Mengembangkan ekonomi desa dengan membuka peluang kerja menjadi fokus utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Di tengah tantangan yang dihadapi, inovasi dan keterlibatan generasi muda seperti Brili Agung Zaky Pradika menjadi contoh konkret bagaimana sektor pertanian bisa dimodernisasi dan didorong untuk berkontribusi terhadap lapangan kerja.
Brili, seorang petani milenial asal Banyumas, Jawa Tengah, mengungkapkan bahwa lebih dari 90% petani di Indonesia berusia di atas 50 tahun. Hal ini menandakan kebutuhan mendesak akan regenerasi dalam sektor pertanian. Usahanya di bidang agribisnis dimulai setelah ia kembali dari dunia perhotelan, menandakan bahwa kecintaan terhadap tanah dan pertanian tidaklah kalah menarik dibanding pekerjaan di sektor lain.
Dengan melibatkan sekitar 80 petani muda, Brili mengembangkan areal pertanian jeruk lemon dan alpukat di dua desa, memperluas peluang kerja bagi masyarakat setempat. “Kami tidak hanya membangun usaha, tetapi juga jejaring petani milenial, sehingga memiliki sekitar 300 komoditas dari berbagai daerah,” ujarnya. Data menunjukkan bahwa investasi dalam pertanian oleh generasi muda dapat membantu menurunkan angka pengangguran, sejalan dengan riset yang dilakukan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman, yang menekankan pentingnya pembiayaan untuk sektor UMKM.
Keterlibatan perbankan seperti CIMB Niaga dalam memberikan pembiayaan kepada petani juga menjadi faktor penting. Brili menjelaskan, dengan adanya dukungan pembiayaan, ia dapat membayar langsung kepada petani saat mengirimkan komoditasnya. Ini bukan hanya mempercepat aliran kas, tetapi juga menjamin kesejahteraan petani yang terlibat. Dalam hal ini, CIMB Niaga mengadopsi pendekatan inovatif dengan menyediakan layanan digital yang memudahkan transaksi dan akses keuangan bagi UMKM.
Sektor UMKM, yang mencakup hampir 89 ribu usaha di Banyumas, terbukti menjadi penopang ekonomi lokal bahkan di masa krisis. Kepala Dinas Tenaga Kerja, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah Banyumas, Wahyu Dewanto, menyatakan bahwa UMKM merupakan solusi resilien dalam menghadapi krisis. “UMKM secara konsisten menunjukkan daya juang yang tinggi,” tuturnya. Dukungan perbankan dalam bentuk pembiayaan dan teknologi seperti QRIS diharapkan dapat mendorong pertumbuhan UMKM lebih lanjut, sehingga meningkatkan penyerapan tenaga kerja.
Pentingnya kolaborasi antara perbankan dan sektor usaha ini selaras dengan upaya demi pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. CIMB Niaga mencatatkan bahwa sekitar 25% dari total portofolio pembiayaannya diarahkan untuk mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDG). Keberlanjutan ini dipandang esensial tidak hanya untuk membantu umkm tapi juga untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan.
Dalam konteks penyebaran komoditas, Brili juga telah mulai mengekspor produk pertaniannya, seperti lemon, ke Amerika Serikat. Ia mengatakan bahwa pengiriman luar negeri menjadi salah satu strategi untuk menghadapi turunnya daya beli di dalam negeri. “Ekspor adalah salah satu solusinya, terutama dengan melakukan jejaring kepada petani di daerah lain,” jelas Brili. Ini menunjukkan bahwa peluang pasar tidak hanya ada di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri, dan keterlibatan pemuda dapat membantu mewujudkan potensi tersebut.
Implementasi teknologi dalam pertanian, kata Brili, juga berperan penting dalam menciptakan peluang kerja baru. Pembayaran digital dan pemasaran online menjadi alternatif yang lebih praktis dan efisien. Pemuda di desa kini memiliki akses yang lebih besar terhadap pasar, yang sebelumnya hanya terfokus di pasar lokal.
Sebagai langkah ke depan, penting untuk terus menggali potensi sumber daya alam yang ada serta meningkatkan kemampuan generasi muda dalam berkewirausahaan. Sinergi antara perbankan, pemerintah, dan masyarakat perlu terus diperkuat untuk mewujudkan tujuan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan.
Dengan semangat inovasi dan kewirausahaan, desa-desa di Indonesia bisa menjadi pusat pertumbuhan yang berkelanjutan dan mampu menyerap tenaga kerja secara efektif. Ketika komunitas berkolaborasi dengan berbagai pihak, transformasi ekonomi yang terjadi akan bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat. Hal ini bukan hanya menjadi harapan, tetapi sebuah kebutuhan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih sejahtera.
