Ketegangan antara UEFA dan FIFA mencapai titik baru setelah Presiden UEFA Aleksander Ceferin memutuskan tidak menghadiri final Piala Dunia 2026. Absennya Ceferin dari laga puncak di MetLife Stadium, Amerika Serikat, itu berkaitan dengan penolakan UEFA terhadap pencabutan sanksi Folarin Balogun.
Keputusan tersebut memberi sinyal bahwa persoalan disiplin pemain telah berkembang menjadi isu yang lebih besar bagi hubungan dua otoritas sepak bola dunia. UEFA menilai pembatalan hukuman itu berisiko mengusik prinsip independensi dalam pengambilan keputusan pertandingan.
Final Piala Dunia 2026 mempertemukan Spanyol dan Argentina serta dijadwalkan berlangsung pada Senin, 20 Juli, dini hari WIB. Ceferin sebelumnya masih hadir dalam pertandingan pembuka turnamen di Mexico City pada 11 Juni bersama anggota Dewan FIFA.
| Peristiwa | Waktu/Lokasi | Keterangan |
|---|---|---|
| Laga pembuka Piala Dunia 2026 | 11 Juni, Mexico City | Ceferin hadir bersama jajaran Dewan FIFA |
| Kartu merah Balogun | 2 Juli | Terjadi saat Amerika Serikat menghadapi Bosnia dan Herzegovina |
| Final Piala Dunia 2026 | 20 Juli, MetLife Stadium | Ceferin memutuskan tidak hadir dalam laga Spanyol melawan Argentina |
Kontroversi pencabutan hukuman Balogun
Folarin Balogun semula dijatuhi larangan tampil satu pertandingan setelah menerima kartu merah ketika Amerika Serikat menghadapi Bosnia dan Herzegovina pada 2 Juli. FIFA kemudian membatalkan sanksi tersebut setelah muncul komunikasi langsung antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden FIFA Gianni Infantino.
Menurut laporan The Times yang dikutip www.medcom.id, perkembangan itu menjadi salah satu faktor utama yang memperburuk relasi UEFA dan FIFA. Pembatalan hukuman pemain tersebut dipandang bukan sekadar keputusan disipliner biasa karena muncul di tengah sorotan terhadap kemungkinan pengaruh politik.
FIFA menegaskan keputusan itu diambil secara independen oleh Komite Disiplin FIFA. Komite tersebut dipimpin Mohammad al-Kamali dari Uni Emirat Arab, tetapi penegasan itu belum meredakan tudingan adanya intervensi politik dalam prosesnya.
UEFA mengecam pembatalan sanksi Balogun sebagai langkah yang sulit dipahami. Konfederasi sepak bola Eropa itu juga menilai keputusan tersebut merupakan preseden yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah sepak bola internasional.
UEFA Menilai Ada Garis Merah yang Dilewati
Bagi UEFA, persoalan paling penting bukan hanya status hukuman Balogun, melainkan persepsi yang dapat muncul dari proses pencabutannya. Badan sepak bola Eropa itu menilai keputusan disipliner seharusnya tetap berada di ranah teknis dan tidak dibayangi campur tangan politik.
UEFA menyebut keputusan FIFA itu telah melewati “garis merah”. Sikap keras tersebut menjelaskan mengapa ketidakhadiran Ceferin di final dipandang sebagai bentuk penegasan posisi, bukan sekadar perubahan agenda kehadiran.
Boikot final juga melanjutkan pola menjaga jarak yang diperlihatkan Ceferin dalam beberapa tahun terakhir. Meski menjabat Wakil Presiden FIFA secara ex officio, ia tercatat jarang menghadiri kongres tahunan FIFA.
Ceferin juga hanya muncul secara singkat pada Piala Dunia Wanita dan tidak hadir dalam ajang Piala Dunia Antarklub. Rangkaian sikap itu memperlihatkan adanya dinamika yang tidak sederhana antara pimpinan UEFA dan struktur kepemimpinan FIFA.
Batas Pengaruh UEFA di FIFA
UEFA tetap menjadi kekuatan besar dalam sepak bola dunia dari sisi kompetisi dan pengaruh negara-negara anggotanya. Namun, ruang geraknya dalam pengambilan keputusan FIFA memiliki batas karena UEFA hanya memegang 55 suara dari total 211 asosiasi anggota FIFA.
Mayoritas anggota dari konfederasi lain masih memberi dukungan kepada kepemimpinan Presiden FIFA Gianni Infantino. Kondisi itu membuat UEFA tidak selalu mudah menghadapi kebijakan FIFA, meski kritik terhadap pencabutan sanksi Balogun disampaikan secara terbuka.
Absennya Ceferin pada final kini menjadi simbol paling nyata dari renggangnya hubungan kedua organisasi. Peristiwa ini menempatkan independensi keputusan disipliner dan batas pengaruh politik sebagai isu penting dalam dinamika FIFA dan UEFA.
