Drama “Pazza Inter” kembali hidup saat Inter Milan melaju ke final Coppa Italia lewat kemenangan 3-2 atas Como di semifinal. Cristian Chivu menjadi sorotan karena timnya lagi-lagi mampu bangkit setelah sempat tertinggal dua gol, sebuah pola yang juga terjadi saat Inter menang 4-3 atas Como di Serie A pada 12 April lalu.
Hasil tersebut bukan hanya menjaga peluang Inter di Coppa Italia, tetapi juga memperkuat ambisi meraih dua gelar musim ini. Dengan posisi puncak klasemen Serie A dan keunggulan 12 poin, Chivu kini membidik double winner sambil menegaskan bahwa timnya belum selesai dengan pekerjaan besar.
Bangkit dua kali dalam 10 hari
Inter menunjukkan karakter yang kuat ketika menghadapi Como di laga semifinal Coppa Italia. Tertinggal lebih dulu, Nerazzurri membalikkan keadaan melalui dua gol Hakan Calhanoglu dan satu gol penentu dari Petar Sucic.
Pola comeback itu terasa istimewa karena terjadi dua kali dalam waktu hanya 10 hari melawan lawan yang sama. Chivu mengakui tidak banyak tim yang bisa melakukan hal seperti itu, sehingga identitas “Pazza Inter” kembali melekat pada skuad musim ini.
Peran pemain cadangan jadi pembeda
Chivu memberi perhatian besar pada kontribusi pemain pengganti yang masuk dalam momen krusial. Nama-nama seperti Andy Diouf, Petar Sucic, dan Francesco Pio Esposito dinilai mampu mengubah ritme pertandingan saat dibutuhkan.
Dalam wawancara dengan Sport Mediaset, Chivu mengatakan bahwa para pemain pelapis menunjukkan pemahaman yang baik terhadap situasi laga. “Mereka yang datang dari bangku cadangan hari ini memahami momen dan apa yang perlu dilakukan,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa kekuatan Inter tidak hanya bertumpu pada sebelas pemain inti. Skuat yang bekerja konsisten sejak awal musim membuat tim tetap kompetitif saat rotasi diperlukan.
Kondisi Dumfries dan komitmen tim
Chivu turut menjelaskan alasan Denzel Dumfries tidak turun sebagai starter. Bek sayap asal Belanda itu disebut mengalami masalah tendon, namun tetap menunjukkan komitmen untuk membantu tim pada fase akhir pertandingan.
Kehadiran pemain yang siap bermain meski tidak dalam kondisi ideal ikut memperlihatkan betapa kuatnya dorongan kolektif di tubuh Inter. Situasi ini membuat Chivu semakin percaya bahwa skuadnya punya kedalaman untuk mengejar target besar di dua ajang sekaligus.
Peluang ganda di Serie A dan Coppa Italia
Lolos ke final Coppa Italia pada 13 Mei memberi Inter kesempatan besar untuk menambah trofi. Di Serie A, mereka juga berada di posisi teratas klasemen dengan selisih 12 poin, sehingga peluang meraih double winner masih sangat terbuka.
Chivu menyebut pencapaian itu lahir dari kerja keras tim sepanjang musim. “Kami mendapatkan posisi ini dengan kerja keras, menempatkan diri kami pada posisi yang memungkinkan kami untuk bermimpi,” katanya.
Final Coppa Italia nanti akan mempertemukan Inter dengan pemenang laga Lazio melawan Atalanta di Stadion Olimpico. Untuk saat ini, sorotan utama tetap tertuju pada bagaimana Inter menjaga momentum comeback dan mempertahankan tekanan dalam perebutan gelar di dua kompetisi.
