CATL kini menegaskan posisinya sebagai penguasa pasar baterai mobil listrik di China setelah mencatat pangsa 50,1 persen pada kuartal pertama. Angka ini menempatkan produsen baterai asal China itu di atas separuh pasar domestik, berdasarkan data China Passenger Car Association atau CPCA.
Lonjakan tersebut penting karena pasar kendaraan listrik China terus berkembang, tetapi tetap menghadapi tekanan dari perubahan kebijakan dan pergeseran preferensi teknologi. Di saat sejumlah segmen mengalami perlambatan, CATL justru mampu memperlebar jarak dari para pesaingnya lewat kombinasi skala produksi, portofolio teknologi, dan kekuatan rantai pasok.
Dominasi yang Makin Kokoh
CPCA mencatat total produksi baterai kendaraan listrik di China mencapai 310 GWh dalam dua bulan pertama. Volume itu naik sekitar 22 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, menandakan industri baterai masih bergerak dalam jalur ekspansi yang kuat.
Sekretaris Jenderal CPCA, Cui Dongshu, menyebut angka tersebut sebagai gambaran bahwa produksi kendaraan listrik tetap tumbuh, meski pasar tidak bergerak seragam di semua lini. Kondisi ini membuat persaingan antarpabrikan baterai semakin bergantung pada efisiensi produksi dan kemampuan menyesuaikan jenis baterai dengan kebutuhan kendaraan.
Pada periode yang sama, CATL mempertahankan posisi teratas di berbagai ukuran pasar. Kekuatan itu tidak hanya muncul dari volume produksi, tetapi juga dari kemampuan perusahaan membaca arah pasar dan menguasai dua teknologi baterai utama secara bersamaan.
Tekanan di Pasar NEV Masih Terasa
Laporan pasar menunjukkan pada Februari jumlah pemasangan baterai untuk kendaraan energi baru atau NEV berada di kisaran 370.000 unit. Angka tersebut mencakup 236.000 mobil listrik murni atau BEV, 100.000 plug-in hybrid atau PHEV, serta 27.000 truk listrik.
Pergerakan ini juga memperlihatkan adanya penyesuaian permintaan di beberapa segmen. Salah satu faktor yang disebut memengaruhi pelemahan itu adalah penghapusan bertahap subsidi pemerintah, yang membuat sebagian konsumen dan pelaku industri menahan laju pembelian.
Berikut gambaran singkat komposisi pemasangan baterai NEV pada periode tersebut:
- BEV: 236.000 unit
- PHEV: 100.000 unit
- Truk listrik: 27.000 unit
Meski ada penurunan di beberapa kategori, pasar secara keseluruhan belum kehilangan momentum. Produsen yang memiliki skala besar dan fleksibilitas teknologi tetap berada dalam posisi paling diuntungkan.
Kuat di NMC, Menguat di LFP
CATL juga menonjol di baterai ternary NMC, salah satu jenis baterai dengan kepadatan energi tinggi. Pangsa pasar perusahaan di segmen ini mencapai 81,6 persen, jauh di atas kompetitor utama.
Keunggulan tersebut berkaitan dengan pergeseran strategi beberapa pesaing, termasuk BYD yang mulai fokus penuh pada baterai lithium iron phosphate atau LFP. Perubahan arah itu memberi ruang lebih besar bagi CATL untuk mempertahankan dominasi di baterai NMC, terutama pada kendaraan yang membutuhkan karakter performa lebih tinggi.
Di saat yang sama, CATL tidak hanya bertumpu pada satu jenis teknologi. Pada kuartal pertama, pangsa pasar baterai LFP perusahaan itu mencapai 41 persen, level tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Mengapa Penguasaan Dua Segmen Ini Penting
Penguasaan di NMC dan LFP memberi CATL posisi yang sulit digeser. Pasar EV China kini menuntut baterai yang tidak hanya kuat dari sisi daya jelajah, tetapi juga efisien dari sisi biaya produksi dan keamanan penggunaan.
Kondisi tersebut membuat produsen yang mampu menyeimbangkan dua kebutuhan itu punya peluang lebih besar menguasai pasar. CATL terlihat berhasil memakai strategi diversifikasi untuk melayani berbagai jenis kendaraan, mulai dari model premium hingga kendaraan yang menekan ongkos produksi.
Selain itu, sekitar 15 persen baterai yang digunakan di kendaraan pada periode tersebut memiliki kepadatan energi di atas 160 Wh/kg. Sebagian besar lainnya berada di rentang 125 hingga 160 Wh/kg, yang masih menjadi standar umum kendaraan listrik saat ini.
Dalam konteks persaingan industri, pencapaian CATL menunjukkan bahwa pasar baterai China belum hanya ditentukan oleh volume penjualan. Keberhasilan juga bergantung pada kemampuan memimpin transisi teknologi, menjaga pasokan, dan merespons cepat perubahan permintaan di tengah pergeseran kebijakan dan strategi produsen kendaraan listrik.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.liputan6.com






