Persoalan food waste atau limbah pangan saat ini menjadi salah satu tantangan besar bagi ketahanan pangan nasional. Setiap tahun, Indonesia mengalami kehilangan dan pemborosan pangan mencapai 48 juta ton. Situasi ini tidak hanya berimplikasi negatif terhadap ekonomi dan lingkungan, tetapi juga menunjukkan adanya ketimpangan sosial yang mendalam. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD), Indah Budiani, dalam konferensi Nusantara Food & Hotel 2025 di Jakarta.
Dalam acara tersebut, Indah menekankan pentingnya komitmen dari sektor bisnis untuk mengatasi masalah ini. Menurutnya, pengurangan sisa pangan bukan hanya tanggung jawab sosial, melainkan juga merupakan peluang untuk efisiensi operasional dan inovasi produk. "Konsumen, khususnya generasi muda, semakin memperhatikan kesehatan dan keberlanjutan. Jadi, merupakan keuntungan tersendiri bagi perusahaan yang berinisiatif mengurangi food waste," ujarnya.
Langkah-langkah Pengurangan Food Waste
Nita Yulianis, Direktur Kewaspadaan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), menegaskan perlunya tiga langkah utama untuk mengatasi isu ini: pencegahan timbulan sisa makanan, penanganan sisa pangan, dan pencatatan. "Kami memahami bahwa banyak hal sudah dilakukan, tetapi penting untuk terus menggaungkan ketiga langkah ini," jelasnya.
Chairwoman GRASP 2030 dan Head of Sustainability Nutrifood, Angelique Dewi, menyoroti pentingnya memulai dari langkah-langkah sederhana. Ia mendorong pelaku usaha untuk mengukur jumlah food waste di operasional mereka sebagai bentuk efisiensi. "Kita tidak perlu melakukan inovasi besar-besaran. Mengukur food waste adalah titik awal yang baik," ungkapnya.
Inisiatif Kolaboratif dalam Penanganan Food Waste
Pada kesempatan itu, IBCSD meluncurkan inisiatif "Gotong Royong Atasi Susut dan Sisa Pangan di 2030" (GRASP 2030). Dalam inisiatif ini, sejumlah asosiasi bisnis menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) untuk berkolaborasi dalam mengatasi food waste. Di antara yang hadir adalah Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), serta PISAgro. Unilever juga turut bergabung sebagai salah satu penandatangan perjanjian sukarela.
Tantangan dalam Sektor Pangan
Dari diskusi yang berlangsung dalam sesi talk show, beberapa tantangan muncul dari berbagai sektor. Gapmmi mengangkat isu mengenai over produksi yang sering kali disebabkan oleh perubahan cepat dalam preferensi konsumen. Sementara itu, Aprindo menekankan perlunya manajemen stok yang efektif di sektor ritel untuk meminimalisir kehilangan pangan.
Pisagro, sebuah organisasi yang berfokus pada pendampingan petani, berbagi pengalaman dalam membantu para petani supaya dapat memproduksi secara efisien, sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya food waste. Mereka berupaya memperbaiki tidak hanya proses produksi, tetapi juga rantai distribusi yang seringkali menjadi tempat terjadinya pemborosan.
Komitmen untuk Masa Depan yang Berkelanjutan
Dengan berbagai langkah yang diambil dan sinergi antar pihak, diharapkan masalah food waste dapat diatasi. Penanganan limbah pangan sangat penting untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional. Menurut Indah Budiani, perusahaan yang aktif dalam mengurangi food waste tidak hanya meningkatkan reputasinya di mata konsumen tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan.
Dalam konteks yang lebih luas, kolaborasi ini menunjukkan harapan untuk menciptakan sistem pangan yang lebih efisien dan adil. Perlunya peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengurangan food waste juga menjadi kunci langkah menuju ketahanan pangan yang lebih baik di Indonesia.
Sebagai penutup, upaya untuk mengurangi food waste dan meningkatkan ketahanan pangan harus menjadi tanggung jawab bersama. Setiap individu dan pelaku usaha diharapkan dapat berpartisipasi aktif dalam inisiatif ini demi masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan.





