Bhayangkara FC U-20 akhirnya buka suara terkait insiden tendangan kungfu yang dilakukan Fadly Alberto saat menghadapi Dewa United U-20 di ajang Elite Pro Academy (EPA) U-20. Manajer Bhayangkara FC U-20, Yongky Pandu, menyebut ada dugaan ucapan bernada rasis yang memicu emosi pemainnya hingga terjadi aksi kekerasan di Stadion Citarum, Semarang.
Insiden itu mencuat setelah rekaman videonya beredar luas di media sosial dan memperlihatkan Fadly melakukan tendangan keras ke arah lawan. Dari dokumentasi foto yang ikut tersebar, korban dilaporkan mengalami luka di bagian wajah.
Dugaan pemicu dari ucapan rasis
Yongky menjelaskan bahwa Fadly, yang pernah membela Timnas Indonesia U-17 pada Piala Dunia U-17 2025, mengaku tersulut setelah menerima hinaan fisik. Dalam penjelasannya, pihak klub menyebut ada perlakuan yang diduga bernuansa rasis kepada pemain yang akrab disapa Beto itu.
“Ada pengakuan dari pemain terkait dugaan ucapan rasis yang memancing emosi. Dari pengakuan Beto sendiri, dia merasa ada perlakuan rasis terhadap dia,” kata Yongky Pandu.
Ia menambahkan, ucapan yang diterima Fadly disebut berkaitan dengan warna kulit, meski Bhayangkara FC tetap tidak membenarkan reaksi yang muncul di lapangan. Klub menegaskan bahwa dugaan provokasi verbal tidak menjadi alasan pembenar untuk tindakan kasar.
Bhayangkara FC tetap menolak kekerasan
Pihak manajemen menekankan bahwa tindakan Fadly tidak sesuai dengan nilai pembinaan pemain muda. Yongky menilai level kompetisi usia muda seharusnya menjadi ruang belajar disiplin, kontrol emosi, dan sportivitas.
“Sekali lagi kami tidak membenarkan tindakan pemain kami. Itu jelas tidak baik, apalagi ini level pembinaan,” ujar Yongky.
Sikap klub itu menunjukkan bahwa Bhayangkara FC memilih untuk memisahkan antara dugaan pemicu dan tindakan balasan yang dilakukan pemainnya. Dengan kata lain, meski ada pengakuan soal provokasi, klub tetap melihat aksi tendangan kungfu sebagai kesalahan serius yang tidak bisa diterima.
Ada klaim provokasi dari pihak lawan
Yongky juga menyampaikan bahwa sebelum momen utama dalam video viral tersebut, sempat ada aksi provokasi fisik dari pemain lawan. Pernyataan itu muncul untuk memberi konteks bahwa ketegangan di lapangan tidak terjadi secara tiba-tiba.
“Sehingga dia merasa emosi dan meluapkan emosinya itu ke salah satu pemain di video viral itu. Tapi sebelum itu, pemain Dewa pun juga melakukan tendangan seperti yang dilakukan Beto,” kata Yongky.
Meski begitu, penjelasan tersebut tetap belum mengubah fakta bahwa insiden kekerasan sudah terlanjur terekam dan menjadi sorotan publik. Viral-nya video membuat kasus ini mendapat perhatian luas, termasuk karena melibatkan pemain muda yang sedang berada dalam proses pembinaan.
Tidak ada keterlibatan ofisial tim
Di tengah ramainya kabar soal kericuhan, Bhayangkara FC juga menepis dugaan keterlibatan staf pelatih atau ofisial tim. Yongky memastikan bahwa pihak yang mendampingi tim tidak ikut masuk dalam keributan di area pertandingan.
Pernyataan itu disampaikan untuk meluruskan sejumlah spekulasi yang berkembang setelah video insiden beredar. Klub ingin menegaskan bahwa kericuhan terjadi pada level pemain, bukan karena campur tangan ofisial.
Evaluasi internal dan ancaman sanksi
Setelah insiden tersebut, Bhayangkara FC menyatakan segera melakukan evaluasi internal kepada Fadly Alberto. Klub akan memanggil pemain untuk dimintai penjelasan dan diajak berdiskusi mengenai tindakan yang ia lakukan di lapangan.
“Saat ini kami melakukan evaluasi internal terlebih kepada pemain termasuk Beto. Kami tanya kenapa kamu seperti ini, kami ajak diskusi,” ujar Yongky.
Selain pembinaan internal, Fadly juga disebut berpotensi menghadapi sanksi berat dari Komite Disiplin PSSI. Situasi ini membuat kasus tersebut tidak hanya menjadi urusan disiplin klub, tetapi juga bisa berkembang ke ranah regulasi kompetisi yang lebih luas.







