Kematian dr Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr Icha memicu sorotan besar setelah muncul dugaan intimidasi yang dialaminya saat menangani pasien gigitan ular di RS Leona Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Dugaan itu mengarah pada tiga anggota DPRD TTU, sementara keluarga korban menilai ada perbedaan mendasar antara membentak dan hanya bernada tinggi.
Menurut keterangan keluarga, pemeriksaan medis menyebut dr Icha mengalami depresi berat tanpa gejala psikotik setelah menerima tekanan emosional yang kuat. Paman korban, Fabianus Banase, menyampaikan bahwa kondisi itu muncul usai peristiwa yang diduga melibatkan ucapan keras dari para terlapor.
Keluarga Bantah Alasan “Hanya Bernada Tinggi”
Fabianus menyoroti bantahan dari tiga anggota DPRD TTU yang disebut tidak membentak, melainkan hanya berbicara dengan nada tinggi. Ia mempertanyakan perbedaan dua istilah itu karena, menurut keluarga, dampaknya tetap dirasakan sebagai tekanan yang menyakitkan bagi korban.
“Ini hasil pemeriksaannya,” ujar Fabianus, mengutip temuan medis yang menyebut dr Icha mengalami episode depresi berat tanpa gejala psikotik dan sempat mengalami guncangan hebat. Ia juga menyebut para terlapor dianggap memprovokasi situasi dengan memperdebatkan penanganan pasien yang dilakukan korban.
Fabianus menjelaskan bahwa salah satu terlapor menyoal prosedur penanganan medis, termasuk soal SOP 6 jam. Terlapor lain juga disebut menyudutkan dr Icha dengan menyinggung penggunaan parasetamol dalam penanganan pasien.
Kronologi Singkat yang Diungkap Keluarga
Keluarga menyebut dr Icha sempat dirawat di Rumah Sakit Leona selama sekitar seminggu sebelum akhirnya meninggal dunia. Almarhumah kemudian ditemukan meninggal di rumah orang tuanya di Perumahan RSS Baumata, Kabupaten Kupang.
Fabianus mengatakan keluarga sempat berencana membawa dr Icha ke RS Bhayangkara Kupang untuk pemeriksaan lanjutan. Namun, sebelum rencana itu terlaksana, kabar duka datang pada Jumat, 26 Juni 2026, saat korban ditemukan meninggal dunia.
Ia juga menyampaikan bahwa keluarga menduga ada rangkaian tekanan yang membuat kondisi psikologis almarhumah memburuk. Dalam keterangannya, Fabianus mengutip hasil pemeriksaan yang menyebut korban mengalami guncangan berat hingga melakukan percobaan bunuh diri.
Kemenkes Turun Tangan
Kementerian Kesehatan menyampaikan duka cita atas wafatnya dr Icha dan menegaskan akan mengusut dugaan intimidasi tersebut. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengatakan pihaknya tidak akan membiarkan persoalan ini berhenti pada dugaan semata.
Menurut Aji, Direktorat Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan dan Inspektorat Jenderal Kemenkes sudah menangani kasus itu. Kemenkes juga menyatakan akan melakukan investigasi menyeluruh untuk memastikan rangkaian peristiwa yang dialami almarhumah.
Polisi Juga Menelusuri Kasus Ini
Di sisi lain, Polres Timor Tengah Utara juga mulai menyelidiki dugaan intimidasi yang disebut melibatkan tiga oknum anggota DPRD TTU. Penyelidikan ini dilakukan setelah kasus kematian dr Icha mendapat perhatian luas dan memunculkan tuntutan agar semua pihak menahan diri.
Kasus ini kini menjadi perhatian karena menyentuh dua hal penting sekaligus, yaitu dugaan tekanan terhadap tenaga kesehatan dan penjelasan pihak terlapor yang membantah telah membentak korban. Di tengah proses penyelidikan, keluarga masih menegaskan bahwa persoalan utama bukan sekadar tinggi rendahnya suara, melainkan dampak dari komunikasi yang dianggap menekan kondisi psikis dr Icha.
Source: www.viva.co.id






