Pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Denpasar, Bali, resmi dimulai sebagai jawaban atas krisis sampah yang kian mendesak. Fasilitas ini ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2027 dan mampu mengolah hingga 1.500 ton sampah per hari.
Proyek ini menjadi salah satu langkah paling nyata pemerintah untuk mengubah sampah dari beban lingkungan menjadi sumber energi. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari menyebut pembangunan PSEL sebagai bagian dari upaya menghadirkan solusi yang lebih berkelanjutan.
Tekanan Sampah di Bali Makin Berat
Dalam keterangan yang disampaikan Senin (13/7/2026), Qodari mengatakan Presiden RI Prabowo Subianto telah mengingatkan bahwa persoalan sampah adalah masalah bersama yang harus segera diatasi. Menurut dia, penanganan sampah tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara lama.
Ia juga menyoroti ancaman jika sampah tetap dibiarkan menumpuk tanpa pengelolaan terpadu. Qodari menyebut pada 2028 tempat-tempat penampungan sampah berisiko lumpuh total karena kelebihan kapasitas.
Kondisi darurat itu terlihat jelas di Bali, terutama di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung. Dari total timbulan sampah gabungan Kota Denpasar dan Kabupaten Badung yang mencapai sekitar 1.600 ton per hari, lebih dari 72 persen masih dibuang langsung ke TPA.
Proyek Perdana dari Aturan Baru
Pemerintah melalui Danantara Indonesia telah melakukan peletakan batu pertama fasilitas PSEL Denpasar Raya pada 8 Juli 2026. Langkah ini menjadi implementasi perdana Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan Melalui Pengolahan Sampah Menjadi Energi Terbarukan Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.
Fasilitas tersebut memiliki nilai investasi Rp 3 triliun dan memakai teknologi moving grate incinerator. Teknologi ini mengaduk dan mendorong sampah secara otomatis melewati ruang bakar bersuhu tinggi.
| Aspek | Detail |
|---|---|
| Lokasi | Denpasar Raya, Bali |
| Target operasi | Akhir 2027 |
| Kapasitas olah | 1.500 ton per hari |
| Nilai investasi | Rp 3 triliun |
| Teknologi | Moving grate incinerator |
Volume Sampah Bisa Turun Drastis
Sistem ini diklaim mampu mereduksi volume sampah sekitar 80 sampai 90 persen sekaligus mengubahnya menjadi energi listrik. Sisa timbulan sampah tetap akan ditangani melalui pendekatan Reduce, Reuse, dan Recycle dari sumbernya.
Qodari menegaskan proyek ini bukan sekadar membangun gedung atau mesin. Menurutnya, fasilitas itu dirancang sebagai solusi jangka panjang untuk memulihkan hak masyarakat atas lingkungan yang bersih dan sehat.
PSEL Bali juga diproyeksikan menjadi pelopor bagi wilayah lain di Indonesia. Ke depannya, fasilitas serupa ditargetkan hadir di 34 kawasan aglomerasi untuk membantu penyelesaian persoalan sampah di 60 hingga 70 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia.
Selain dampak lingkungan, proyek ini juga diperkirakan membawa efek ekonomi. Qodari menyebut PSEL di Denpasar Raya dapat menyerap sekitar 1.200 lapangan kerja hijau, menarik investasi teknologi hijau, dan membentuk ekosistem perputaran ekonomi yang sehat.
Ia berharap kebijakan ini mampu membersihkan lingkungan, menekan tumpukan sampah yang mengancam kesehatan warga, serta ikut mengurangi emisi gas rumah kaca. Pemerintah, kata Qodari, berkomitmen memastikan pembangunan fasilitas tersebut berjalan cepat dan tepat sasaran.
Source: news.detik.com






