Joshua Kimmich menyoroti kesalahan fatal yang dibuat Timnas Jerman setelah kalah 1-2 dari Ekuador pada laga penutup Grup E Piala Dunia 2026 di New York. Kapten Die Mannschaft itu mengakui timnya kehilangan kendali permainan setelah sempat unggul cepat, lalu memberi ruang terlalu besar bagi lawan untuk bangkit.
Kimmich menilai Jerman sebenarnya memulai pertandingan dengan baik, tetapi gagal menjaga ritme dan terlalu mudah kehilangan bola. Situasi itu membuat Ekuador leluasa berkembang hingga akhirnya membalikkan keadaan dan memaksa Jerman menelan kekalahan pertama mereka di turnamen tersebut.
Awal bagus, lalu permainan lepas kendali
Jerman membuka laga dengan keunggulan cepat melalui gol Leroy Sane saat pertandingan baru berjalan dua menit. Namun, keunggulan itu tidak bertahan lama karena Ekuador langsung merespons lewat gol Nilson Angulo pada menit kesembilan.
Kimmich menilai momen setelah unggul menjadi titik balik yang merugikan timnya. Ia menyebut Jerman terlalu sering mengirim bola begitu saja kepada lawan dan terus mengundang tekanan di area permainan sendiri.
“Kami memulai pertandingan dengan baik, tetapi kemudian terlalu mudah kehilangan bola dan terus mengundang mereka menyerang,” ujar Kimmich, dikutip dari ARD.
Kritik atas kontrol bola dan dominasi lawan
Menurut Kimmich, masalah utama Jerman bukan hanya skor akhir, melainkan hilangnya kendali atas tempo pertandingan. Ia menilai timnya membuat permainan menjadi terlalu mudah bagi Ekuador untuk berkembang dan mengambil alih inisiatif.
Kimmich juga menyebut bahwa pada babak kedua, kekalahan tersebut memang pantas diterima Jerman. Pernyataan itu menunjukkan penilaian jujur dari sang kapten terhadap performa tim yang dinilai tidak konsisten setelah memulai laga dengan baik.
Ekuador tampil lebih efektif
Gol kemenangan Ekuador lahir pada menit ke-77 melalui Gonzalo Plata. Momentum itu menutup peluang Jerman untuk bangkit dan sekaligus memastikan tim Amerika Selatan tersebut meraih hasil maksimal dari pertandingan tersebut.
Penyerang Jerman, Denis Undav, juga memberi catatan serupa dengan Kimmich. Ia mengakui Ekuador tampil lebih agresif dan lebih tajam dalam memanfaatkan peluang yang ada.
“Ekuador bermain lebih agresif dan lebih tajam dibanding kami. Itu sesuatu yang harus kami pelajari dan ambil hikmahnya,” kata Undav.
Ia juga menyoroti minimnya ancaman yang diciptakan Jerman pada babak kedua. Menurutnya, tim tidak bermain cukup langsung dan gagal membangun peluang yang benar-benar berbahaya.
Meski kalah, Jerman tetap lolos sebagai juara grup
Kekalahan dari Ekuador tidak menggugurkan langkah Jerman ke babak 32 besar. Die Mannschaft tetap finis sebagai juara Grup E dengan koleksi enam poin, jumlah yang sama dengan Pantai Gading, tetapi Jerman unggul selisih gol.
Hasil itu memberi Jerman keuntungan untuk tetap berada di posisi teratas klasemen grup. Namun, performa melawan Ekuador menjadi sinyal penting bahwa tim asuhan Julian Nagelsmann perlu segera memperbaiki detail permainan, terutama saat sudah memimpin lebih dulu.
Kekalahan ini juga menjadi bahan evaluasi jelang fase gugur, ketika kesalahan kecil bisa berdampak besar. Publik kini menunggu respons Jerman untuk membuktikan bahwa hasil kontra Ekuador hanya menjadi pengingat keras, bukan awal dari masalah yang lebih besar di Piala Dunia 2026.
Source: www.suara.com






