Ronaldo Nazario membuka sisi paling berat dari hidupnya setelah pensiun dari sepak bola. Legenda Brasil itu mengaku mengalami depresi berat setelah gantung sepatu pada usia 34 tahun.
Pengakuan itu ia sampaikan dalam podcast Futebol Legends Talks, saat menceritakan masa transisi yang menurutnya sangat menyakitkan. Kehilangan rutinitas harian dan gairah bermain di lapangan hijau membuatnya merasa seperti kehilangan sosok yang sangat dekat.
Hilangnya Ritme Hidup Setelah Pensiun
Ronaldo mengatakan berhenti bermain bukan sekadar menutup satu bab karier, tetapi juga memutus bagian penting dari hidupnya. Ia menggambarkan perasaan itu sebagai sesuatu yang menghancurkan karena dirinya tak lagi punya alasan yang sama untuk berada di lapangan setiap hari.
“Ketika Anda memutuskan berhenti bermain, rasanya seperti kehilangan seseorang yang sangat dekat,” ujar Ronaldo. Ia juga menegaskan bahwa ide tidak akan bermain lagi untuk waktu yang lama terasa sangat berat baginya.
Dampak Emosional dan Perubahan Fisik
Dampak dari fase tersebut tidak hanya terasa secara mental, tetapi juga terlihat pada kondisi fisiknya. Ronaldo mengakui berat badannya naik drastis ketika depresi itu berlangsung.
“Saya mengalami depresi berat dan berat badan saya naik drastis. Sangat sulit meninggalkan sepak bola,” katanya. Pengakuan ini menunjukkan betapa besar pengaruh penghentian karier profesional terhadap keseharian dan kondisi tubuhnya.
Meski sempat jatuh dalam masa sulit, Ronaldo tetap menjaga keterlibatannya di dunia sepak bola setelah pensiun. Nama besarnya tetap lekat sebagai salah satu ikon terbesar dalam sejarah sepak bola Brasil dan Piala Dunia.
| Fakta Utama | Detail |
|---|---|
| Tokoh | Ronaldo Nazario |
| Karier berakhir | Pensiun pada 2011 di usia 34 tahun |
| Masalah yang diakui | Depresi berat setelah pensiun |
| Dampak fisik | Berat badan naik drastis |
| Sumber pengakuan | Podcast Futebol Legends Talks |
Pernyataan Ronaldo menjadi pengingat bahwa kehidupan setelah karier profesional tidak selalu mudah, bahkan untuk pemain yang pernah mencapai puncak dunia. Di balik status legenda, ada masa transisi yang bisa terasa sunyi, berat, dan memengaruhi kondisi mental maupun fisik sekaligus.
