Topuria Babak Belur di UFC White House, Mendez Kini Lebih Lirik Conor McGregor

Kekalahan Ilia Topuria di UFC White House membuat peta persaingan kelas atas UFC ikut berubah. Javier Mendez, pelatih Islam Makhachev, menilai Topuria tidak lagi menjadi lawan paling menarik bagi anak asuhnya setelah petarung berjuluk El Matador itu kalah telak dari Justin Gaethje dalam laga utama.

Topuria sebelumnya sempat dipandang sebagai kandidat besar untuk menantang Makhachev di kelas welter. Namun hasil di Washington DC membuat duel yang sempat ramai dibicarakan itu kehilangan momentum, apalagi Topuria baru saja menelan kekalahan pertama dalam karier MMA profesionalnya.

Topuria yang semula naik daun, kini tersandung

Sebelum kalah, Topuria tampil percaya diri dan bahkan melontarkan kritik keras kepada Makhachev. Ia pernah menyebut petarung asal Dagestan itu sebagai “pengecut” karena meninggalkan divisi kelas ringan saat dirinya naik dari kelas bulu.

Topuria juga membuka wacana untuk mengikuti jejak Makhachev dengan naik ke kelas welter. Ambisi itu sempat membuat namanya masuk dalam percakapan tentang perebutan status juara UFC di tiga divisi berbeda.

Situasi berubah saat Topuria dihajar habis-habisan oleh Gaethje pada ajang UFC White House, Minggu lalu. Kekalahan tersebut bukan hanya mengganggu langkah Topuria, tetapi juga membuat spekulasi duel melawan Makhachev ikut meredup.

Mendez tak kecewa dengan hasil Topuria

Javier Mendez menegaskan bahwa hasil itu tidak membuat pihaknya kecewa. Saat berbicara dalam Submission Radio, Mendez menyebut Makhachev tidak membutuhkan Topuria untuk melangkah ke level yang lebih tinggi.

“Kita tidak membutuhkan Topuria agar Islam bisa melesat ke level yang lebih tinggi,” kata Mendez.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa kubu Makhachev kini melihat opsi lain yang lebih besar secara nilai pertarungan maupun daya tarik publik. Dalam pandangan Mendez, nama Conor McGregor justru lebih layak dipertimbangkan.

McGregor dinilai punya nilai jual lebih besar

Mendez menyebut McGregor sebagai sosok yang bisa menghadirkan pertarungan jauh lebih besar dibanding Topuria. Ia bahkan menilai duel Makhachev melawan petarung asal Irlandia itu bisa menjadi salah satu laga terbesar dalam sejarah UFC.

“Mungkin jika pria Irlandia itu (Conor McGregor) memutuskan dan dia menang pada 11 Juli nanti. Kenapa tidak? Dia siap menghadapi tantangan, jadi kami juga akan siap menghadapi tantangan,” ujar Mendez.

Ia juga menambahkan bahwa jika McGregor menang, duel tersebut akan punya bobot yang lebih besar dari pertarungan melawan Topuria. Menurut Mendez, daya tarik McGregor masih sangat kuat karena membawa banyak perhatian dan ekspektasi dari publik.

McGregor masih punya jalan, meski statusnya underdog

Saat ini, McGregor dijadwalkan kembali ke Octagon setelah lima tahun absen dengan menghadapi Max Holloway di UFC 329. Petarung asal Irlandia itu datang sebagai underdog, apalagi catatan kemenangannya di UFC sejak 2016 hanya mencakup kemenangan atas Donald Cerrone yang kini telah pensiun.

Meski begitu, peluang McGregor untuk menantang Makhachev belum sepenuhnya tertutup. Jika ia mampu menundukkan Holloway dan membuat kejutan besar, opsi duel melawan Makhachev bisa kembali menguat karena McGregor sebelumnya juga sudah memberi sinyal soal pertarungan itu dalam kontraknya bersama UFC.

Implikasi untuk Makhachev dan peta kelas welter

Bagi Makhachev, perubahan arah ini memperlihatkan bahwa daftar lawan potensial masih bisa bergerak cepat sesuai hasil di dalam oktagon. Kekalahan Topuria dari Gaethje membuat narasi duel super yang sempat dibangun ikut bergeser ke figur yang memiliki daya tarik komersial lebih besar.

Di sisi lain, kemenangan McGregor atas Holloway bisa mengubah banyak hitungan di kelas welter. Jika skenario itu terjadi, pembicaraan soal pertarungan Makhachev vs McGregor berpeluang kembali menjadi sorotan utama di UFC.

Source: www.viva.co.id

Terkait