BYD membukukan laba bersih setahun penuh sebesar 32,62 miliar yuan atau $4,72 miliar pada periode pelaporan terbaru, turun 19% dibandingkan tahun sebelumnya. Tekanan utama datang dari perang harga kendaraan listrik di pasar domestik yang terus menekan margin produsen mobil.
Meski laba melemah, pendapatan tahunan masih tumbuh 3,46% menjadi 803,97 miliar yuan. Namun, angka itu tetap di bawah konsensus pasar sebesar 836,26 miliar yuan, sehingga menunjukkan perlambatan momentum penjualan di tengah persaingan industri yang makin ketat.
Tekanan Harga di Pasar Domestik
BYD menyebut industri NEV China masih menghadapi tantangan berat pada tahun berjalan. Persaingan harga yang berkepanjangan membuat banyak produsen harus mengorbankan profit demi mempertahankan pangsa pasar.
Perusahaan juga menilai pasar otomotif domestik berada dalam fase “knockout stage” yang brutal. Dalam kondisi seperti ini, efisiensi biaya dan kekuatan merek menjadi faktor penentu untuk bertahan.
Berikut beberapa data kunci dari kinerja BYD yang paling menonjol:
- Laba bersih: 32,62 miliar yuan, turun 19%.
- Pendapatan: 803,97 miliar yuan, naik 3,46%.
- Penjualan NEV: 4.602.436 unit, naik 7,73%.
- Ekspor NEV: 1,05 juta unit, naik 1,4 kali lipat.
- Belanja riset dan pengembangan: 63,4 miliar yuan, naik 17%.
Margin Menyempit, Biaya Produksi Tertekan
Penurunan laba BYD terutama disebabkan penyusutan margin kotor. Laporan tahunan menunjukkan margin kotor keseluruhan turun menjadi 17,74% dari 19,44% pada periode sebelumnya.
Penyebabnya berasal dari pergeseran bauran produk dan tekanan harga di pasar domestik. Kondisi itu memaksa produsen untuk menjaga volume penjualan sambil menerima marjin yang lebih tipis.
Kinerja bisnis otomotif dan produk terkait masih menjadi tulang punggung utama perusahaan. Segmen ini menyumbang 648,65 miliar yuan, naik 5,06% dan setara 80,68% dari total pendapatan tahunan.
Sebaliknya, bisnis komponen dan perakitan handset mobile justru melemah. Pendapatannya turun 2,74% menjadi 155,24 miliar yuan, sehingga kontribusinya terhadap pertumbuhan grup menjadi lebih terbatas.
Ekspor Jadi Penopang Baru
Di tengah tekanan pasar dalam negeri, ekspansi luar negeri mulai memberi bantalan penting bagi BYD. Untuk pertama kalinya, ekspor kendaraan energi baru perusahaan menembus 1 juta unit dalam setahun.
Capaian tersebut memperkuat posisi bisnis internasional sebagai mesin pertumbuhan baru. BYD bahkan menargetkan penjualan 1,3 juta kendaraan di pasar luar negeri pada tahun mendatang, atau naik sekitar 24%.
Tren ini penting karena pasar luar negeri cenderung memberi ruang harga yang lebih sehat dibanding pasar domestik yang sangat kompetitif. Jika ekspansi berjalan lancar, kombinasi volume ekspor dan efisiensi produksi dapat membantu menstabilkan laba.
Investasi Teknologi Tetap Digenjot
Meski profit tertekan, BYD tetap agresif berinvestasi pada inovasi. Belanja riset dan pengembangan mencapai 63,4 miliar yuan, naik 17% dan mencerminkan strategi jangka panjang perusahaan untuk menjaga keunggulan teknologi.
Dalam pengembangan produk, BYD juga memperkenalkan Blade Battery generasi kedua dan teknologi pengisian super cepat. Teknologi ini memungkinkan pengisian daya dari 10% ke 70% dalam lima menit, sebuah langkah yang dapat memperkuat daya saing kendaraan listriknya.
Perusahaan berencana membangun 20.000 stasiun flash-charging di seluruh China hingga akhir tahun depan. Upaya ini menunjukkan bahwa BYD tidak hanya bertahan dari perang harga, tetapi juga berupaya mengubah persaingan menjadi keunggulan teknologi dan infrastruktur.
