Dari Usaha Rp3 Miliar hingga Santri Gratis, Ponpes Thohir Yasin Bangun Ekonomi Mandiri

Author: Qoo Media

Unit usaha yang dikelola Ponpes Thohir Yasin di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, telah mencatat omzet sekitar Rp3 miliar per tahun. Pemasukan tersebut membantu pondok menutup sekitar 70 persen kebutuhan operasional sekaligus membiayai pendidikan santri dari keluarga kurang mampu.

Model usaha pesantren ini tidak hanya berorientasi pada kebutuhan internal pondok. Kegiatan ekonomi yang berjalan juga membuka pekerjaan bagi sekitar 150 warga di sekitar pesantren, dari sektor pertanian hingga perdagangan.

Cita-cita Mandiri Sejak Berdiri

Pesantren Salaf Modern Thohir Yasin berada di Lendang Nangka, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur, di kawasan kaki Gunung Rinjani. Sejak berdiri pada 1990, pondok ini menargetkan pembiayaan guru dan pembangunan dapat ditopang dari usaha sendiri.

Pimpinan pesantren, TGH Ismail Thohir, menyebut perkembangan unit usaha dalam beberapa tahun terakhir memberi hasil positif. Selain dapat menggaji guru, pondok kini menanggung biaya pendidikan bagi sekitar seratusan anak dari kelompok yatim piatu, fakir miskin, dan keluarga dengan kondisi ekonomi lemah.

Menurut laporan www.medcom.id, pengelolaan usaha tersebut dijalankan melalui BUMPes Harmoni, atau Badan Usaha Milik Pesantren. Badan usaha ini menggabungkan kegiatan pertanian, peternakan, pengolahan hasil, jasa, hingga bisnis digital.

Bidang Usaha Kegiatan Peran bagi Pesantren
Pertanian Padi, rice milling, serta pemanfaatan sekam Mendukung konsumsi dan pengolahan hasil pertanian
Peternakan Budidaya ayam dan pemotongan hewan Memasok kebutuhan pasar dan melibatkan mitra warga
Jasa dan perdagangan Laundry, barbershop, AMDK, serta perdagangan Menciptakan lapangan kerja bagi warga sekitar
Digital Aplikasi Sistem Informasi Digital Kolektif atau SIDIK Mengelola pembayaran dan transaksi santri

Pertanian Terpadu dari Hulu ke Hilir

Salah satu fondasi Kemandirian Ekonomi Pesantren di Thohir Yasin adalah penerapan integrated farming atau pertanian berkelanjutan. Sistem ini menghubungkan produksi padi, penggilingan beras, kebutuhan konsumsi pondok, hingga pemanfaatan sisa produksi sebagai sekam dan pupuk.

Direktur Badan Usaha Pondok Pesantren, Syahrullah, menjelaskan hasil pertanian tidak berhenti pada panen. Padi yang masuk ke rice milling digunakan untuk konsumsi pondok, sedangkan sisa prosesnya kembali dimanfaatkan bagi kegiatan pertanian.

Pengembangan sistem terpadu itu didukung Bank Indonesia melalui pembangunan green house, Rumah Potong Unggas, dan mesin gilingan gabah. Dukungan ini menjadi bagian dari peningkatan kapasitas usaha yang dikelola pesantren.

Ayam dan Program Makan Bergizi Gratis

Peternakan ayam menjadi sumber pemasukan lain bagi BUMPes Harmoni, termasuk melalui permintaan dari Program Makan Bergizi Gratis. Syahrullah menyebut sekitar 20 persen penyerapan usaha berasal dari program tersebut, dengan pesanan ayam yang pada waktu tertentu dapat mencapai 1 ton per hari.

Untuk menjaga pasokan, pesantren melibatkan warga yang memiliki kandang sebagai mitra ternak. Mitra menerima bibit dan pakan untuk dipelihara, lalu ayam yang telah besar diambil kembali oleh pengelola usaha.

Skema itu memperluas dampak ekonomi pesantren ke masyarakat sekitar. Keterlibatan warga tidak hanya ada pada peternakan, tetapi juga pada pertanian, perkebunan, laundry, barbershop, produksi air minum dalam kemasan, dan perdagangan.

SIDIK untuk Transaksi Santri

Selain mengembangkan usaha berbasis produksi, BUMPes juga merambah layanan digital lewat Sistem Informasi Digital Kolektif atau SIDIK. Aplikasi yang mulai diterapkan pada 2023 itu dipakai untuk pembayaran dan tagihan santri di lingkungan pesantren.

SIDIK berfungsi sebagai dompet digital yang dapat diisi serta dipantau oleh wali santri. Orang tua juga dapat mengatur batas transaksi anak, dan saat ini aplikasi tersebut telah digunakan oleh tiga pesantren.

Pelatihan Usaha bagi Santri

Unit usaha di Ponpes Thohir Yasin turut dijadikan ruang praktik kewirausahaan bagi santri. Pelatihan ini diarahkan agar lulusan tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki ikhtiar membangun usaha dan membuka lapangan kerja.

Bank Indonesia dan Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren atau HEBITREN turut memberi pembinaan, termasuk dalam pengelolaan keuangan. Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTB, Andhi Wahyu Riyadno, menekankan pentingnya pemisahan manajemen keuangan usaha dan manajemen santri agar pengelolaannya rapi.

HEBITREN juga mendorong pesantren mengumpulkan serta memberdayakan wakaf menjadi unit usaha yang dikelola bersama. Upaya tersebut memperkuat arah Ponpes Thohir Yasin untuk menjaga operasional pondok melalui kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.

Source: www.medcom.id
Terbaru