Nio Inc mengumumkan proyeksi laba kuartalan pertamanya, sebuah pencapaian yang memberikan sentimen positif signifikan bagi para pemegang saham dan pemilik mobil. Perusahaan otomotif listrik asal Tiongkok ini memperkirakan laba operasi non-GAAP untuk kuartal keempat akan mencapai antara RMB 700 juta hingga RMB 1,2 miliar.
Selain non-GAAP, Nio juga memproyeksikan laba operasi berdasarkan standar GAAP mencapai RMB 200 juta hingga RMB 700 juta pada periode yang sama. Ini menjadi tonggak sejarah baru untuk Nio, mengingat pada kuartal keempat tahun sebelumnya, perusahaan mencatatkan rugi operasi non-GAAP sebesar RMB 5,54 miliar.
Kinerja Positif Dorong Lonjakan Saham
Pengumuman profit pertama ini langsung disambut dengan lonjakan harga saham Nio, yang melonjak hampir 11% dalam perdagangan pra-pasar pada hari Kamis. Lonjakan ini mencerminkan kepercayaan pasar terhadap prospek perusahaan ke depan.
Manajemen Nio menegaskan bahwa pencapaian ini didorong oleh pertumbuhan penjualan yang berkelanjutan pada kuartal keempat, komposisi produk yang menguntungkan, dan peningkatan margin kendaraan. Upaya pengurangan biaya dan peningkatan efisiensi operasional secara komprehensif juga menjadi faktor pendukung penting dalam mencetak keuntungan kali ini.
Peran Sentral Model ES8 Generasi Ketiga
Salah satu penyumbang utama laba kuartalan Nio adalah performa kuat dari model ES8 generasi ketiga. Model ini resmi diluncurkan pada acara Nio Day di bulan September, dan mulai dikirim ke pelanggan sehari setelahnya. Selama tahun berjalan, Nio sudah mengirimkan lebih dari 40.000 unit ES8 generasi ketiga, mayoritas di antaranya pada kuartal terakhir.
Pada akhir Januari, model ini mencapai tonggak pengiriman ke-60.000 unit. Penjualan ES8 pada bulan tersebut mencapai 17.646 unit atau sekitar 65% dari total pengiriman Nio secara keseluruhan. Dengan harga mulai dari RMB 406.800, ES8 generasi ketiga termasuk dalam jajaran model dengan harga tertinggi serta margin kotor sekitar 20 persen.
Tantangan Pasar Otomotif Tiongkok di Kuartal Awal 2026
Meskipun optimisme tinggi, Nio dan industri kendaraan listrik di Tiongkok menghadapi tantangan pada kuartal pertama 2026. Pasar otomotif domestik biasanya mengalami musim lemah di awal tahun. Ditambah lagi, kenaikan pajak pembelian sebesar 5 persen dan kebijakan subsidi perdagangan mobil yang sedang dalam masa transisi membuat permintaan menjadi tidak pasti.
Menurut data China Passenger Car Association (CPCA), volume grosir kendaraan penumpang listrik di Januari meningkat 1 persen secara tahunan tetapi menurun 42 persen dibandingkan Desember. Nio sendiri mencatat pengiriman 27.182 unit pada Januari, naik hampir 96 persen tahun ke tahun, tetapi turun lebih dari 43 persen dari bulan sebelumnya.
Periode libur Tahun Baru Imlek di paruh kedua Februari juga diperkirakan mengganggu produksi dan pengiriman kendaraan. Selain itu, kenaikan biaya bahan baku seperti chip memori dan logam menimbulkan tekanan tambahan terhadap profitabilitas. Analis UBS memperingatkan bahwa jika biaya tersebut harus diserap sepenuhnya oleh produsen otomotif, keuntungan mereka dapat tergerus habis.
Strategi dan Harapan Nio ke Depan
CEO dan pendiri Nio, William Li, sempat menyatakan bahwa pertumbuhan industri EV secara nasional diprediksi mengalami tekanan di kuartal pertama 2026 setelah stimulus pemerintah mulai berkurang. Dari sisi permintaan, mempertahankan setidaknya separuh tingkat penjualan kuartal terakhir tahun lalu akan dianggap hasil yang positif.
Nio diharapkan melanjutkan strategi efisiensi dan diversifikasi produknya untuk menavigasi tantangan pasar sambil menjaga momentum positif dari pencapaian laba kuartal ini. Keberhasilan ini menjadi indikator awal bahwa model bisnis Nio semakin matang dan mampu bersaing dalam industri kendaraan listrik global yang kompetitif.
Dengan langkah-langkah yang telah diambil dan prestasi terbaru, Nio berada di posisi yang lebih kuat untuk terus menarik kepercayaan investor dan konsumen, sekaligus memperkuat eksistensi mereka dalam pasar EV yang terus berkembang.




