Jonatan Christie Jujur, Indonesia Open Masih Jadi Mimpi yang Belum Tuntas

Jonatan Christie mengakui satu target besar yang belum juga tercapai dalam kariernya, yaitu menjuarai Indonesia Open. Tunggal putra andalan Indonesia itu menyebut turnamen BWF World Tour Super 1000 tersebut sebagai salah satu “wish list” utamanya pada musim ini.

Pernyataan itu ia sampaikan menjelang Polytron Indonesia Open 2026, yang akan digelar di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, pada 2 hingga 7 Juni. Bagi Jonatan, turnamen kandang itu bukan sekadar ajang biasa, melainkan panggung yang punya makna khusus.

Target yang belum pernah selesai

Sejak debut di Indonesia Open pada 2015, Jonatan belum pernah mengangkat trofi di hadapan publik sendiri. Pencapaian terbaiknya baru mencapai semifinal pada edisi 2021, sebelum dihentikan Viktor Axelsen dengan skor 19-21, 15-21.

Setelah itu, langkah Jojo belum konsisten di turnamen yang sama. Ia tersingkir di perempat final pada 2023, lalu terhenti di babak pertama pada 2024 dan babak kedua pada 2025.

“Indonesia Open ini salah satu wishlist saya, untuk bisa menjuarai kejuaraan ini. Jadi memang ini salah satu target utama di tahun ini,” kata Jonatan di Jakarta, Selasa, 14 April 2026, dikutip dari Antara.

Persiapan 100 persen dari semua sisi

Jonatan menyadari ekspektasi publik selalu tinggi ketika Indonesia Open digelar di Istora. Karena itu, ia menegaskan persiapan menuju edisi 2026 akan dilakukan secara maksimal bersama tim pelatih.

Menurutnya, kegagalan pada musim lalu justru memberi pelajaran penting. Ia ingin datang dengan kondisi terbaik, baik dari sisi fisik, teknik, maupun mental bertanding.

“Pasti akan dipersiapkan 100 persen dari segala sisi, karena memang ingin mendapatkan hasil yang terbaik. Tahun lalu mungkin terhenti di babak awal, tapi itu jadi pelajaran,” ujarnya.

  1. Persiapan fisik harus dijaga lebih stabil.
  2. Pola permainan perlu disesuaikan dengan lawan-lawan elite.
  3. Mental bertanding di Istora harus tetap kuat.
  4. Evaluasi dari hasil tahun sebelumnya wajib diterapkan.

Magis Istora dan dukungan penonton

Bagi Jonatan, Istora Gelora Bung Karno selalu punya daya tarik tersendiri. Ia menilai atmosfer arena legendaris itu sulit digantikan karena dukungan penonton Indonesia mampu memunculkan energi tambahan.

“Istora dari dulu tidak pernah berubah, punya magisnya sendiri. Dengan penonton yang luar biasa, saya rasa tidak bisa digantikan dengan stadion lain,” kata peraih emas Asian Games 2018 itu.

Ia berharap para badminton lovers kembali memenuhi tribun dan memberi dorongan penuh kepada para pemain Indonesia. Dukungan langsung, menurut dia, bisa menjadi faktor penting dalam menghadapi lawan-lawan kuat dari berbagai negara.

Persaingan makin ketat di level dunia

Jonatan juga menyoroti perubahan besar dalam peta persaingan bulu tangkis dunia. Ia menilai negara-negara Eropa kini tampil jauh lebih kompetitif dan mampu melahirkan lebih banyak pemain papan atas.

Kemajuan itu, kata dia, tidak lepas dari penerapan sport science yang semakin maju dalam program pembinaan atlet. Situasi ini membuat jalan menuju gelar juara menjadi semakin sulit, termasuk di Indonesia Open yang mempertemukan pemain-pemain terbaik dunia.

“Sekarang negara-negara yang dulu mungkin belum bisa menempatkan pemain di top level, sudah punya beberapa pemain kuat. Itu menunjukkan perkembangan yang sangat pesat,” kata Jonatan.

PBSI jadikan Indonesia Open 2026 ajang pembuktian

PP PBSI melihat Indonesia Open 2026 sebagai momentum penting untuk membangkitkan prestasi di rumah sendiri. Sekretaris Jenderal PP PBSI Ricky Soebagdja menilai status turnamen Super 1000 membuat ajang ini sangat strategis untuk menguji kualitas atlet Indonesia di level tertinggi.

PBSI juga ingin memanfaatkan atmosfer Istora sebagai keunggulan tersendiri. Dalam sejumlah edisi sebelumnya, dukungan publik di arena tersebut kerap memberi tekanan besar bagi lawan dan mengangkat semangat pemain Merah Putih.

Selain target prestasi, PBSI menyiapkan sejumlah inovasi penyelenggaraan untuk meningkatkan pengalaman penonton. Federasi juga menilai kontribusi sponsor penting untuk menjaga keberlanjutan pembinaan atlet agar Indonesia tetap kompetitif dalam jangka panjang.

Nama-nama yang disiapkan tampil

PBSI memproyeksikan cukup banyak pemain Indonesia untuk tampil di Indonesia Open 2026. Jonatan Christie menjadi salah satu andalan utama di tunggal putra, bersama nama lain seperti Alwi Farhan.

Di sektor lain, PBSI juga menyiapkan Fajar Alfian, Muhammad Shohibul Fikri, Putri Kusuma Wardani, serta pasangan muda potensial seperti Febi Setianingrum/Rachel Allessya Rose, Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta, dan Nikolaus Joaquin/Raymond Indra.

Kehadiran para pemain muda itu menunjukkan Indonesia Open 2026 bukan hanya soal memburu gelar, tetapi juga momen penting untuk mengukur kesiapan generasi baru. Bagi Jonatan, turnamen ini tetap menjadi panggung yang paling ingin ia taklukkan, dengan Istora dan dukungan publik sebagai latar dari ambisi yang belum selesai.

Berita Terkait

Back to top button