Persediaan rudal utama militer Amerika Serikat terus menipis setelah konflik dengan Iran kembali memanas. Situasi ini memunculkan kekhawatiran baru karena Washington bisa kehilangan ruang aman jika harus menghadapi krisis lain secara bersamaan, terutama di Indo-Pasifik.
Mark Cancian dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) menilai laju pemakaian amunisi dalam beberapa hari terakhir sangat mengkhawatirkan. “Jika perang berlanjut dengan laju seperti lima hari terakhir, persediaan rudal akan semakin terkuras sehingga menciptakan tingkat risiko baru yang lebih tinggi, khususnya di kawasan Indo-Pasifik,” ujarnya seperti dikutip CNN International.
Stok senjata yang terpakai jauh lebih besar dari penggantinya
Pada fase awal konflik yang disebut Operasi Epic Fury, militer AS disebut menghabiskan ribuan rudal presisi jarak jauh dan rudal pertahanan udara untuk menghadapi serangan Iran. Michael O’Hanlon dari Brookings Institution mengatakan kondisi stok amunisi saat ini jauh dari ideal dan menegaskan, “Tidak diragukan lagi persediaan senjata lebih rendah dari yang kami inginkan.”
| Jenis Rudal | Perkiraan Pemakaian | Pengisian Ulang |
|---|---|---|
| THAAD | Setengah stok telah habis | Tidak ada pengiriman yang dijadwalkan sepanjang 2026 |
| Patriot | Hampir separuh stok telah habis | Sekitar 20 rudal baru per bulan |
| Tomahawk | Sekitar 30% stok telah habis | Sekitar 15 rudal baru per bulan |
Analisis CSIS menyebut hingga pertempuran besar dengan Iran mereda pada April lalu, Pentagon telah menghabiskan sedikitnya setengah stok pencegat rudal balistik THAAD, hampir separuh rudal pertahanan udara Patriot, serta sekitar 30% rudal jelajah Tomahawk. CNN sebelumnya juga mengonfirmasi estimasi itu melalui sejumlah sumber yang mengetahui data internal Departemen Pertahanan AS.
Masalahnya, pengisian kembali stok berjalan sangat lambat. Cancian mengatakan Pentagon saat ini hanya menerima sekitar 15 rudal Tomahawk dan 20 rudal Patriot baru setiap bulan, sementara tidak ada pengiriman rudal THAAD yang dijadwalkan sepanjang 2026.
Menurut perhitungan CSIS, diperlukan sedikitnya tiga tahun untuk mengembalikan stok ke tingkat sebelum perang. Elaine McCusker dari American Enterprise Institute memperkirakan proses itu bahkan bisa memakan dua hingga lima tahun untuk sebagian besar jenis persenjataan.
Tekanan anggaran dan produksi masih jadi hambatan
John Ferrari, pakar pengadaan pertahanan, mengatakan Kongres belum mengalokasikan dana khusus untuk mengganti rudal yang sudah dipakai sejak perang dimulai. Pemerintahan Presiden Donald Trump memang telah meminta tambahan anggaran untuk menutup biaya konflik Iran, tetapi usulan itu diperkirakan akan menghadapi pembahasan yang sulit.
Di sisi lain, Pentagon menyatakan tengah mempercepat perluasan kapasitas industri pertahanan. Trump juga mengaktifkan Defense Production Act pada Juni untuk memangkas hambatan regulasi dan mempercepat produksi rudal.
“Departemen secara agresif mengejar inovasi terbaik Amerika untuk meningkatkan produksi dalam skala besar sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok,” kata seorang pejabat Pentagon.
Namun Cancian menilai langkah itu hanya memberi dampak terbatas dalam jangka pendek, karena peningkatan kapasitas produksi tetap membutuhkan waktu. AS juga berupaya meringankan beban produksi dengan memberi lisensi kepada negara mitra seperti Jerman dan Ukraina untuk memproduksi rudal Patriot di dalam negeri.
Proses itu pun tidak cepat. Jepang membutuhkan sekitar tiga tahun untuk membangun fasilitas produksi Patriot, sementara Jerman belum memproduksi rudal tersebut meski proyeknya telah dimulai sejak 2022.
Meski Pentagon menegaskan militer AS masih memiliki kemampuan penuh untuk menjalankan seluruh operasi yang diperintahkan presiden, para analis memperingatkan bahwa pengurasan stok rudal yang terus berlanjut dapat mengikis daya tangkal AS dalam jangka panjang. O’Hanlon menilai kemampuan pencegahan terhadap China maupun Korea Utara belum melemah saat ini, tetapi ia mengingatkan bahwa pada titik tertentu efektivitas deterrence bisa menurun jika persediaan senjata terus menyusut.
Source: www.cnbcindonesia.com






