Zulhas Dorong Kampus Ciptakan Teknologi Pengolahan Sampah, Solusi Dari Rumah Hingga Industri

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mendorong perguruan tinggi untuk mempercepat lahirnya teknologi pengolahan sampah. Pemerintah menilai persoalan sampah tidak bisa ditangani sendiri dan membutuhkan inovasi kampus dari hulu hingga hilir.

Dorongan itu disampaikan Zulhas saat menjadi pembicara dalam Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains dan Teknologi Indonesia (KSTI) 2026 hari kedua di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta. Ia menekankan bahwa kebutuhan penanganan sampah sangat beragam, mulai dari skala rumah tangga hingga industri besar.

Kampus diminta hadir dengan solusi teknologi

Zulkifli mengatakan penanganan sampah memerlukan perangkat yang berbeda-beda sesuai kebutuhan di lapangan. Ia menyebut teknologi sederhana hingga yang lebih kompleks sama-sama dibutuhkan agar persoalan sampah bisa diselesaikan secara menyeluruh.

“Kalau kita ingin menyelesaikan sampah, semuanya perlu ada alatnya, mulai teknologi yang sederhana sampai yang rumit. Dan itu tidak mungkin kami yang kerjakan. Oleh karena itu, kami meminta kerja sama dengan perguruan tinggi,” ujar Zulkifli Hasan.

Pernyataan itu menegaskan bahwa perguruan tinggi dipandang sebagai mitra strategis dalam penyediaan inovasi. Pemerintah berharap kampus tidak hanya menghasilkan riset, tetapi juga alat dan sistem yang bisa dipakai langsung untuk menjawab kebutuhan daerah.

Arah kebijakan mengikuti instruksi Presiden

Langkah percepatan ini juga disebut sejalan dengan instruksi Presiden Prabowo Subianto. Presiden meminta implementasi teknologi pengolahan sampah skala mikro dari perguruan tinggi dipercepat agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.

Teknologi skala mikro tersebut diharapkan melengkapi fasilitas waste to energy skala besar yang sudah ada. Dengan begitu, penanganan sampah tidak hanya bertumpu pada fasilitas besar, tetapi juga menjangkau tingkat desa dan kelurahan.

Pendekatan itu dinilai penting karena persoalan sampah kerap muncul dari sumber paling dekat dengan masyarakat. Jika teknologi mikro bisa diterapkan di wilayah kecil, beban penanganan di level lanjutan bisa ikut berkurang.

Riset kampus didorong masuk tahap hilirisasi

Pada forum yang sama, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyatakan kesiapan jajarannya untuk menjawab tantangan tersebut. Ia menegaskan riset dari perguruan tinggi perlu langsung diarahkan menjadi solusi nyata bagi masyarakat.

Melalui program Diktisaintek Berdampak, Kemdiktisaintek berkomitmen agar hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium. Riset kampus diharapkan masuk ke tahap hilirisasi sehingga berubah menjadi produk inovasi yang siap digunakan publik.

Arah ini penting agar hasil karya akademik tidak hanya tercatat sebagai dokumen ilmiah atau prototipe. Pemerintah ingin perguruan tinggi menghasilkan teknologi yang benar-benar bisa dipakai untuk menyelesaikan masalah sehari-hari, termasuk pengolahan sampah.

Transformasi lain di sektor pangan juga berjalan

Di luar isu sampah, Zulhas juga memaparkan sejumlah transformasi di sektor pangan. Pemerintah saat ini menyederhanakan regulasi agar kebijakan di lapangan dapat dijalankan lebih cepat.

Beberapa langkah yang tengah berlangsung mencakup reformasi distribusi pupuk bersubsidi, penetapan harga pembelian gabah atau HPP untuk kesejahteraan petani, serta penguatan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Seluruh agenda itu menunjukkan bahwa pemerintah ingin mempercepat eksekusi kebijakan di lapangan, baik pada sektor pangan maupun penanganan sampah.

Dengan melibatkan perguruan tinggi, pemerintah menempatkan inovasi sebagai bagian dari solusi kebijakan publik. Di sisi lain, kampus diminta memperkuat perannya agar teknologi yang dihasilkan dapat menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung, termasuk dalam pengolahan sampah dari skala kecil hingga besar.

Source: www.beritasatu.com

Terkait