Mesin Boxer Subaru Dibelah Jadi Inline-Four, Hasil Racikan Garage 54 Bikin Geleng Kepala

Garage 54 kembali menarik perhatian pecinta otomotif lewat proyek yang terdengar mustahil sekaligus menghibur: mengubah mesin boxer empat silinder Subaru menjadi mesin inline-four. Langkah ini membuat karakter khas Subaru dipaksa keluar dari pakem, karena konfigurasi boxer yang identik dengan dua bank silinder berlawanan justru dipotong dan disusun ulang menjadi sejajar.

Proyek tersebut bukan sekadar eksperimen visual, melainkan pekerjaan mekanis yang sangat rumit. Dari informasi yang dibagikan Garage 54 lewat YouTube dan dilaporkan The Drive, tim mengawali proses dengan membelah mesin boxer menjadi dua bagian, lalu menempatkan kedua bank silinder itu berdiri berdampingan agar membentuk susunan inline-four.

Dari Boxer Menjadi Inline, Apa yang Diubah?

Dalam mesin boxer Subaru, piston bergerak saling berlawanan secara horizontal. Pada proyek ini, Garage 54 memindahkan orientasi itu sehingga kedua sisi mesin berubah menjadi satu garis lurus, persis seperti konfigurasi empat silinder segaris yang umum dipakai banyak mobil lain.

Langkah awal itu saja sudah menuntut penyesuaian besar. Pompa air bawaan yang semula menempel pada satu bank silinder kini dipakai sebagai penanda sisi depan mesin baru, dan perubahan posisi tersebut ternyata membuka jalan bagi penggunaan timing belt Toyota 1JZ yang disebut pas untuk kebutuhan proyek ini.

Komponen Lama Disatukan Lagi

Setelah bodi utama dirombak, tantangan berikutnya muncul pada bagian internal mesin. Karena inline-four hasil rakitan ini menjadi dua kali lebih panjang dibanding boxer asli, Garage 54 menggunakan blok mesin kedua sebagai sumber crankcase tambahan, lalu mengelasnya ke crankcase dari mesin pertama.

Proses serupa juga diterapkan pada kepala silinder. Dua head standar digabungkan menjadi satu rangkaian baru agar sesuai dengan bentuk mesin yang memanjang. Pendekatan ini menunjukkan bahwa proyek tersebut tidak mengandalkan pembuatan satu komponen baru dari nol, melainkan memadukan dua mesin donor dengan metode potong dan sambung.

Rangkaian Putar Juga Harus Diakali

Bagian paling sensitif dari mesin tentu ada pada komponen berputar. Garage 54 membuat camshaft dari dua cam bawaan pabrik yang disambung ujung ke ujung, lalu diatur agar tetap mempertahankan timing standar.

Crankshaft juga disusun dengan cara yang sama. Dua crank asli disatukan menggunakan tab buatan khusus, sebuah langkah yang kedengarannya sederhana namun sangat sulit saat perakitan. Masalahnya, tidak ada penahan alami seperti pada mesin inline-four konvensional ketika bagian atas dan bawah mesin disatukan.

Tantangan Teknis yang Muncul

Proyek ini juga menciptakan masalah baru pada sistem pelumasan. Karena desain potong-sambung tersebut, mesin hasil modifikasi ini tidak lagi memiliki satu oil pan di bagian bawah. Sebagai gantinya, ada dua oil pan di sisi kiri dan kanan.

Kondisi itu berarti masih banyak pekerjaan lanjutan sebelum mesin benar-benar bisa dipakai secara ideal. Menurut laporan sumber, bagian intake, exhaust manifold, plumbing, dan pulley juga masih masuk daftar pekerjaan berikutnya, meski mesin sudah berhasil dirakit penuh dan bisa berputar.

Mengapa Subaru Boxer Dibedah?

Bagi penggemar Subaru, langkah ini mungkin terasa seperti pembangkangan terhadap identitas merek. Boxer-four telah lama menjadi salah satu ciri paling khas Subaru, selain sistem penggerak all-wheel drive yang juga melekat kuat pada citra merek Jepang tersebut.

Namun Garage 54 memang dikenal sebagai kanal yang suka menguji batas logika teknik otomotif. Berikut beberapa proyek ekstrem mereka yang sebelumnya mencuri perhatian:

  1. Membuat mesin diesel berjalan dengan bensin.
  2. Membangun V16 dari mesin gergaji mesin.
  3. Mengubah mesin boxer Subaru menjadi inline-four.

Kombinasi antara eksperimen liar dan pengerjaan mekanis yang nyata membuat proyek ini menonjol di tengah konten otomotif biasa. Hasil akhirnya belum menjadi mesin siap pakai sepenuhnya, tetapi fakta bahwa mesin tersebut sudah menyala dan berputar saja sudah cukup untuk menunjukkan tingkat kesulitan yang berhasil mereka taklukkan.

Bagi dunia otomotif, proyek seperti ini bukan untuk efisiensi atau produksi massal, melainkan untuk menunjukkan sejauh mana sebuah mesin bisa dibongkar, dipahami, lalu dibentuk ulang dengan pendekatan ekstrem yang tetap masuk akal secara mekanis.

Exit mobile version