
Suzuki e Vitara dibanderol dengan harga mencapai Rp755 juta untuk varian single tone dan Rp758 juta untuk versi dual tone. Harga ini terbilang tinggi untuk segmen SUV listrik kompak, meski struktur harga tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor di luar margin keuntungan Suzuki sendiri.
Salah satu faktor utama penyebab harga mahal adalah penerapan bea masuk sebesar 50% untuk mobil listrik yang diimpor dari India. Suzuki e Vitara sendiri diproduksi dan diimpor dari India, sehingga terkena bea masuk yang cukup tinggi ini. Kondisi ini berbeda dengan merek lain seperti BYD dan VinFast yang mendapat insentif pembebasan bea masuk karena berkomitmen membangun pabrik di Indonesia.
Skema pembebasan bea masuk tersebut tidak berlaku untuk Suzuki karena perusahaan ini sudah memiliki fasilitas produksi di Indonesia, tapi tidak memberikan komitmen investasi tambahan terkait kendaraan listrik. Jika Suzuki memilih untuk merakit e Vitara secara CKD (Completely Knocked Down) di Indonesia, potensi pengurangan harga bisa signifikan, diperkirakan turun menjadi kisaran Rp600 jutaan.
Dari segi desain, Suzuki e Vitara tetap mempertahankan karakter SUV konvensional tanpa menampilkan kesan futuristik khas mobil listrik. Eksteriornya menonjolkan lampu LED dengan elemen ice cube yang unik dan velg 18 inci dengan ban bermerek MRF produksi India. Bagasi mobil tidak terlalu besar tapi lengkap dengan ban serep full size, sebuah fitur yang jarang ditemukan di mobil listrik.
Paket baterai yang digunakan Suzuki e Vitara adalah baterai LFP berkapasitas 61 kWh. Pengisian menggunakan charger cepat (fast charging) dengan daya maksimal 150 kW memerlukan waktu sekitar 50 menit untuk mengisi daya dari 10% hingga 80%. Mobil ini memiliki tenaga 174 PS dan torsi 193 Nm dengan penggerak roda depan (FWD). Jarak tempuh yang mampu dicapai mencapai 426 km berdasarkan standar WLTP, dan jika menggunakan standar NEDC, jarak tempuh bisa mendekati 500 km.
Interior Suzuki e Vitara mengombinasikan penggunaan material soft touch dan plastik keras yang terasa empuk di beberapa bagian. Tampilan dashboard mirip dengan model kembarannya yang dirilis Toyota, namun dengan fitur yang lengkap dan modern. Beberapa fitur interior utama meliputi wireless charger, transmisi rotary selector, electronic parking brake dengan auto hold, serta sistem one pedal driving yang memudahkan pengendara.
Suzuki membenamkan sejumlah teknologi assistive driver dengan paket ADAS lengkap yang terdiri dari adaptive cruise control, lane keeping assist, kamera 360 derajat, dan fitur auto lamp serta auto wiper. Selain itu, mobil ini juga dilengkapi sistem audio premium Infinity plus subwoofer berukuran besar dan sunroof sebagai pelengkap kenyamanan.
Harga Rp755 juta sebenarnya masuk akal jika melihat poin-poin berikut: bea masuk impor sebesar 50%, kapasitas baterai besar 61 kWh, jarak tempuh hingga 426 km WLTP, paket ADAS lengkap, audio premium, serta fitur tambahan seperti sunroof dan ban serep full size. Harga ini juga sejalan dengan regulasi impor yang berlaku.
Jika Suzuki mampu menghasilkan versi rakitan lokal e Vitara, potensi harga Rp600 jutaan diyakini akan lebih kompetitif. Hal ini bisa menjadikan SUV listrik dari Jepang ini lebih menarik dan sesuai pasar dalam rentang harga antara Rp500 juta sampai Rp600 juta. Dengan penyesuaian tersebut, Suzuki e Vitara bisa bersaing secara lebih sehat dengan merek lain yang juga hadir di pasar kendaraan listrik Indonesia.
Penawaran fitur lengkap dan jarak tempuh yang cukup jauh merupakan salah satu keunggulan utama dari Suzuki e Vitara. Namun demikian, harga yang tinggi saat ini terutama dipicu oleh tarif bea masuk yang besar, sebuah tantangan yang umum dialami mobil listrik hasil impor. Kebijakan insentif untuk produksi lokal masih menjadi harapan agar harga kendaraan listrik dapat ditekan sehingga semakin menjangkau konsumen lebih luas.





