Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) menegaskan kondisi tanggul di kawasan semburan lumpur masih aman, meski ada pelemahan di sejumlah titik akibat penurunan tanah yang terjadi berkala. Fokus utama saat ini bukan pada isu luberan besar, melainkan pada perubahan arah aliran material lumpur yang kini cenderung bergerak ke sisi barat.
Untuk mengantisipasi pergeseran itu, PPLS mengarahkan lumpur ke kolam-kolam penampungan yang sudah disiapkan. Dari kolam tersebut, lumpur kemudian dialirkan ke Kali Porong agar volume tampungan tetap terkendali.
Situasi Tanggul dan Penurunan Tanah
Pejabat Pelaksana dan Perencanaan PPLS, Fahmi Zamroni, menjelaskan bahwa kondisi di lapangan tidak menunjukkan kegagalan struktur tanggul. Menurut dia, pelemahan yang muncul lebih dipicu oleh subsidence yang juga terjadi di wilayah sekitar, sehingga peninggian rel dan tanggul harus dilakukan secara periodik.
“Pelemahan itu bukan karena kondisi tanggul kita yang jebol. Memang di lokasi ini terjadi penurunan (subsidence), tidak hanya di tanggul saja tapi di wilayah pun terjadi penurunan. Makanya sering dilakukan peninggian secara periodik,” ujar Fahmi Zamroni di lokasi, Jumat (10/7).
Empat Kapal Keruk Disiagakan
Fahmi menyebut PPLS kini mengoptimalkan empat kapal keruk untuk menjaga aliran lumpur tetap masuk ke jalur yang sudah dikendalikan. Armada itu dibagi ke dua zona utama, yakni kolam 42 di sisi utara/timur dan kolam 25 di sisi selatan.
Tugas kapal keruk adalah mengalirkan lumpur ke Kali Porong agar volume yang menumpuk di tampungan bisa berkurang. Langkah ini menjadi penting karena dominasi arus semburan dinilai mulai mengarah ke barat dan perlu segera direkayasa.
| Zona Kolam | Lokasi | Peran | Armada |
|---|---|---|---|
| Kolam 42 | Utara/Timur | Menampung dan menyalurkan lumpur ke Kali Porong | Bagian dari 4 kapal keruk |
| Kolam 25 | Selatan | Menampung dan menyalurkan lumpur ke Kali Porong | Bagian dari 4 kapal keruk |
Anggaran, Kapasitas, dan Penguatan Tanggul
Fahmi tidak menampik kebijakan optimalisasi dan efisiensi anggaran belanja ikut memberi pengaruh pada volume pembuangan lumpur. Namun, ia menegaskan komitmen PPLS untuk mengendalikan luapan lumpur tidak akan berkurang.
Di sisi lain, PPLS juga menyoroti ketinggian lumpur yang kini dilaporkan hampir menyamai bibir tanggul. Sejumlah studi tengah disiapkan untuk menghitung ulang kapasitas riil daya tampung kolam, sekaligus menentukan titik-titik yang membutuhkan penguatan tambahan.
“Ke depannya mungkin memang ada beberapa studi terkait perhitungan kapasitas ketampungan kita, realnya sekarang seperti apa kondisinya. Nanti mungkin ada di beberapa titik yang akan dikuatkan lagi tanggulnya,” tambah Fahmi.
Meski detail teknis penguatan masih dikaji, PPLS bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) disebut akan terus berupaya menjaga keamanan infrastruktur pembatas. Langkah itu ditempuh demi keselamatan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan lumpur Sidoarjo.
Source: mediaindonesia.com






