Tebing Longsor Hancurkan Bangunan SD di Tulungagung, Evakuasi Berlangsung

Hujan deras yang mengguyur sejak Selasa (19/8/2025) siang hingga sore mengakibatkan tebing setinggi sekitar dua meter di Desa Kradinan, Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung longsor. Material longsor berupa lumpur bercampur batu tersebut menimpa bangunan SDN 2 Kradinan, sehingga menyebabkan kerusakan parah pada sekolah tersebut.

Dari hasil peninjauan di lokasi, hampir separuh bangunan sekolah hancur akibat terjangan longsor. Bagian yang rusak meliputi ruang kelas 4, perpustakaan, dan kamar mandi. Kepala SDN 2 Kradinan, Tina Susanti, saat dikonfirmasi Rabu (20/8/2025), menyampaikan bahwa longsor terjadi sekitar pukul 16.00 WIB. Ia menambahkan, “Banyak wali murid yang bertanya apakah sekolah diliburkan atau tidak. Setelah melihat kondisi sekolah, kelas 1 dan 2 diliburkan dan belajar secara daring, kelas 3 dan 4 digabung, dan kelas 5 serta 6 tetap belajar seperti biasa.”

Para guru, komite sekolah, warga sekitar, dan petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tulungagung langsung bergotong royong membersihkan material longsor. Barang-barang milik sekolah seperti bangku, meja, dan dokumen dipindahkan ke halaman sekolah untuk memudahkan akses dan mengamankan aset sekolah. Selain membersihkan ruang sekolah, mereka juga berupaya membuka akses jalan utama yang tertutup material longsor.

Meskipun sebagian bangunan rusak, aktivitas belajar mengajar di SDN 2 Kradinan tetap berlangsung dengan penyesuaian. Siswa kelas satu dan dua mengikuti pembelajaran secara daring, sementara siswa kelas lain tetap hadir di sekolah. Pihak sekolah juga memindahkan proses pembelajaran siswa kelas 4 ke musala sekolah sebagai ruang belajar alternatif selama bangunan kelas mereka diperbaiki. Kegiatan belajar mengajar secara penuh diharapkan bisa berjalan normal kembali mulai Kamis (21/8/2025).

Menurut pantauan cuaca dan informasi dari BMKG, hujan deras yang melanda wilayah Jawa Timur, khususnya Tulungagung, selama beberapa hari terakhir, meningkatkan risiko terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor. Kondisi tanah yang jenuh akibat hujan berkepanjangan menjadi pemicu utama keluarnya material longsor di tebing-tebing terjal seperti di Desa Kradinan.

Material longsor yang terbawa lumpur bercampur batu, selain merusak bangunan sekolah, juga cukup membahayakan akses transportasi warga setempat. Terutama anak-anak yang tinggal di sekitar sekolah harus lebih berhati-hati saat beraktivitas di kawasan yang terdampak.

BPBD Tulungagung menegaskan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap potensi longsor di daerah rawan. Koordinasi dengan sekolah dan masyarakat sekitar diharapkan dapat mengantisipasi dampak lebih parah dari kejadian serupa di masa datang.

Tina Susanti juga mengimbau kepada orang tua dan wali murid untuk tetap tenang dan mengikuti petunjuk sekolah terkait proses belajar mengajar. “Kami berupaya maksimal untuk mengupayakan pembelajaran yang aman dan tidak mengganggu keberlangsungan pendidikan anak-anak,” ujarnya.

Insiden longsor di Tulungagung ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan dan mitigasi bencana di daerah rawan. Pemerintah daerah bersama masyarakat terus meningkatkan sinergi untuk mengurangi risiko bencana dan meminimalisir kerugian, khususnya pada infrastruktur vital seperti sekolah.

Sebagai langkah lanjutan, perbaikan struktur bangunan yang rusak di SDN 2 Kradinan direncanakan dilakukan sambil menjaga kenyamanan proses belajar mengajar. Pemerintah daerah juga diharapkan dapat memberikan bantuan baik secara fisik maupun fasilitas pendidikan bagi sekolah yang terdampak bencana.

Secara umum, kejadian longsor ini menggarisbawahi pentingnya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan serta peringatan dini cuaca agar bencana dapat ditangani lebih cepat dan tepat sasaran. Upaya kolaboratif antara sekolah, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi tantangan alam yang terjadi di wilayah Tulungagung dan sekitarnya.

Berita Terkait

Back to top button