Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mulai mendorong arah baru pembelajaran yang tidak berhenti pada kemampuan membaca teks. Lewat kebijakan deep learning atau pembelajaran mendalam, siswa didorong memahami, mengkritisi, dan menerapkan isi bacaan dalam kehidupan sehari-hari.
Langkah ini disampaikan Mendikdasmen Abdul Mu’ti saat menghadiri bedah buku Presiden Solusi: Problem Solving Ala Prabowo Subianto dalam rangka Hari Pustakawan Indonesia 2026 di Perpustakaan Kemendikdasmen, Jakarta, Selasa (7/7/2026). Menurut dia, penguatan literasi harus berjalan seiring dengan kemampuan memecahkan masalah sejak dini.
Literasi yang tidak berhenti di membaca
Abdul Mu’ti menilai kebiasaan membaca perlu berkembang menjadi proses berpikir yang lebih dalam. Dalam kebijakan deep learning, peserta didik didorong untuk me-review buku, menjelaskannya dengan bahasa sendiri, lalu mengaitkannya dengan pengalaman pribadi maupun lingkungan sekitar.
Ia juga menekankan bahwa komitmen Presiden Prabowo terhadap literasi generasi muda menjadi salah satu dasar lahirnya terobosan kebijakan di lingkungan Kemendikdasmen. Karena itu, membaca tidak lagi diposisikan sebagai aktivitas pasif, melainkan sebagai pintu masuk untuk membangun nalar kritis.
| Fokus Kebijakan | Arah Penguatan | Dampak yang Diharapkan |
|---|---|---|
| Deep learning | Mendorong siswa mengkritisi dan mengaplikasikan bacaan | Literasi lebih kuat dan problem solving lebih terasah |
| Kebiasaan membaca | Membaca, me-review, dan menjelaskan ulang dengan bahasa sendiri | Peserta didik lebih berani berpikir dan berpendapat |
“Dalam deep learning, kita dorong agar anak-anak lebih berani untuk membaca buku, me-review buku itu, dan menjelaskannya dengan bahasa mereka sendiri,” ujar Abdul Mu’ti. Ia menambahkan bahwa anak-anak juga perlu diajak mengeksplorasi apa yang mereka lihat di alam dan pengalaman hidup mereka.
Pustakawan dan perpustakaan ikut berubah
Dalam momentum Hari Pustakawan Indonesia yang diperingati setiap 7 Juni, Abdul Mu’ti menyoroti perubahan peran pustakawan. Menurut dia, pustakawan kini bukan hanya penjaga rak buku, tetapi penggerak literasi, kurator informasi, dan mitra strategis dalam membangun ekosistem pendidikan yang bermutu.
Sejalan dengan itu, Kemendikdasmen mendorong perpustakaan sekolah dan perpustakaan komunitas bertransformasi menjadi learning commons yang aktif, inklusif, dan inspiratif. Perpustakaan diharapkan menjadi ruang belajar, ruang dialog gagasan, ruang penguatan literasi, dan simpul kolaborasi.
“Perpustakaan bukan lagi ruang pasif tempat buku disimpan dan dipinjamkan, melainkan telah bertransformasi menjadi ruang belajar, ruang dialog gagasan, ruang penguatan literasi, sekaligus simpul kolaborasi,” tegasnya.
Pesan untuk pelajar dan agenda literasi nasional
Di hadapan para peserta didik berprestasi yang hadir, Mendikdasmen meminta mereka menjadikan membaca sebagai kebiasaan hidup, bukan sekadar kewajiban akademis. Ia menilai kemampuan problem solving dan berpikir kritis sebagai modal utama kompetensi abad ke-21 yang harus dipupuk sejak bangku sekolah.
Acara bedah buku itu turut menghadirkan penulisnya sebagai narasumber, yakni Kepala Bakom Muhammad Qodari, Asisten Khusus Presiden Dirgayuza Setiawan, dan Agung Gunilan Saputra. Forum tersebut diharapkan dapat menjadi agenda rutin dan berkelanjutan dalam kalender literasi nasional untuk memperkuat budaya baca sekaligus budaya mencari solusi di lingkungan pendidikan Indonesia.
Source: www.beritasatu.com






