Tim all-stars Kudus berhasil mempertahankan gelar juara MilkLife Soccer Challenge (MLSC) All-Stars setelah menundukkan Jakarta lewat adu penalti dengan skor 4-3. Laga final kategori U12 dan U14 di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, berakhir tanpa gol selama waktu normal 2×20 menit sebelum penentuan dilakukan dari titik putih.
Kemenangan itu lahir dari pertandingan yang berjalan ketat dan disiplin, dengan kedua tim sama-sama kesulitan menciptakan penyelesaian akhir yang benar-benar efektif. Kudus akhirnya tampil lebih siap saat adu penalti dimulai, sementara Jakarta harus menerima hasil pahit meski sudah memberi perlawanan kuat sepanjang laga.
Kudus tampil tenang di momen penentuan
Pelatih all-stars Kudus, Yayat Hidayat, menilai anak asuhnya menunjukkan semangat kerja keras sejak awal pertandingan. Menurut dia, para pemain tetap bisa menjalankan rencana permainan dengan baik meski tidak ada gol yang tercipta selama 40 menit laga utama.
Yayat juga menekankan bahwa persiapan intensif menjadi faktor penting dalam keberhasilan timnya. Ia menyebut program latihan yang serius sangat membantu Kudus menghadapi turnamen, termasuk ketika laga final harus ditentukan melalui adu penalti.
Sebelum pertandingan, tim Kudus sudah menyiapkan para eksekutor penalti untuk mengantisipasi skenario terburuk. Strategi itu terbukti efektif karena meski satu penendang gagal, empat penendang lain mampu menuntaskan tugas dan memastikan gelar tetap berada di Kudus.
Jakarta kehilangan momentum saat penalti dimulai
Di kubu lawan, pelatih tim all-stars Jakarta, Arifin, mengakui timnya tidak menyiapkan adu penalti sebagai bagian dari antisipasi. Ia menyebut kondisi mental para pemain belum sepenuhnya siap ketika laga harus ditentukan lewat penalti.
Arifin bahkan menggambarkan situasi timnya yang sempat goyah saat memilih penendang. “Jujur tidak ada persiapan sama sekali. Bahkan tadi pada saat saya memilih penendang, tidak ada yang siap, bahkan sampai ada yang menangis,” ujarnya.
Meski begitu, Arifin tetap memberi apresiasi kepada para pemainnya. Ia menilai tim Jakarta sudah tampil berani dan mampu memberi tekanan serius kepada Kudus, walau hasil akhir tidak berpihak kepada mereka.
Pertahanan Jakarta sempat membuat Kudus frustrasi
Kudus dan Jakarta sama-sama tampil hati-hati di waktu normal, sehingga laga berjalan dengan tensi tinggi namun minim peluang bersih. Situasi itu membuat duel final lebih banyak ditentukan oleh kedisiplinan bertahan dan kemampuan menjaga fokus di setiap fase permainan.
Arifin juga menjelaskan bahwa timnya harus menghadapi kendala besar setelah bek andalan Andien Syahkira mengalami cedera dan diganti pada babak kedua. Kondisi itu sempat mengganggu lini pertahanan Jakarta, tetapi mereka tetap mampu menahan gempuran tuan rumah sampai pertandingan dipaksa lanjut ke adu penalti.
Dalam laga seperti ini, kesiapan mental sering kali menjadi pembeda utama. Kudus memanfaatkan persiapan yang matang, sementara Jakarta harus membayar mahal karena tidak memiliki skenario penalti yang benar-benar terlatih.
Turnamen MLSC All-Stars sendiri menjadi panggung penting bagi pemain putri U12 dan U14 untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Final yang berakhir 0-0 dan ditentukan lewat skor 4-3 itu memperlihatkan betapa tipisnya jarak antara dua tim, sekaligus menegaskan bahwa Kudus kembali menjadi tim paling siap saat tekanan mencapai puncaknya.
Source: www.suara.com






