PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) menunjukkan respons positif terhadap tren baterai sodium yang berkembang di China. Baterai ion natrium dipandang sebagai alternatif lebih terjangkau untuk penyimpanan energi listrik, terutama dalam sektor otomotif. DRMA saat ini sudah memproduksi aki berbasis lithium yang memiliki keunggulan bobot lebih ringan dan masa pakai lebih panjang dibanding aki konvensional.
Eko Maryanto, Head of Business Development DRMA, menyatakan bahwa teknologi baterai kendaraan terus berkembang termasuk ion natrium yang sedang populer di pasar China. Menurutnya, baterai lithium ferro phosphate (LFP) yang dimiliki DRMA saat ini masih lebih efisien dalam hal penyimpanan energi serta ukuran dibanding baterai ion natrium. Bobot dan volume baterai LFP juga lebih fleksibel sehingga tidak memakan ruang besar di kendaraan.
Keunggulan dan Tantangan Baterai Sodium
Teknologi sodium-ion menawarkan potensi biaya produksi yang lebih rendah karena bahan bakunya lebih melimpah dan murah dibanding lithium. Namun, baterai ini memiliki densitas energi yang lebih rendah sehingga ukuran selnya bisa dua sampai tiga kali lebih besar daripada baterai LFP. Hal ini berpengaruh pada penggunaan ruang kendaraan dan efisiensi desain produk.
Tantangan utama pengembangan baterai ion natrium justru ada pada bahan anoda berupa grafit yang masih mahal. Meskipun natrium bisa diambil dari sumber melimpah seperti air laut, biaya grafit yang dibutuhkan dalam proses produksi belum bisa ditekan secara signifikan. Oleh karena itu, teknologi ini masih perlu waktu untuk mencapai skala ekonomi yang optimal.
Strategi DRMA Menghadapi Perkembangan Teknologi Baterai
DRMA memilih strategi mengikuti perkembangan teknologi baterai berbasis lithium dan sodium secara bersamaan. Perusahaan menilai bahwa di masa depan, baterai ion natrium kemungkinan akan digunakan untuk mobil listrik dengan harga lebih terjangkau di pasar otomotif. Sementara itu, pengembangan baterai lithium juga terus berlangsung dengan inovasi seperti LMPF (Lithium Manganese Phosphate) yang menawarkan densitas energi lebih tinggi meskipun saat ini masih mahal.
Fokus utama DRMA tetap pada produk baterai LFP karena pasar otomotif massal saat ini lebih banyak menyerap teknologi tersebut. Hal ini tercermin dari kendaraan listrik produksi massal di China seperti BYD, Wuling, dan Chery yang menggunakan baterai LFP daripada NMC (Nickel Manganese Cobalt). DRMA menyikapi tren ini dengan menyesuaikan portofolio produknya agar tetap relevan.
Perkembangan Baterai Sodium di Pasar Global
Baterai ion natrium pertama kali diperkenalkan secara luas oleh CATL, salah satu produsen baterai terbesar dunia asal China. Di pasar China, baterai sodium-ion mulai digunakan untuk kendaraan komersial dan penumpang, sebagai pilihan alternatif yang lebih ramah biaya. Pengembangan teknologi ini menjadi bagian dari upaya memperluas opsi baterai kendaraan listrik di segmen harga menengah ke bawah.
Baterai sodium diperkirakan bakal mengisi ceruk pasar mobil listrik dengan harga terjangkau, di mana efisiensi biaya menjadi faktor utama. Namun, pengembangan teknologi dan produksi massal harus mampu mengatasi kendala teknis dan biaya awal agar dapat bersaing dengan baterai lithium yang sudah matang di pasar.
Ringkasan Kunci mengenai Posisi DRMA dalam Tren Baterai Sodium
- DRMA fokus pada baterai lithium ferro phosphate (LFP) yang saat ini paling efisien dan banyak digunakan.
- Perusahaan tetap memantau teknologi baterai sodium-ion yang potensi biayanya lebih rendah.
- Tantangan baterai sodium utama berada pada bahan grafit anoda yang masih relatif mahal.
- DRMA melihat baterai sodium cocok untuk segmen mobil listrik harga terjangkau.
- Inovasi pada baterai lithium seperti LMPF juga terus dikembangkan, walau harganya masih tinggi.
DRMA membuktikan kesiapsiagaannya dalam menghadapi dinamika pasar baterai kendaraan listrik global. Dengan mengadopsi dua teknologi sekaligus, DRMA membuka peluang penetrasi pasar yang lebih luas dan skala produksi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasar yang terus berubah. Ini menjadi langkah strategis dalam mendukung transformasi energi dan pengembangan kendaraan listrik di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.







