Karhutla di Sungai Rotan: 10 Hektare Terbakar, Ancaman Meluas

Author: Qoo Media

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Suka Jadi, Kecamatan Sungai Rotan, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, semakin meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mengonfirmasi bahwa luas lahan yang terbakar kini mencapai 10 hektare, meningkat dari sebelumnya yang hanya enam hektare. Peristiwa kebakaran ini mulai terjadi pada Sabtu, 26 Juli 2023, dan hingga saat ini, upaya pemadaman masih terus dilakukan.

Kepala Pelaksana BPBD Muara Enim, Abdurrozieq Putra, menyatakan bahwa tim gabungan yang diturunkan berhasil memadamkan sekitar empat hektare lahan sejak kebakaran terjadi. Namun, masih terdapat enam hektare yang mengeluarkan api, didominasi oleh vegetasi semak dan pohon gelam. "Kabut asap yang muncul akibat kebakaran juga mulai membatasi jarak pandang di sekitarnya," jelasnya.

Dalam menghadapi situasi ini, BPBD telah menambah jumlah personel yang terlibat dalam pemadaman menjadi 91 orang. Personel tersebut berasal dari berbagai instansi, termasuk BPBD Posko Gelumbang, Koramil 404-01 Gelumbang, Polsek Sungai Rotan, Polsek Gelumbang, Manggala Agni, serta relawan masyarakat peduli api. Pemerintah desa juga turut berpartisipasi dalam penanganan karhutla ini.

Strategi Pemadaman yang Dilakukan

Karena akses ke lokasi karhutla cukup sulit menggunakan kendaraan roda empat, BPBD memanfaatkan 15 unit sepeda motor pemadam api untuk mempercepat proses pemadaman. Selain itu, beberapa peralatan juga dikerahkan, seperti lima mesin jinjing, 11 unit mesin nozzle, dua unit maxtre, dan delapan pompa gendong untuk menunjang operasi darat.

Tidak hanya itu, untuk memperkuat upaya pemadaman, dua unit helikopter juga dikerahkan. Helikopter tersebut telah melakukan 74 kali penyiraman udara untuk membantu proses pemadaman lahan yang terbakar. Meskipun banyak upaya yang telah dilakukan, lahan yang terbakar masih mengeluarkan asap hingga sore hari.

Dampak Lingkungan dan Kesehatan

Kebakaran lahan tidak hanya berdampak pada kerugian ekonomi, tetapi juga dapat berpotensi menimbulkan masalah kesehatan bagi masyarakat sekitar. Asap yang dihasilkan dari kebakaran ini dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan mengurangi kualitas udara. Oleh karena itu, BPBD dan instansi terkait diharapkan terus memantau perkembangan situasi dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengurangi dampak negatif dari karhutla ini.

Peran Masyarakat dalam Penanganan Karhutla

Keterlibatan masyarakat dalam penanganan karhutla sangat penting. Masyarakat setempat diimbau untuk selalu waspada dan melaporkan jika melihat tanda-tanda kebakaran hutan. Dalam situasi darurat seperti ini, sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai instansi menjadi krusial untuk menghadapi dan mengendalikan kebakaran yang terus meluas.

Dalam beberapa tahun terakhir, karhutla merupakan isu yang terus menjadi perhatian di Indonesia, terutama di daerah-daerah rawan. Penanganan yang cepat dan tepat sangat penting untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan, baik dari segi lingkungan maupun kesehatan.

Sebagai langkah antisipasi ke depan, pemerintah diharapkan dapat meningkatkan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya dan dampak dari karhutla, serta cara-cara pencegahan yang bisa dilakukan. Upaya pencegahan lebih awal jauh lebih efektif dibandingkan dengan penanganan setelah kebakaran terjadi.

Masyarakat dan pemerintah perlu terus bersinergi dalam memitigasi risiko kebakaran hutan dan lahan guna menjaga kelestarian sumber daya alam dan kesehatan publik. Karhutla merupakan masalah serius yang memerlukan perhatian dan tindakan bersama dari semua pihak.

Terbaru