Al Ahli Pertahankan Takhta Asia, Menang 1-0 Atas Machida Lewat Gol Menit 96

Al Ahli berhasil mempertahankan gelar Liga Champions Asia Elite setelah mengalahkan Machida Zelvia 1-0 di Stadion King Abdullah Sports City, Jeddah. Kemenangan itu memastikan klub Arab Saudi tersebut mencatatkan gelar beruntun dan menjadi tim pertama yang melakukannya sejak Al Ittihad pada 2005.

Laga berjalan ketat dan baru ditentukan pada masa perpanjangan waktu. Pemain pengganti Feras Al Buraikan mencetak gol pada menit ke-96 di hadapan 58.984 penonton, setelah Al Ahli bertahan dalam tekanan lawan dan tetap mencari celah hingga akhir pertandingan.

Al Ahli tampil efektif meski bermain dengan 10 pemain

Keberhasilan Al Ahli terasa lebih penting karena tim harus bermain dengan 10 orang sejak menit ke-68. Bek Zakaria Hawsawi mendapat kartu merah langsung usai dianggap melakukan tindakan kekerasan terhadap penyerang Machida Zelvia, Tete Yengi.

Situasi itu membuat Al Ahli harus mengubah pendekatan permainan dan lebih banyak bertahan. Namun, tim tetap mampu menjaga disiplin serta memanfaatkan momen ketika peluang datang di fase akhir pertandingan.

Gol penentu lahir dari kontribusi Riyad Mahrez yang melepas umpan silang, sebelum Al Buraikan menyelesaikannya menjadi gol. Situasi tersebut menegaskan efektivitas Al Ahli dalam memaksimalkan peluang kecil saat tekanan justru meningkat.

Machida Zelvia gagal memanfaatkan keunggulan jumlah pemain

Machida Zelvia sempat berada dalam posisi ideal untuk membalikkan keadaan setelah unggul jumlah pemain. Tim debutan asal Jepang itu tampil dengan gaya permainan fisik yang cukup menyulitkan tuan rumah dan beberapa kali memaksa Al Ahli bekerja keras di lini belakang.

Meski demikian, Machida tidak berhasil mencetak gol dan harus menerima kekalahan pertama mereka dalam fase gugur turnamen ini. Kegagalan itu juga menghentikan peluang mereka untuk langsung membuat sejarah pada musim debut.

Pelatih Machida Zelvia, Go Kuroda, sempat menyebut gaya permainan timnya sebagai “unJapanese”, menggambarkan perhatian terhadap pendekatan fisik yang mereka terapkan. Istilah itu muncul dalam sorotan terhadap karakter permainan Machida yang berbeda dari stereotip umum sepak bola Jepang.

Peran besar Edouard Mendy dan ketangguhan lini belakang

Penampilan kiper Edouard Mendy juga menjadi faktor penting dalam kemenangan Al Ahli. Ia berhasil menggagalkan sejumlah peluang dari Hiroyuki Mae dan Yuki Soma setelah kartu merah yang diterima Hawsawi.

Ketika tekanan Machida meningkat, Mendy menjaga ketenangan tim di belakang dan membantu Al Ahli tetap berada dalam jalur kemenangan. Performa itu memperkuat kesan bahwa gelar ini diraih bukan hanya lewat serangan, tetapi juga lewat kedisiplinan bertahan.

Al Ahli akhirnya menutup turnamen sebagai penguasa sepak bola klub Asia. Gelar ini juga memberi mereka tiket ke Piala Interkontinental FIFA 2026 dan Piala Dunia Antarklub FIFA 2029.

Sorotan pada format turnamen di Jeddah

Di balik gelar Al Ahli, muncul pula sorotan terhadap format babak gugur yang dipusatkan di Jeddah selama dua musim terakhir. Kritik dari laporan theguardian.com menilai kondisi itu memberi keuntungan besar bagi tim tuan rumah karena tidak harus menjalani laga tandang sejak perempat final.

Isu atmosfer pertandingan juga ikut menjadi perhatian karena perbedaan besar dalam jumlah penonton. Saat Al Ahli bermain, stadion dipadati puluhan ribu suporter, tetapi laga semifinal antara Machida dan Shabab Al Ahli hanya dihadiri 395 orang.

AFC mengakui adanya tantangan untuk menarik minat penonton di lokasi netral meski atmosfer sepak bola di Jeddah sangat tinggi. Format kompetisi yang hanya melibatkan 12 dari 47 negara anggota juga menjadi catatan penting bagi penyelenggara ke depan.

Terkait