Saat Harga BBM Menyentuh 4 Dolar, Mobil Listrik Mulai Lebih Murah Dari Mobil Bensin

Ketika harga bensin mendekati $4 per galon, hitung-hitungan biaya kepemilikan mobil mulai bergeser. Bloomberg, seperti dikutip Autoblog, menilai titik itu menjadi momen saat total biaya memiliki kendaraan listrik bisa lebih murah daripada mobil bensin.

Perubahan ini penting karena yang membebani konsumen bukan hanya harga beli, tetapi juga biaya harian yang terus menumpuk. Dalam kondisi seperti itu, efisiensi energi EV mulai menutup selisih harga awal yang selama ini membuat banyak pembeli ragu.

Biaya bahan bakar yang cepat membesar

Rata-rata pengemudi di Amerika disebut menempuh sekitar 230 mil per minggu. Dengan mobil bensin yang efisiensinya 28 mil per galon, jarak itu membutuhkan sekitar 8,2 galon dan menghabiskan kira-kira $33 per minggu hanya untuk bahan bakar.

Jika dihitung setahun penuh, pengeluaran di pompa bensin mencapai sekitar $1,700. Pada jarak yang sama, EV yang diisi listrik dengan tarif rata-rata nasional sekitar 16 cents per kWh memerlukan biaya mendekati $370 per tahun.

Selisihnya lebih dari $1,300 per tahun. Angka itu menunjukkan bahwa harga energi harian bisa menjadi faktor penentu yang jauh lebih besar dibanding asumsi lama soal “mobil listrik selalu mahal”.

Mengapa harga gas sulit turun lagi

Autoblog menyoroti bahwa lonjakan harga bensin setelah guncangan besar sering tidak kembali sepenuhnya ke level sebelumnya. Contohnya terlihat pada guncangan minyak era 1970-an yang mengubah kebiasaan konsumen dalam jangka panjang.

Pola serupa muncul lagi saat konflik di Ukraina mendorong harga sempat melampaui $5. Kini, tekanan geopolitik di Timur Tengah dan keterbatasan pasokan mendorong rata-rata nasional ke $3.88 pada pertengahan Maret, atau hampir $1 lebih tinggi dibanding saat konflik dimulai.

Artinya, banyak pembeli mobil tidak sedang menghadapi lonjakan sesaat. Mereka justru berhadapan dengan harga bahan bakar yang berpotensi membentuk “lantai baru” untuk biaya berkendara.

Pasar mobil bekas mulai mengubah perhitungan

Hambatan utama EV selama ini tetap sama, yaitu harga beli awal yang lebih tinggi. Namun pasar mobil listrik bekas mulai memberi ruang baru karena selisih harganya terhadap mobil bensin bekas kini menyempit menjadi $1,334.

Data yang dikutip dari Autoblog juga menunjukkan 18 dari 26 merek EV bekas rata-rata dijual di bawah model bensin setara. Kondisi ini didorong oleh masuknya banyak unit off-lease ke pasar sekunder, yang membuat stok bertambah dan harga turun lebih cepat.

Bagi komuter biasa yang menempuh 230 mil per minggu, kondisi itu membuat pilihan seperti Chevy Bolt atau Nissan Leaf bekas, termasuk yang berada di bawah $20,000, tampak lebih rasional secara finansial. Keputusan itu tidak lagi sekadar soal teknologi atau gaya hidup, tetapi soal biaya total yang benar-benar keluar setiap bulan.

Siapa yang paling terdampak

Masalahnya, kelompok yang paling terpukul oleh bensin mahal justru sering paling sulit beralih ke EV baru. Rumah tangga berpendapatan rendah menghabiskan porsi pendapatan yang lebih besar untuk bahan bakar, tetapi banyak dari mereka belum mampu menanggung premium harga mobil listrik baru.

Situasi itu semakin rumit setelah pemangkasan kredit pajak EV pada tahun lalu. Akibatnya, akses menuju penghematan biaya operasional belum merata, meski secara angka EV mulai terlihat lebih murah dalam jangka panjang.

Perbandingan biaya tahunan

  1. Mobil bensin 28 mpg untuk 230 mil per minggu: sekitar $1,700 per tahun
  2. EV dengan tarif listrik rata-rata nasional 16 cents per kWh: sekitar $370 per tahun
  3. Potensi penghematan tahunan: lebih dari $1,300
  4. Selisih harga EV bekas vs mobil bensin bekas: $1,334

Perhitungan itu memperlihatkan mengapa harga gas $4 per galon menjadi ambang psikologis sekaligus ekonomis. Saat biaya bahan bakar bertahan tinggi dan pasar EV bekas terus melemahkan harga masuk, banyak pembeli mulai melihat listrik sebagai pilihan yang lebih masuk akal daripada sekadar alternatif ramah lingkungan.

Exit mobile version