Mobil Listrik China Kuasai RI, ISEAI Peringatkan Ujian Kedaulatan Industri Nasional

Gelombang mobil listrik asal China kini terasa makin kuat di pasar Indonesia. Laporan riset Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) menilai arus ini bukan sekadar persaingan dagang, melainkan ujian besar bagi kedaulatan industri nasional karena China bergerak dari penjualan kendaraan hingga penguasaan rantai pasok bahan baku.

Tekanan itu terlihat dari perubahan pasar yang cukup tajam. Penjualan kendaraan berbasis mesin pembakaran internal turun sekitar 11 persen, sementara adopsi kendaraan listrik melonjak 49 persen pada periode yang sama, dengan sekitar 90 persen pasar mobil listrik nasional dikuasai merek asal China.

Dominasi pasar yang makin nyata

Data penjualan menunjukkan posisinya semakin sulit dibantah. Hingga 2025, BYD mencatat penjualan 31.046 unit, disusul Chery 16.667 unit, dan Wuling 15.728 unit, sedangkan total penjualan mobil listrik nasional mencapai 82.525 unit.

Riset yang disusun Ronny P. Sasmita, Delly Ferdian, dan Antoni Putra menyebut fenomena ini sebagai transformasi struktural, bukan sekadar perubahan selera konsumen. Mereka menilai strategi produsen China berjalan sangat rapi karena menyentuh produksi, distribusi, hingga penguasaan material penting untuk baterai.

“Fenomena ini bukan sekadar perubahan preferensi konsumen, melainkan manifestasi dari strategi integrasi vertikal yang cukup canggih,” tulis para peneliti dalam riset tersebut.

Rantai pasok menjadi pusat pertarungan

Kekuatan China tidak hanya hadir di ruang pamer dan jalan raya. Di balik itu, ada penguasaan rantai pasok yang membuat produsen mereka lebih siap menghadapi persaingan harga dan produksi.

Indonesia memegang peran penting karena memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. Produksi nikel Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 2,3 juta ton atau sekitar 70 persen dari pasokan global, sehingga sektor ini menjadi incaran utama dalam ekosistem kendaraan listrik.

ISEAI mencatat investor China diperkirakan mengendalikan sekitar 75 persen kapasitas pengolahan nikel di Indonesia. Kondisi itu membuat Indonesia menjadi basis penting rantai pasok baterai kendaraan listrik, tetapi sekaligus memunculkan pertanyaan besar tentang posisi tawar nasional.

Risiko bagi industri nasional

Kondisi ini memberi keuntungan biaya bagi produsen mobil listrik China. Dengan bahan baku dan proses hilir yang terkoneksi, mereka bisa menawarkan produk lebih murah dibanding banyak pesaing dari Jepang maupun Eropa.

Perubahan besar ini juga menggeser peta persaingan kawasan. Jepang yang lama memimpin pasar mobil konvensional kini menghadapi tekanan serius, sementara Korea Selatan yang sempat lebih dulu agresif di kendaraan listrik ikut terdesak oleh strategi harga China yang lebih agresif.

ISEAI menilai dominasi yang terlalu kuat dapat memunculkan risiko struktural. Indonesia berisiko hanya menjadi pasar dan penyedia bahan baku, tanpa menguasai teknologi inti atau nilai tambah yang signifikan.

Beberapa risiko utama yang disorot riset tersebut antara lain:

  1. Ketergantungan jangka panjang pada teknologi dan modal asing.
  2. Potensi hilangnya relevansi hilirisasi nikel jika tren baterai berubah.
  3. Tekanan lingkungan akibat rantai industri yang masih bergantung pada energi berbasis batu bara.

Isu teknologi baterai dan standar hijau

Tantangan lain datang dari arah teknologi global. Tren baterai lithium iron phosphate atau LFP yang tidak menggunakan nikel mulai menguat, terutama di kalangan produsen China.

Jika pergeseran ini terus meluas, investasi besar Indonesia pada hilirisasi nikel bisa menghadapi risiko penurunan relevansi. Pada saat yang sama, industri nikel domestik juga masih dituntut memenuhi standar lingkungan global agar produk dan rantainya tetap diterima di pasar ekspor utama.

Kondisi ini penting karena banyak negara Barat kini makin ketat menilai jejak emisi, penggunaan energi, dan keberlanjutan rantai pasok. Jika industri nasional tertinggal dalam aspek itu, akses pasar bisa ikut menyempit.

Peluang tetap terbuka jika kebijakan tepat

Di tengah risiko tersebut, peluang masih besar. Investasi dari luar telah memicu pertumbuhan kawasan industri, membuka lapangan kerja, dan mempercepat adopsi kendaraan listrik di dalam negeri.

ISEAI memproyeksikan Indonesia berpotensi menjadi basis produksi dan ekspor kendaraan listrik dengan kapasitas yang dapat menembus lebih dari satu juta unit dalam beberapa tahun ke depan. Namun capaian itu sangat bergantung pada arah kebijakan industri, mulai dari penguatan teknologi lokal sampai keberanian menaikkan porsi komponen dalam negeri.

Para peneliti ISEAI menegaskan bahwa ukuran keberhasilan tidak cukup dilihat dari banyaknya mobil listrik asing yang terjual di pasar domestik. Yang lebih penting ialah seberapa besar nilai tambah, penguasaan teknologi, dan kedaulatan industri yang benar-benar bisa dinikmati Indonesia di tengah persaingan global kendaraan listrik.

Terkait