Ford, raksasa otomotif asal Amerika Serikat, dilaporkan telah melakukan pembicaraan dengan Xiaomi terkait peluang kolaborasi dalam produksi kendaraan listrik (EV) di Amerika Serikat. Diskusi ini muncul di tengah meningkatnya permintaan global terhadap EV dan upaya Xiaomi memperluas jangkauan pasar kendaraan listriknya. Meski tahap awal dan belum final, pembicaraan tersebut berpotensi membuka jalan bagi Xiaomi untuk memasuki pasar AS melalui kerjasama dengan Ford.
Menurut laporan Financial Times, Ford juga mengadakan dialog dengan produsen otomotif China lainnya seperti BYD. Namun, pernyataan resmi dari Ford menyangkal adanya pembicaraan konkret mengenai joint venture dengan Xiaomi. Sementara itu, juru bicara Xiaomi menegaskan tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung untuk membawa Xiaomi EV ke AS. BYD memilih untuk tidak memberikan komentar terkait isu ini.
Dukungan dari Petinggi Ford dan Reputasi Xiaomi EV
CEO Ford, Jim Farley, dikenal sebagai pendukung produk EV Xiaomi. Ia bahkan pernah menerbangkan kendaraan Xiaomi SU7 dari Shanghai ke Chicago dan mengaku puas setelah menggunakannya selama enam bulan. Hal ini menunjukkan minat tinggi Farley terhadap teknologi EV dari Xiaomi, yang memposisikan Xiaomi sebagai pemain kuat di industri kendaraan listrik di China.
Nvidia CEO Jensen Huang juga menyatakan kekagumannya terhadap EV Xiaomi setelah menghadiri salah satu acara penting di China. Cina memang telah menjadi pusat inovasi kendaraan listrik dalam beberapa tahun terakhir, dengan Xiaomi sebagai salah satu pendatang baru yang menunjukkan pertumbuhan pesat. Pada 2024, Xiaomi mengirimkan 135.000 unit kendaraan, dan naik menjadi 411.837 unit pada 2025. Xiaomi menargetkan pengiriman 550.000 kendaraan pada tahun ini.
Perkembangan dan Relevansi Xiaomi SU7 di Pasar EV
Xiaomi mengumumkan masuk ke industri otomotif pada awal 2021 dan meluncurkan model pertamanya, Xiaomi SU7, pada Maret 2024. Model ini diposisikan sebagai pesaing langsung Tesla Model 3. Sebagai pendatang baru, keberhasilan Xiaomi dalam meraih volume penjualan signifikan dalam waktu singkat menawarkan sinyal kuat bahwa perusahaan ini mampu menjadi pemain global di industri EV.
Berikut adalah data pengiriman kendaraan Xiaomi selama 2024 dan 2025 yang menunjukkan tren kenaikan signifikan:
| Bulan | 2024 | 2025 |
|---|---|---|
| Januari | – | 22,897 |
| Februari | – | 23,728 |
| Maret | – | 29,244 |
| April | 7,058 | 28,585 |
| Mei | 8,630 | 28,013 |
| Juni | 14,296 | 25,459 |
| Juli | 13,120 | 30,452 |
| Agustus | 13,111 | 36,396 |
| September | 13,559 | 41,948 |
| Oktober | 20,726 | 48,654 |
| November | 23,156 | 46,249 |
| Desember | 25,815 | 50,212 |
Angka ini menegaskan bahwa Xiaomi semakin memperkuat posisinya dengan pertumbuhan pengiriman kendaraan setiap bulannya. Keberhasilan ini menjadi modal penting jika perusahaan memutuskan untuk mulai menargetkan pasar internasional seperti AS.
Hambatan dan Tantangan Regulasi Pasar Amerika Serikat
Meskipun peluang kolaborasi terlihat menarik, Xiaomi dan Ford menghadapi tantangan signifikan terkait regulasi. Pemerintah AS menerapkan tarif 100% atas kendaraan impor dari China sejak awal 2024, membatasi akses masuk produsen mobil China ke pasar domestik AS. Kebijakan ini menjadi kendala utama bagi perusahaan otomotif China termasuk Xiaomi untuk menjalankan rencana ekspansi di AS.
Selain itu, potensi joint venture Ford dan Xiaomi dapat menghadirkan kontroversi politik. Beberapa politisi AS seperti John Moolenaar, Ketua Komite China DPR dari Partai Republik, menyatakan keprihatinannya tentang ketergantungan Amerika pada China jika kerjasama ini terwujud. Moolenaar menegaskan bahwa langkah seperti ini dapat mengabaikan mitra AS dan sekutunya serta meningkatkan ketergantungan AS pada China.
Diskusi antara Ford dan Xiaomi memang masih dalam tahap awal dan belum ada keputusan resmi yang diambil oleh kedua pihak. Namun, minat tinggi terhadap teknologi EV Xiaomi dari petinggi Ford dan pertumbuhan pesat Xiaomi di sektor kendaraan listrik memberikan gambaran adanya potensi besar di masa depan. Keputusan akhir akan sangat dipengaruhi oleh faktor pasar, regulasi, dan geopolitik yang sedang berlangsung.
Pemantauan terhadap perkembangan negosiasi ini penting untuk memahami arah kerjasama otomotif internasional dan dinamika persaingan di pasar kendaraan listrik global. Kedua perusahaan memiliki kekuatan masing-masing yang bisa saling melengkapi untuk maju di industri otomotif yang sangat kompetitif saat ini.
