beli masyarakat.

Ia juga mengingatkan bahwa gangguan di Selat Hormuz telah menghambat rantai pasok global. Kondisi itu memicu kenaikan biaya pengiriman internasional dan pada akhirnya ikut dirasakan konsumen serta pelaku usaha di dalam negeri.

Pemerintah diminta bergerak cepat perbaiki fiskal

Sarmuji menilai momentum damai ini tidak boleh dilewatkan begitu saja. Ia mendorong pemerintah bergerak cepat dan terukur agar manfaat perdamaian benar-benar terasa pada perekonomian nasional.

Ia menyebut langkah pertama yang mendesak adalah evaluasi subsidi energi secara bertahap seiring normalisasi harga minyak dunia. Menurut dia, ruang fiskal yang terbuka bisa dialihkan ke sektor yang lebih strategis seperti infrastruktur, pendidikan, dan perlindungan sosial.

Pada saat yang sama, Sarmuji menilai turunnya premi risiko geopolitik dapat membuat impor minyak dan gas lebih efisien. Dampaknya, biaya produksi domestik berpeluang turun dan tekanan inflasi bisa berkurang.

Peluang dagang dan logistik yang harus dimanfaatkan

Sarmuji juga menekankan pentingnya pembukaan penuh Selat Hormuz bagi kelancaran ekspor-impor. Ia menyebut jalur itu selama berbulan-bulan menjadi titik gangguan utama yang membuat biaya logistik internasional membengkak.

Menurut dia, Indonesia perlu memanfaatkan situasi ini untuk mendorong ekspor non-migas ke kawasan Timur Tengah. Ia juga menyebut perlunya menghidupkan kembali kesepakatan dagang dengan Iran, khususnya di sektor produk pertanian dan manufaktur yang sempat tertunda.

Di sisi lain, Sarmuji mendorong penguatan kerja sama bilateral dengan negara-negara Timur Tengah, termasuk Iran, dalam bidang energi dan perdagangan non-migas. Ia menilai langkah itu bisa membangun kemitraan jangka panjang yang lebih stabil bagi Indonesia.

Sarmuji berharap kesepakatan damai AS-Iran tidak berhenti sebagai gencatan senjata di atas kertas. Ia ingin momentum ini benar-benar menjadi awal rekonstruksi kawasan yang lebih stabil, sekaligus membuka ruang bagi perbaikan ekonomi dan fiskal Indonesia secara nyata.

Source: www.viva.co.id
Terbaru