Lonjakan pemudik yang memakai mobil pribadi menjadi perhatian besar menjelang arus Lebaran. Dari total 143,9 juta orang yang diperkirakan melakukan perjalanan, sekitar 76,24 juta orang atau 52,98 persen memilih mudik dengan mobil.
Besarnya jumlah itu memunculkan pertanyaan yang banyak dicari publik, yakni apakah stok bensin akan cukup saat jutaan kendaraan bergerak hampir bersamaan. Kekhawatiran itu ikut menguat karena distribusi energi tahun ini dibayangi tensi geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi rantai pasok minyak.
Stok BBM disebut masih aman
Pemerintah menyatakan pasokan BBM untuk periode mudik tetap dalam kondisi aman. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Yuliot Tanjung, mengatakan stok BBM non-subsidi berada di level yang dinilai memadai untuk menghadapi lonjakan konsumsi.
Menurut Yuliot, stok bensin RON 92 atau Pertamax berada di kisaran 29 sampai 30 hari. Sementara itu, stok Pertamina Dex disebut mencapai sekitar 45 hari.
Ia juga menegaskan bahwa cadangan untuk beberapa produk non-subsidi berada di atas batas minimum yang telah ditetapkan. Pernyataan itu mencakup Pertamax, Pertamax Turbo, Pertamina Dex, hingga avtur.
Konsumsi bensin naik saat arus mudik
Permintaan BBM selama masa mudik diperkirakan meningkat cukup signifikan. Konsumsi harian BBM, terutama jenis bensin, diproyeksikan naik hingga 12 persen dibanding kondisi normal.
Kenaikan itu sejalan dengan dominasi kendaraan pribadi sebagai moda transportasi utama. Saat mobil menjadi pilihan lebih dari separuh total pemudik, tekanan pada SPBU di jalur favorit hampir pasti ikut meningkat.
Ketua Posko Nasional Sektor ESDM Ramadan dan Idulfitri 2026, Erika Retnowati, memastikan ketahanan stok BBM secara umum tetap aman. Ia menyebut pasokan untuk gasoline, gasoil, kerosene, maupun avtur masih dalam kondisi terjaga.
Infrastruktur penyaluran disiagakan
Untuk menopang kebutuhan selama perjalanan mudik, BPH Migas bersama PT Pertamina menyiagakan infrastruktur distribusi energi di berbagai wilayah. Langkah ini menjadi penting karena masalah pasokan di lapangan sering kali bukan semata soal stok nasional, tetapi juga kecepatan distribusi ke titik permintaan.
Data yang disampaikan pemerintah menunjukkan ada:
- 125 terminal BBM yang disiagakan.
- 7.888 SPBU yang beroperasi untuk melayani masyarakat.
- 72 DPPU yang turut disiapkan.
- Fasilitas tambahan di wilayah dengan permintaan BBM tertinggi.
Kesiapan infrastruktur ini menjadi kunci saat antrean kendaraan menumpuk di jalan tol, jalur arteri, dan kawasan rest area. Jika distribusi berjalan lancar, peluang terjadinya kelangkaan di tingkat konsumen bisa ditekan meski konsumsi melonjak.
Wilayah pemudik terbesar bakal jadi titik perhatian
Data Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan menunjukkan pemudik paling banyak berasal dari Pulau Jawa. Lima provinsi asal perjalanan terbesar adalah Jawa Barat sebesar 30,97 juta, DKI Jakarta 19,93 juta, Jawa Timur 17,2 juta, Jawa Tengah 16,57 juta, dan Banten 11,17 juta.
Untuk tujuan perjalanan, arus terbesar juga terkonsentrasi di wilayah tertentu. Jawa Tengah menjadi tujuan utama dengan 38,71 juta orang, diikuti Jawa Timur 27,29 juta, Jawa Barat 25,09 juta, DI Yogyakarta 8,20 juta, dan Sulawesi Selatan 5,36 juta.
Konsentrasi arus dari dan menuju daerah-daerah itu membuat kebutuhan BBM tidak tersebar merata. SPBU di koridor tol Trans Jawa, jalur selatan, dan pintu masuk kota tujuan berpotensi mengalami lonjakan transaksi lebih tinggi dibanding wilayah lain.
Waktu puncak arus ikut menentukan pasokan di lapangan
Baketrans memprediksi puncak arus mudik terjadi pada H-3, yaitu Rabu 18 Maret 2026. Sementara puncak arus balik diperkirakan terjadi pada H+6, yakni Jumat 27 Maret 2026.
Dua periode itu biasanya menjadi fase paling rawan kepadatan di SPBU. Permintaan melonjak dalam waktu singkat karena banyak pemudik memilih berangkat dan pulang pada hari yang sama atau berdekatan.
Dalam situasi seperti itu, ketersediaan stok nasional belum tentu langsung mencerminkan kondisi di setiap stasiun pengisian. Karena itu, kesiapan armada distribusi, buffer stock di terminal, dan penambahan layanan di titik padat menjadi faktor yang lebih menentukan bagi pemudik di lapangan.
Apakah 76 juta pengguna mobil akan kebagian bensin?
Berdasarkan data resmi yang sudah dipublikasikan, pasokan BBM untuk masa mudik dinyatakan cukup. Cadangan produk non-subsidi berada pada level puluhan hari, sementara jaringan distribusi juga diperkuat untuk mengantisipasi lonjakan.
Meski begitu, tantangan utamanya ada pada pola konsumsi yang terkonsentrasi dalam waktu singkat dan di jalur tertentu. Artinya, risiko yang lebih realistis bukan kekosongan stok nasional, melainkan kepadatan pembelian di SPBU tertentu saat puncak arus berlangsung.
Bagi pemudik mobil pribadi, kondisi ini menunjukkan bahwa peluang mendapatkan bensin tetap terbuka lebar selama distribusi berjalan normal. Fokus pengawasan pemerintah dan operator energi kini tertuju pada wilayah dengan pergerakan kendaraan tertinggi agar pasokan di SPBU tetap tersedia saat jutaan mobil mulai memenuhi jalan mudik.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: oto.detik.com






